BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bimbingan bukan lagi suatu tindakan yang bersifat
hanya mengatasi setiap krisis yang dihadapi oleh anak, tetapi juga merupakan
suatu pemikiran tentang perkembangan anak sebagai pribadi dengan segala
kebutuhan, minat dan kemampuan yang harus berkembang.
Masalah-masalah anak yang timbul
biasanya berhubungan dengan ruang lingkup anak itu sendiri, mulai dari
keluarga, sekolah dan masyarakat. Dalam terjadinya pergeseran peran dalam
keluarga. Permasalahan yang timbul dari anak adalah permasalahan dengan orang
tua, dengan saudara, penyesuaian dengan norma dalam keluarga dan konflik dengan
tuntutan orang tua.
Anak sekolah dasar pada umumnya masih
memerlukan bimbingan, dukungan, arahan, perhatian dari orang tua untuk menyelesaikan
tugas perkembangan selama rentang usia anak. Orang tua mempunyai tugas untuk
merawat serta menjaga anaknya. Dalam pergaulan anak sekarang ini, banyak
membawa dampak negatif bagi anak, dampak negatif tersebut bisa mengakibatkan
gangguan psikologis pada anak yang bersifat biasa hingga serius.
Masalah psikologis biasa disebut
gangguan kesehatan jiwa dalam taraf ringan. Kita biasa mengalaminya dalam
keseharian. Mungkin juga kita tidak mengetahui kalau hal tersebut merupakan
terjadinya indikasi terjadinya gangguan psikologis. Memang, masalah psikologis
ringan (rasa rendah diri, kuatir yang berlebihan, kurang percaya diri, mudah
marah) harus segera ditangani. Jika pemasalahan itu dianggap sebagai hal yang
biasa maka dikhawatirkan akan mengganggu kesehatan jiwa.
Masalah psikologis pada anak ini
bisa timbul karena tidak adanya pemenuhan kebutuhan pokok kejiwaan yang tidak
terpenuhi (kebutuhan akan kasih sayang) dan pengaruh proses pertumbuhan dan
perkembangan pada anak.
B. Rumusan Masalah
1.
Apakah
pemalu itu?
2.
Bagaimana
ciri-ciri anak pemalu?
3.
Bagaimana
dampak sikap pemalu terhadap perkembangan anak?
4.
Apa
saja penanganan yang baik untuk anak pemalu?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini,
di antaranya:
1.
Mengetahui
dan memahami karakteristik anak pemalu.
2.
Untuk
mengetahui apa saja faktor penyebab anak menjadi pemalu.
3.
Memahami
dampak yang ditimbulkan dari perilaku pemalu terhadap perkembangan anak.
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Anak Pemalu
Anak pemalu biasanya mempunyai rasa
gelisah terhadap dirinya sendiri. Ia malu atas pandangan orang lain mengenai
dirinya. Ada sebagian yang mengatakan ada sesuatu yang “aneh”, “hati-hati”,
“curiga” dan lain sebagainya yang membuat anak tersebut menjadi malu dan
cenderung mengurung diri. Secara umum, manusia memang dilahirkan dengan rasa
malu, namun bila perasaan itu mulai berubah menjadi rasa takut yang berlebihan,
ini akan menjadikan suatu fobia, yaitu takut mengalami tekanan dari orang lain
atau takut menghadapi masyarakat atau orang banyak.
Biasanya anak yang pemalu akan
cenderung untuk menghindari keramaian dan takut untuk bergaul dengan temannya. Anak
yang mempunyai permasalahan ini akan menyulitkan guru dalam mendeteksinya,
karena biasanya anak yang pemula ini tidak sering berbuat onar dalam kelas.
Permasalahan ini akan sangat mengganggu perkembangan kehidupan anak. Untuk
menghadapi anak yang demikian, sebaiknya anak diberi kesempatan untuk
introspeksi diri, memberikan kepercayaan kepadanya, membuatkan jaringan sosial
yang lebih luas untuknya dan membangun rasa percaya dirinya.
B. Ciri-Ciri Anak Pemalu
Sikap pemalu pada anak bisa dikatakan wajar apabila
ditunjukan dengan proporsisi yang cukup. Apabila tanda-tanda pemalu ditunjukan
anak dengan sikap yang berlebihan, hal itu perlu diwaspadai, baik oleh orang tua
maupun pendidik atau guru.
Biasanya anak menunjukkan rasa malu
pada seseorang yang belum dikenal. Pada umur 5 tahun rasa malu juga ditunjukkan
pada saat seseorang akan memberikan penilaian terhadap tingkah lakunya.
Ciri-ciri lain yang lebih spesifik
dari sifat pemalu tampak dari perilaku anak sebagai berikut:
1.
Menghindari
kontak mata dengan orang lain.
Hal ini tampak ketika anak melihat
kita sekilas dan saat kita memperhatikannya, maka dengan buru-buru anak akan
mengalihkan pandangannya ke arah lain. Hal lainnya adalah ketika kita mengajak
anak berbicara, anak terkesan menunduk dan tidak memperhatikan kita.
2.
Tidak
banyak bicara
Dalam hal ini, jika ada seseorang
yang mengajukan pertanyaan, anak hanya akan menjawab antara “ya atau tidak”.
Untuk anak yang lebih ekstrim, ketika ditanya anak hanya akan mengangguk dan
menggeleng.
3.
Tidak
memiliki keberanian untuk tampil di muka umum
Apabila anak tampil di muka umum, ia
akan mengalami demam panggung, yang ditandai dengan timbulnya gejala gemetar,
berkeringat, dan lainnya.
C. Faktor Penyebab Anak Menjadi Pemalu
Menurut Gunarsah (2001:12) bahwa faktor-faktor
yang menyebabkan sifat pemalu yakni
keadaan fisik, kesulitan dalam berbicara, kurang terampil dalam berteman, harapan orang tua terlalu
tinggi, pola asuh yang mencela, unsur
keturunan, masa kanak-kanak kurang gembira, kurang bermasyarakat,
perasaan rendah diri, dan pandangan orang lain.
Keadaan fisik menyebabkan sifat
pemalu, sebab anak yang sering sakit
kurang mempunyai peluang melakukan berbagai aktivitas. Baik aktivitas
dalam gerak motorik, sosial maupun
aktivitas lainnya. Anak sering sakit tentu saja membuat ruang gerak akan
menjadi terbatas dan anak tidak bebas bermain seperti anak yang sehat lainnya. Kelainan
fisik juga dapat menumbuhkan rasa malu pada anak.
Kesulitan berbicara menyebabkan anak
menjadi pemalu. Anak yang tidak
jelas mengungkapkan bahasanya sering mengalami kesulitan dalam
bergaul dengan teman atau orang dewasa
lain. Kurang terampil dalam berteman juga dapat menyebabkan sifat pemalu pada
anak.
Faktor lain yang dapat mempengaruhi
sifat pemalu adalah masa kanak-kanak kurang gembira. Ada sebagian anak yang
mengalami hal-hal yang kurang
menyenangkan pada masa kanak-kanaknya. Misalnya, orang tua sering
berpindah-pindah, orang tua bercerai, orang tua meninggal, dipaksa pindah
sekolah atau dihina oleh teman dan
sebagainya. Semua pengalaman itu mengakibatkan
terganggunya hubungan sosial mereka dengan lingkungan, suka menghindar atau mundur dan tidak berani bergaul dengan orang
yang tidak dikenal.
Sifat pemalu juga dapat disebabkan
oleh perilaku kurang bermasyarakat. Anak
yang hidup dengan latar belakang di mana ia diabaikan oleh orang tuanya atau dibesarkan dalam lingkungan keluarga
yang mengasingkan diri, terlalu dikekang
sehingga mereka tidak dapat mengalami hubungan sosial yang normal dengan
masyarakat. Begitu juga dengan sikap rendah diri yang dapat menyebabkan sikap
pemalu. Anak menganggap dirinya tidak sebanding dengan orang lain, tetapi
sebaliknya menghargai dirinya lebih rendah dari pada semua orang secara umum.
Karena menganggap dirinya tidak sebanding dengan orang lain, anak akan bersikap
hati-hati terhadap semua hal dan konservatif.
Faktor terakhir yang menyebabkan
anak memiliki sifat pemalu, yakni
pandangan orang lain. Banyak anak menjadi pemalu karena pandangan orang
lain yang telah merasuk dirinya sejak kecil. Mungkin orang dewasa sering mengatakan bahwa ia pemalu, bahkan guru dan teman-temannya
juga berpendapat sama, sehingga akhirnya ia benar-benar menjadi seorang pemalu.
D. Dampak Sikap Pemalu Terhadap Perkembangan Anak
Pada umumnya, sikap pemalu lebih umum terjadi pada
anak perempuan dari pada anak laki-laki terutama sewaktu anak tumbuh besar.
Dampak yang dapat ditimbulkan oleh sifat pemalu di antaranya adalah:
1.
Kehilangan
keberanian dalam mengemukakan pendapat.
2.
Anak
pemalu dapat mengalami krisis eksistensi dalam kelompok sebaya.
3.
Anak
tidak terlihat atau dikenal oleh teman-temannya.
4.
Anak
menjadi kurang kreatif karena tidak memiliki kepercayaan diri untuk menunjukkan
potensi dirinya.
E. Cara Mengatasi Anak
Pemalu
Ada
beberapa cara untuk menangani anak pemalu, di anataranya sebagai berikut:
1.
Memberi pujian yang dapat memotivasi anak. Jika kita memberi pujian kepada anak yang pemalu, ia
akan lebih bisa untuk mengekspresikan dirinya.
2.
Memberikan kesempatan untuk menjawab pertanyaan. Jika kita sedang bertanya sesuatu, usahakan untuk
mendengarkan dan menanggapi anak dengan benar. Ini juga untuk melatih kemampuan
bahasanya agar lebih baik.
3.
Mendorong anak untuk berani menghadapi dunia luar
dengan percaya diri. Mendorong
seorang anak pemalu untuk berani menghadapi dunia luar tidak bisa dilakukan
secara tiba-tiba (drastis). Misalnya, ketika orang tua sudah mencapai titik
jenuh dalam melindungi anak dan bingung melihat anaknya hingga usia sekian
tahun masih enggan untuk bergaul dengan sebayanya, kemudian memaksa anak untuk
berbaur dalam lingkungan sosial. Perubahan sikap orang tua yang demikian bisa
menjadi tekanan tersendiri bagi anak, karena yang biasanya aman dalam lindungan
orang tua, tiba-tiba orang tua berubah melepaskan dan “tidak mau melindungi”.
Mendorong anak (encourage) tidak sama
dengan memaksa (push), usaha yang
tiba-tiba bukanlah mendorong, tetapi memaksa. Perasaan terpaksa akan membuat
keadaan bertambah buruk karena anak ditempatkan pada keadaaan yang melebihi
batas toleransinya, sehingga anak bisa jadi semakin menarik diri.
4.
Mendukung kepercayaan diri dan sikap yang wajar. Anak sebaiknya didukung dan dipuji untuk kepercayaan
dirinya dan tindakannya yang wajar. Ajari anak untuk jadi dirinya sendiri dan mengekspresikan
pendapatnya secara terbuka.
5.
Menyediakan agen sosialisasi untuk anak. Memasangkan satu atau dua orang teman yang memungkinkan
menjadi teman bermain bagi anak. Selanjutnya, perkenalkan anak untuk bermain
dalam kelompok yang lebih besar.
6.
Membuat kegiatatan yang merangsang anak untuk
berinteraksi. Anak yang
kurang komunikatif dapat didorong untuk berkomunikasi melalui gambar, karena
pada umumnya anak lebih senang mendiskusikan hal-hal yang ada kaitannya dengan
gambar. Selain itu, rancanglah kegiatan-kegiatan lain. Misalnya, menggambar
bersama dalam satu kertas atau bermain pesan berantai.
BAB III
PEMBAHASAN
A. Identifikasi Peserta Didik
1. Keterangan Pribadi
a.
Nama : Nadia
Clarissa Putri
b.
Jenis
Kelamin :
Perempuan
c.
Tempat,
Tanggal Lahir : 29 Juni 2005
d.
Usia : 10 Tahun
e.
Alamat : Kp. Cilulumpang
RT001/009 Des. Kerta Mukti Kec. Warungkiara Kab. Sukabumi
f.
Agama : Islam
g.
Sekolah : SDN 01 Sukabakti
h.
Kewarganegaraan :
Indonesia
i.
Anak
ke : 1
j. Jumlah Saudara
Kandung : 1
k.
Jumlah
Saudara Tiri : -
l. Jumlah Saudara
Angkat :
-
m. Status Anak : Kandung
n.
Bahasa
Sehari-hari : Indonesia-Sunda
2.
Keterangan
Orang Tua
a.
Nama
Ayah :
Parman Rusyandi
b.
Nama
Ibu :
Tuti Rohayati
c.
Alamat : Kp.
Cilulumpang RT001/009 Desa Kerta Mukti Kec. Warungkiara Kab. Sukabumi
d.
Tempat,
Tanggal Lahir ayah : Sukabumi, 01
Agustus 1974
e.
Tempat,
Tanggal Lahir Ibu : Sukabumi,
12 Maret 1981
f.
Pekerjaan
Ayah :
Karyawan
g.
Penghasilan
Perbulan (Ayah) : Rp. 2.000.000
h.
Pekerjaan
Ibu : Karyawan
i.
Penghasilan
Perbulan (Ibu) : Rp. 2.000.000
j.
Pendidikan
Terakhir Ayah : SMA
k.
Pendidikan
Terakhir Ibu : SMP
l.
Keterangan
Ayah/Ibu : Indonesia
3.
Lingkungan
Tempat Tinggal
a. Sangat Baik : -
b. Baik : Baik
c. Cukup : -
d. Kurang : -
Nadia
Clarissa Putri, dilahirkan di Sukabumi, Jawa Barat, pada tanggal 29 Juni 2005.
Ia merupakan anak pertama dari satu bersaudara, pasangan Parman Rusyandi dan
Tuti Rohayati. Nadia merupakan anak berprestasi di sekolahnya. Ia tak pernah
absen dari peringkat sepuluh besar di kelas. Namun, dibalik kelebihan yang
dimilikinya, Nadia memiliki suatu kekurangan (baca: perilaku pemalu) yang
mengakibatkan terganggunya hubungan sosial dengan teman sebayanya. Ia kerap
kali menarik diri jika sudah berada dalam lingkungan sekolah dan di luar
sekolah. Selain pintar dalam bidang akademik, Nadia juga memiliki kelebihan
lain, yakni membuat sebuah bros dari bahan yang sudah tidak dipakai: tutup
galon.
B.
Sintesis
Nadia
merupakan anak pemalu. Ia selalu menghindari kontak mata jika bertemu dengan
orang yang tidak dikenal. Ketika saya bertemu dengannya, Nadia cenderung
menghindar, ia seakan enggan untuk bertemu dengan saya. Padahal kami
bertetangga. Jarak kediaman kami hanya terpisah oleh tiga rumah. Sejak awal
kepindahan Nadia ke kampung Cilulumpang, ia jarang keluar rumah, bermain dengan
teman sebaya, dan terlibat dalam acara rutin (baca: Pidato) setiap memperingati
Maulid Nabi. Bahkan ketika saya mengajaknya berbicara, Nadia lebih banyak
menunduk dan menjawab seadanya. Hal ini berlanjut hingga hari ketiga saya
menemui Nadia di rumahnya.
Memasuki
lingkungan sekolah Nadia, saya mencoba bertanya pada wali kelasnya, yakni Bapak
Iik Suparman. Beliau menjelaskan perilaku Nadia di sekolah. Selama proses pembelajaran
Nadia cenderung pasif. Bentuk interaksi dengan teman sekelasnya pun kurang.
Nadia selalu tidak percaya diri ketika harus berhadapan dengan lingkungan
sosial, termasuk bermain dengan sebayanya.
Rasa malu yang dihadapi Nadia disebabkan
karena orang tua terlalu sibuk dengan pekerjaannya, yang bermuara pada
kehidupan anak itu sendiri, di mana ia sering diabaikan oleh orang tuanya.
Sehingga tidak dapat mengalami hubungan sosial yang normal dengan masyarakat.
Selain itu, disebabkan juga karena mengalami masa kanak-kanak kurang gembira.
Bentuk rasa malu yang dimiliki Nadia; tidak berani tampil di depan umum, suka
menghindar atau mundur dalam bergaul dengan orang yang baru dikenal.
C. Diagnosis
Setelah saya melakukan pengamatan
terhadap perilaku Nadia, dapat disimpulkan bahwa sikap pemalu dalam diri Nadia disebabkan
oleh beberapa faktor, di antarnya:
1.
Masa kanak-kanak kurang gembira. Pengalaman yang kurang menyenangkan pernah dihadapi
Nadia pada masa kanak-kanaknya. Kedua orang tuanya sempat berpindah-pindah
rumah. Selain itu, Nadia juga pernah mengalami suatu peristiwa, di mana ia
dihina oleh temannya saat duduk di kelas dua.
2.
Kurang bersosialisasi dengan kawan bermain di sekolah
dan di luar sekolah.
Hal ini disebabkan karena anak tidak mendapat kasih sayang yang penuh dari
orang tuanya. Sehingga anak tersebut memiliki kesulitan untuk mengembangkan dan
membina hubungan sosial dan sulit membina persahabatan dengan anak lainnya.
3.
Kemampuan berkomunikasi yang kurang baik. Kemampuan berkomunikasi sangat penting dalam menunjang
hubungan baik dengan orang lain. Apabila anak memilki kesulitan, tentunya akan
menghambat bentuk interaksi anak dengan sebayanya. Hal ini terjadi karena orang
tua tidak memiliki waktu yang cukup untuk anak, sehinnga anak tersebut
mengalami kesulitan dalam mengungkapkan sesuatu.
Permasalah Nadia masih berada dalam kategori ringan.
Dalam kesaharian, Nadia tidak menunjukan gejala yang aneh. Ia masih dapat
berkomunikasi, dan berfikir sesuai nalarnya. Sifat pemalu dalam diri Nadia
timbul sejak dirinya masih kanak-kanak. Sejauh yang saya amati, perilaku ini
bukan hanya disebabkan karena masa kanak-kanak Nadia yang kurang menyenangkan,
melainkan orang tua tidak memberikan perhatian yang penuh, serta dibesarkan
dalam lingkungan keluarga yang mengasingkan diri dari lingkungan. Ketika orang
tua Nadia bekerja, ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan adik dan neneknya
di rumah.
Anak pemalu sering menghindari orang lain dan biasanya
mudah merasa takut, curiga, hati-hati, dan ragu-ragu dalam melakukan sesuatu. Mereka
umumnya menarik diri dalam berhubungan dengan orang lain. Menurut pandangan
saya, anak pemalu cenderung bersikap pasif dari pada anak-anak yang menyandang
bintang sosiometris. Pun anak pemalu tidak berani menunjukan potensi dirinya di
depan umum. Sesuai dengan sebutannya, anak-anak ini tidak begitu dikenal dalam
lingkungan sosial.
C. Prognosis
Setelah
memahami lebih jauh perilaku Nadia, ada beberapa hal dalam diri anak tersebut,
bila sudah berhadapan dengan keramaian dan orang yang baru dikenal. Ia
cenderung menghindar dan takut untuk bergaul dengan temannya. Permasalahan ini
dapat mengganggu kehidupan sosial anak, dan mempengaruhi pola perilakunya dalam
keseharian, baik pergaulan dengan keluarga atau pergaulan dengan temannya.
Berikut beberapa cara penanganan yang dapat dilakukan, di antaranya:
1.
Memperlihatkan
sikap bersahabat pada anak. Jangan membuat anak merasa takut dan tidak nyaman
ketika kita mencoba untuk berinteraksi dengannya.
2.
Sebelum
melakukan pendekatan, kenali terlebih dahulu pengetahuan anak. Jangan sampai
kita membahas topik yang berada di luar jangkaunnya. Selanjutnya, lakukan
pendekatan secara perlahan, hingga anak tersebut menerima kita dengan terbuka.
3.
Setelah
anak berada dalam zona nyaman, berikan rangsangan, seperti mengajak anak untuk
bercerita. Baik itu mengenai kesehariannya maupun kesukaan dari anak tersebut.
4.
Mengajak
anak untuk berinteraksi dengan lingkungan, sehingga anak terdorong untuk
bergaul dengan orang lain.
Memasuki masa kanak-kanak akhir perhatiannya tertuju
kepada kehidupan praktisi sehari-hari. Selain itu, anak mulai tertarik terhadap
pelajaran-pelajaran khusus. Pun anak mulai memandang nilai sebagai ukuran yang
tepat mengenai prestasi belajarnya di sekolah. Pada usia Nadia anak-anak suka
membentuk kelompok sebaya atau peergroup untuk
bermain bersama, mereka membuat peraturan sendiri dalam kelompoknya.
Anak pemalu mengalami kendala dalam berhubungan dengan
teman sebaya, lebih-lebih bila masuk ke dalam kelompok sebaya. Anak yang
bergabung dengan kelompok sebaya tertentu akan mudah beradaptasi dengan
lingkungan. Meski anak berperilaku pemalu ini tidak terlalu cepat beradaptasi
dibandingkan teman lainnya, tetapi hal seperti ini dapat membangkitkan semangat
anak supaya lebih berani berhadapan dengan orang lain.
D. Treatment
Rasa
malu dapat dikatakan juga sebagai suatu kombinasi dari kegugupan sosial dan
pengkoordinasian sosial. Untuk mengatasi rasa malu pada anak, orang tua harus
meningkatkan kepercayaan diri pada anak. Sehingga sifat pemalu yang ada pada
diri anak lambat laun menjadi hilang.
Anak
akan menjadi semakin pemalu atau justru dapat mengatasi sifat pemalu ini,
tergantung dari lingkungannya (baca: orang tua) terus menerus melindungi anak
atau mendorongnya untuk mau menghadapi dunia luar, sehingga anak menjadi lebih percaya
diri. Berikut ini beberapa penanganan yang dapat diterapkan untuk kasus Nadia,
di antaranya:
1.
Membiasakan
anak untuk selalu berkomunikasi, baik itu dalam lingkup keluarga maupun di luar
keluarga.
2.
Mengikutsertakan
anak ke dalam kelompok-kelompok kecil. Dengan tujuan memberikan pengalaman
terhadapnya.
3.
Memberikan
motivasi yang bersifat membangun, supaya rasa minder dalam diri anak sedikit
berkurang.
4.
Memberikan
pujian terhadap keberhasilan yang diperoleh anak, baik itu dalam bentuk
prestasi akademik maupun keterampilan yang dimilkinya.
5.
Memperkenalkan
anak pada kelompok seni, supaya anak memiliki kepercayaan diri dalam menguasi
hal-hal dan keadaan-keadaan baru.
BAB
IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Anak
pemalu cenderung akan menghindari keramaian dan takut untuk bergaul dengan
temannya. Anak yang memiliki sifat pemalu biasanya mudah merasa takut dan penuh
keragu-raguan dalam melakukan sesuatu. Rasa percaya diri pada anak pemalu akan
meningkat tergantung dari lingkungannya. Dalam hal ini, orang tua mempunyai
andil cukup besar, apakah anak akan semakin pemalu atau justru dapat mengatasi sikap
pemalu dalam dirinya. Anak dengan karakter pemalu memilki kelebihan¾sama seperti anak lainnya. Hanya saja anak pemalu
dalam mengekspresikan diri cenderung diam-diam atau sembunyi-sembunyi.
B. Saran
Berikan
kasih sayang pada anak secara utuh, agar pemenuhan kebutuhan pokok kejiwaan
selama masa pertumbuhan dan perkembangan anak dapat terpenuhi. Selain itu
biasakan anak untuk berinteraksi dengan lingkungan, sehingga ada dorongan untuk
bergaul.
DAFTAR
PUSTAKA
Nirwana, Ade Benih. 2011. Psikologi Ibu, Bayi, dan Anak. Cet. 1. Yogyakarta: Nuha Medika.
Nuryanti, Lusi. 2008. Psikologi Anak. Cet. 2. Jakarta: PT Indeks.
Wulandari, Windi. http://windiutama.blogspot.com/2013/08/anak-pemalu/, 06 April 2015 pukul 19.30 WIB.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar