Senin, 20 April 2015

Urgensi TIK dalam BK



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
            Perkembangan pesat teknologi informasi dan komunikasi (baca: TIK) telah merubah tata cara manusia bersikap dan berperilaku dewasa ini, terutama dalam kaitannya dengan proses komunikasi dan interaksi. Suatu kenyataan bahwa hampir seluruh bidang industri dan aspek kehidupan masyarakat modern tidak luput dari jangkauan teknologi ini, karena telah terbukti mampu mendatangkan sejumlah nilai dan manfaat signifikan bagi perkembangan zaman dan perabadan umat manusia (Banks, 2003).
            Sejumlah keuntungan yang dihadirkan oleh teknologi ini: memudahkan seseorang dalam memperoleh informasi yang kaya akan isi dalam waktu yang relatif singkat, memudahkan akses komunikasi, dan menjadi dunia bisnis baru. Bahkan dunia pendidikan tidak luput dari pengaruh teknologi ini. Kehadirannya membawa perubahan yang positif dan melahirkan fitur-fitur yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran.     
            Mengikuti perkembangan zaman, pelayanan sosial dan kemanusiaan tak luput dari penggunaan sistem teknologi informasi dalam melakukan pelayanan, dengan tujuan untuk memudahkan bentuk komunikasi dengan klien. Begitu juga dengan profesi bimbingan dan konseling.
            Aplikasi teknologi ini dalam pelayanan bimbingan dan konseling: memberikan sejumlah informasi kepada konseli tentang apa yang dibutuhkannya. Selain itu, teknologi informasi dapat meningkatkan kinerja dan memungkinkan berbagai kegiatan dapat dilaksanakan dengan cepat, tepat, dan akurat, sehingga dapat meningkatkan prokduktivitas kerja konselor itu sendiri.
            Praktisi bimbingan dan konseling dalam menguasai dan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi merupakan salah satu wujud profesioanalitas kerja konselor dalam pelaksanaan program layanan.
           
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Teknologi Informasi
            Teknologi informasi (information technology) biasa disebut TI, IT, atau infotech. Menurut Haag & Keen (1996) dalam Abdul Kadir & Terra Ch. Triwahyuni, teknologi informasi adalah seperangkat alat yang membantu Anda bekerja dengan informasi dan melakukan tugas-tugas yang berhubungan dengan pemrosesan informasi.
            Teknologi informasi tidak hanya terbatas pada teknologi komputer (perangkat keras dan perangkat lunak) yang digunakan untuk memproses dan menyimpan infomasi, melainkan juga mencakup teknologi komunikasi untuk mengirimkan informasi (Martin, 1999).
            Teknologi komunikasi adalah teknologi yang menggabungkan komputasi (komputer) dengan jalur komunikasi berkecepatan tinggi membawa data, suara, dan video (Wiliams & Sawyer, 2003)
            Dari definisi di atas terlihat bahwa teknologi informasi baik secara implisit maupun eksplisit tidak sekadar berupa teknologi komputer, tetapi juga mencakup teknologi telekomunikasi. Dengan kata lain, yang disebut teknologi informasi adalah gabungan antara teknologi komputer dan teknologi telekomunikasi.
            Teknologi informasi tidak harus secara spesifik berupa komputer yang terhubung ke komputer lain melalui alat telekomunikasi, tetapi juga dapat berupa peranti seperi ponsel ataupun peralatan elektronika lain yang berhubungan dengan penyajian informasi (misalnya televisi). Hal terpenting adalah bahwa teknologi informasi itu melibatkan komputer dan telekomunikasi.

B. TI dalam Dunia Pendidikan
            Teknologi informasi juga dapat melahirkan fitur-fitur baru dalam dunia pendidikan. Sistem pengajaran berbasis multimedia (teknologi yang melibatkan teks, gambar, suara, dan video) dapat menyajikan materi pelajaran yang lebih menarik, tidak monoton, dan memudahkan penyampaian. Murid atau mahasiswa dapat mempelajari materi tertentu secara mandiri dengan menggunakan komputer yang dilengkapi program berbasis multimedia.
            Teknologi Internet ikut berperan dalam menciptkan e-learning atau pendidikan jarak jauh. Kuliah tidak lagi harus dilakukan dengan suasana kelas di mana mahasiswa dan dosen bertemu. Kuliah dapat dilaksanakan dengan mengakses modul-modul kuliah dari jarak jauh. Begitu pula untuk pengirim tugas dan berdiskusi. Para mahasiswa dengan leluasa dapat mengatur waktu untuk belajar, kapan saja dan di mana saja.

C. Pengertian Bimbingan dan Konseling
            Bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok, agar mampu mandiri dan berkembang secara optimal, dalam bidang pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kemampuan belajar, dan perencanaan karier, melalui berbagi jenis layanan dan kegiatan pendukung berdasarkan norma-norma yang berlaku.
            Bimbingan dan konseling berupaya agar terwujudnya kehidupan kemanusiaan yang membahagiakan melalui tersedianya pelayanan bantuan dalam memberikan dukungan perkembangan dan pengentasan masalah agar individu berkembang secara optimal, mandiri, dan bahagia serta juga mewujudkan perkembangan diri dan kemandirian yang optimal sesuai dengan hakekatnya, baik sebagai mahluk individu atau mahluk sosial.
           
D. Fungsi dan Peranan TIK dalam Bimbingan dan Konseling
            Sebagai salah satu profesi yang memberikan layanan sosial atau layanan kemanusiaan, maka secara sadar atau tidak keberadaan profesi bimbingan dan konseling berhadapan dengan perubahan realitas baik yang menyangkut perubahan-perubahan pemikiran, persepsi, demikian juga nilai-nilai. Perubahan yang terus menerus terjadi dalam kehidupan, mendorong konselor perlu mengembangkan pemahaman, dan penerapannya dalam perilaku serta keinginan untuk belajar, diikuti dengan kemampuan untuk membantu siswa memenuhi kebutuhan yang serupa.
            Fungsi dan peranan Teknologi Informasi dalam pelayanan bimbingan konseling, yaitu sebagai berikut:
1.      Publikasi
            Teknologi informasi dimanfaatkan sebagai sarana pengenalan kepada masyarakat luas dan juga sebagai pemberi informasi mengenai bimbingan dan konseling serta implementasi layanannya.
2.      Pelayanan dan Bantuan
Bimbingan dan konseling dilakukan secara tidak langsung dengan bantuan teknologi informasi. Teknologi ini dimanfaatkan sebagai sarana pendukung untuk menciptakan layanan yang lebih kreatif dan inovatif. Misalnya, penggunaan media power point dan video dalam melakukan bimbingan kelompok sesuai dengan jenis permasalahannya.
3.      Pendidikan
Informasi yang diberikan melalui sarana teknologi informasi, mengandung unsur pendidikannya. Misalnya layanan bimbingan dan konseling berbasis website yang menyajikan beragam tema tentang pengembangan pendidikan karakter. Layanan bimbingan dan konseling dapat dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya:
a.       Konseling melalui telepon
b.      Konseling melalui video-phone
c.       Konseling melalui radio atau televisi
d.      Konseling melalui internet atau chating

Adapun fungsi khusus keberadaan teknologi informasi dalam bimbingan dan konseling, yaitu:
1.      Membantu konselor dalam mengolah dan menyimpan data konseli atau data lain yang dibutuhkan dalam BK.
2.      Membantu konselor untuk melakukan cyber counseling.
3.      Membantu konselor mempublikasikan informasi secara up to date dan lebih luas jangkauannya tanpa harus bertemu secara face to face.
4.      Membantu konselor dalam melaksanakan program agar lebih efektif dan efisien; melalui aplikasi khusus tentang instrumen BK.
5.      Konselor dalam berkomunikasi dengan konseli menjadi lebih mudah.
6.      Membantu konselor dalam memperoleh data yang dibutuhkan (baca: menjadi lebih mudah).
7.      Mempermudah konselor dalam menyusun, mencari, dan mengolah data.

E. Urgensi Teknologi Informasi dalam Konteks Bimbingan dan Konseling
            Urgensi bimbingan dan konseling mengacu pada perkembangan serta kemajuan teknologi yang mutakhir, salah satunya ialah penggunaan alat atau media komukasi serta informasi elektronik baik secara on line maupun off line. Penggunaan media teknologi yang mutakhir akan senantiasa merubah gaya serta penerapan bimbingan dan konseling yang konvensional. Sebagaimana tujuan dari kemajuan teknologi yaitu: untuk mengefisienkan atau mempermudah akses informasi, maka penerapannya dalam bimbingan dan konseling juga mengacu pada cara yang sama tanpa mengubah konteks dari bimbingan dan konseling tersebut.
            Alat-alat atau media dalam akses informasi di era global ini sangat beragam dan mutakhir, seperti telepon seluler, komputer dan internet. Semua media teknologi informasi tersebut akan mempermudah akses pemberian bantuan terhadap individu jika dimanfaatkan secara tepat guna dan terlatih. Oleh karena itu, profesional di bidang bimbingan dan konseling yang selanjutnya disebut dengan konselor, dituntut untuk dapat menggunakan serta terlatih dalam penggunaan dan penerapan konseling melalui media teknologi. Salah satu upaya bimbingan dan konseling yaitu memfasilitasi peserta atau konseli dalam mengembangkan potensi serta memahami dirinya juga mengoptimalkan perkembangannya.
            Pada era serba teknologi ini, bimbingan dan konseling juga dituntut untuk menyesuaikan terhadap keadaan agar selalu dapat mengiringi dan membantu konseli di zaman yang semakin mutakhir. Sebagaimana upaya bimbingan dan konseling yaitu: memfalisitasi konseli, maka penggunaan teknologi informasi atau media elektronik, penunjang proses konseli akan sangat dibutuhkan agar konseli dapat memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling secara efisien serta tidak ketinggalan zaman. Jika layanan bimbingan dan konseling masih menerapkan cara-cara konvesioanal dalam era teknologi yang semakin maju, maka layanan tersebut akan ditinggalkan oleh konseli yang akan mengakibatkan degradasi moral serta ketidakmampuan konseli dalam memecahkan serta mengoptimalkan tugas perkembangan yang harus dilaluinya secara mandiri.
            Jika hal tersebut terjadi, akan banyak individu yang mengalami kesulitan dalam pemahaman diri dan cenderung akan masuk dalam zona kebebasan tanpa adanya bimbingan yang bersifat mengembangkan kepribadian yang sehat. Dengan demikian, penerapan atau pemanfaatan teknologi informasi dalam bimbingan dan konseling menjadi suatu urgensi tersendiri dalam penyesuaian kondisi zaman atau era yang sangat global.
            Urgensi teknologi informasi dalam bimbingan dan konseling menuntut konselor untuk dapat menguasai teknologi agar dapat memudahkan dalam pemberian pelayanan konseling kepada kliennya. Dalam aplikasinya teknologi informasi ini lebih diarahkan untuk membantu konseli dalam pemenuhan kebutuhan informasi terutama ketika konseli ingin melanjutkan studi ke jenjang selanjutnya.
            Dampak positif yang diberikan oleh teknologi ini: semakin mudahnya interaksi antara konselor dengan konseli tanpa perlu tatap muka dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling. Teknologi informasi juga memudahkan konseli untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan saat itu juga.     
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1.      Teknologi informasi bukan hanya sekadar teknologi komputer, tetapi juga mencakup teknologi telekomunikasi. Teknologi ini memudahkan murid atau mahasiswa dalam mempelajari materi tertentu secara mandiri dengan menggunakan komputer yang dilengkapi program berbasis multimedia.
2.      Penggunaan teknologi informasi dapat diterapkan dalam pelayanan bimbingan dan konseling, karena dapat memudahkan konselor dalam berkomunikasi dengan konseli. Selain itu, teknologi ini dapat membantu konselor dalam menyimpan suatu data yang bersifat rahasia.
3.      Urgensi teknologi informasi dalam konteks bimbingan dan konseling mengacu pada tujuan dari kemajuan teknologi yaitu: untuk mengefisienkan atau mempermudah akses informasi.

B. Saran
            Sebaiknya penggunaan teknologi informasi dioptimalkan secara total, khususnya dalam ranah pendidikan: agar proses pembelajaran lebih terkesan menarik serta pelayanan bimbingan dan konseling dapat berjalan secara efisien, dan meningkatkan kinerja konselor yang terampil dan produktivitas. 
           
BAB IV
ANALISIS

            Peradaan manusia di muka bumi telah memasuki era baru, di mana teknologi tak luput dari kehidupan manusia. Teknologi informasi dan komunikasi ini telah mendarahdaging dan berkembang pesat. Perkembangan teknologi ini semakin meningkat dari hari ke hari. Tak dapat dipungkiri, teknologi informasi telah merasuk ke dalam setiap aspek kehidupan, tak terkecuali ranah pendidikan. Pendidikan di zaman ini mengalami kemajuan yang pesat; mulai dari sarana dan prasarana serta penggunaan teknologi dalam media pembelajaran. Guna untuk mempermudah dan terlaksananya tujuan pendidikan.
            Melirik gaya hidup remaja dan peserta didik di era sekarang ini, tidak lepas dari pengaruh teknologi. Mereka cenderung aktif dalam berbagai macam sosial media yang terkadang salah kaprah dalam penggunaannya. Fungsi dari sosial media itu sendiri telah beralih fungsi (baca: yang seharusnya digunakan untuk tujuan berkomunikasi) menjadi tempat curahan hati. Dampaknya, masalah yang seharusnya tidak diketahui publik, justru terungkap lewat sosial media dan membawa masalah ke ranah publik. Untuk itu seorang konselor harus bersikap tanggap dan responsif agar peserta didik dapat membawa permasalahannya ke arah yang tepat. Hal tersebut menjadi satu dari sekian alasan mengapa pemanfaatan teknologi sangat diperlukan dalam pelayanan bimbingan dan konseling. Melihat fenomena tersebut, bimbingan dan konseling dapat melebarkan sayap dan memberikan layanan melalui cyber counseling.
            Penerapan teknologi dalam meningkatkan layanan bimbingan dan konseling perlu dioptimalkan totalitasnya. Kini, telah hadir sebuah aplikasi instrumentasi yang berhubungan dengan teknologi. Misalnya pembuatan skala penelitian yang menggunakan software sps, daftar cek masalah (dcm), identifikasi kebutuhan masalah siswa (ikms) atau pembuatan sosiogram dalam alat instumen sosiometri. Hal tersebut semata-mata untuk meningkatkan kualitas layanan BK, yang bermuara pada meningkatnya prestasi peserta didik dan tercapainya tugas perkembangan yang harus dijalani oleh peserta didik.
DAFTAR PUSTAKA

Benny, Dwi. http://3.bp.blogspot.com/2013/07/teknologi/, 22 Maret 2015 pukul     11.36 WIB.
Fitriani, Liana.   http://Lianafitriani.blogspot.com/2013/12/fungsi-teknologi-            informasi-dalam- BK/, 22 Maret 2015 pukul 01.15 WIB.
Hikmawati, Fenti. 2010. Bimbingan Konseling. Cet. 1. Jakarta: Rajawali Pers.
Indrajit, Eko Richardus. 2014. Peranan Teknologi Informasi Pada Perguruan        Tinggi. Cet. 1. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Kadir, Abdul & Terra Ch. Triwahyuni. 2003. Pengenalan Teknologi Informasi.      Ed. 1. Yogyakarta: Andi.Offset.

Makalah Anak Pemalu



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
            Bimbingan bukan lagi suatu tindakan yang bersifat hanya mengatasi setiap krisis yang dihadapi oleh anak, tetapi juga merupakan suatu pemikiran tentang perkembangan anak sebagai pribadi dengan segala kebutuhan, minat dan kemampuan yang harus berkembang.
            Masalah-masalah anak yang timbul biasanya berhubungan dengan ruang lingkup anak itu sendiri, mulai dari keluarga, sekolah dan masyarakat. Dalam terjadinya pergeseran peran dalam keluarga. Permasalahan yang timbul dari anak adalah permasalahan dengan orang tua, dengan saudara, penyesuaian dengan norma dalam keluarga dan konflik dengan tuntutan orang tua.
            Anak sekolah dasar pada umumnya masih memerlukan bimbingan, dukungan, arahan, perhatian dari orang tua untuk menyelesaikan tugas perkembangan selama rentang usia anak. Orang tua mempunyai tugas untuk merawat serta menjaga anaknya. Dalam pergaulan anak sekarang ini, banyak membawa dampak negatif bagi anak, dampak negatif tersebut bisa mengakibatkan gangguan psikologis pada anak yang bersifat biasa hingga serius.
            Masalah psikologis biasa disebut gangguan kesehatan jiwa dalam taraf ringan. Kita biasa mengalaminya dalam keseharian. Mungkin juga kita tidak mengetahui kalau hal tersebut merupakan terjadinya indikasi terjadinya gangguan psikologis. Memang, masalah psikologis ringan (rasa rendah diri, kuatir yang berlebihan, kurang percaya diri, mudah marah) harus segera ditangani. Jika pemasalahan itu dianggap sebagai hal yang biasa maka dikhawatirkan akan mengganggu kesehatan jiwa.
            Masalah psikologis pada anak ini bisa timbul karena tidak adanya pemenuhan kebutuhan pokok kejiwaan yang tidak terpenuhi (kebutuhan akan kasih sayang) dan pengaruh proses pertumbuhan dan perkembangan pada anak.



B. Rumusan Masalah
1.      Apakah pemalu itu?
2.      Bagaimana ciri-ciri anak pemalu?
3.      Bagaimana dampak sikap pemalu terhadap perkembangan anak?
4.      Apa saja penanganan yang baik untuk anak pemalu?
           
C. Tujuan Penulisan
            Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini, di antaranya:
1.      Mengetahui dan memahami karakteristik anak pemalu.
2.      Untuk mengetahui apa saja faktor penyebab anak menjadi pemalu.
3.      Memahami dampak yang ditimbulkan dari perilaku pemalu terhadap perkembangan anak.



BAB II
KAJIAN TEORI

A. Anak Pemalu
            Anak pemalu biasanya mempunyai rasa gelisah terhadap dirinya sendiri. Ia malu atas pandangan orang lain mengenai dirinya. Ada sebagian yang mengatakan ada sesuatu yang “aneh”, “hati-hati”, “curiga” dan lain sebagainya yang membuat anak tersebut menjadi malu dan cenderung mengurung diri. Secara umum, manusia memang dilahirkan dengan rasa malu, namun bila perasaan itu mulai berubah menjadi rasa takut yang berlebihan, ini akan menjadikan suatu fobia, yaitu takut mengalami tekanan dari orang lain atau takut menghadapi masyarakat atau orang banyak.
            Biasanya anak yang pemalu akan cenderung untuk menghindari keramaian dan takut untuk bergaul dengan temannya. Anak yang mempunyai permasalahan ini akan menyulitkan guru dalam mendeteksinya, karena biasanya anak yang pemula ini tidak sering berbuat onar dalam kelas. Permasalahan ini akan sangat mengganggu perkembangan kehidupan anak. Untuk menghadapi anak yang demikian, sebaiknya anak diberi kesempatan untuk introspeksi diri, memberikan kepercayaan kepadanya, membuatkan jaringan sosial yang lebih luas untuknya dan membangun rasa percaya dirinya.

B. Ciri-Ciri Anak Pemalu
            Sikap pemalu pada anak bisa dikatakan wajar apabila ditunjukan dengan proporsisi yang cukup. Apabila tanda-tanda pemalu ditunjukan anak dengan sikap yang berlebihan, hal itu perlu diwaspadai, baik oleh orang tua maupun pendidik atau guru.
            Biasanya anak menunjukkan rasa malu pada seseorang yang belum dikenal. Pada umur 5 tahun rasa malu juga ditunjukkan pada saat seseorang akan memberikan penilaian terhadap tingkah lakunya.
            Ciri-ciri lain yang lebih spesifik dari sifat pemalu tampak dari perilaku anak sebagai berikut:
1.      Menghindari kontak mata dengan orang lain.
            Hal ini tampak ketika anak melihat kita sekilas dan saat kita memperhatikannya, maka dengan buru-buru anak akan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Hal lainnya adalah ketika kita mengajak anak berbicara, anak terkesan menunduk dan tidak memperhatikan kita.
2.      Tidak banyak bicara
            Dalam hal ini, jika ada seseorang yang mengajukan pertanyaan, anak hanya akan menjawab antara “ya atau tidak”. Untuk anak yang lebih ekstrim, ketika ditanya anak hanya akan mengangguk dan menggeleng.
3.      Tidak memiliki keberanian untuk tampil di muka umum
            Apabila anak tampil di muka umum, ia akan mengalami demam panggung, yang ditandai dengan timbulnya gejala gemetar, berkeringat, dan lainnya.

C. Faktor Penyebab Anak Menjadi Pemalu
             Menurut Gunarsah (2001:12) bahwa faktor-faktor yang menyebabkan  sifat pemalu yakni keadaan fisik, kesulitan dalam berbicara, kurang terampil  dalam berteman, harapan orang tua terlalu tinggi, pola asuh yang mencela, unsur  keturunan, masa kanak-kanak kurang gembira, kurang bermasyarakat, perasaan rendah diri, dan pandangan orang lain.
            Keadaan fisik menyebabkan sifat pemalu, sebab anak yang sering sakit  kurang mempunyai peluang melakukan berbagai aktivitas. Baik aktivitas dalam  gerak motorik, sosial maupun aktivitas lainnya. Anak sering sakit tentu saja membuat ruang gerak akan menjadi terbatas dan anak tidak bebas bermain seperti anak yang sehat lainnya. Kelainan fisik juga dapat menumbuhkan rasa malu pada anak.
            Kesulitan berbicara menyebabkan anak menjadi pemalu. Anak  yang  tidak  jelas mengungkapkan bahasanya sering mengalami kesulitan dalam bergaul  dengan teman atau orang dewasa lain. Kurang terampil dalam berteman juga dapat menyebabkan sifat pemalu pada anak.
            Faktor lain yang dapat mempengaruhi sifat pemalu adalah masa kanak-kanak kurang gembira. Ada sebagian anak yang mengalami hal-hal yang kurang  menyenangkan pada masa kanak-kanaknya. Misalnya, orang tua sering berpindah-pindah, orang tua bercerai, orang tua meninggal, dipaksa pindah sekolah atau  dihina oleh teman dan sebagainya. Semua pengalaman itu mengakibatkan  terganggunya hubungan sosial mereka dengan lingkungan, suka menghindar atau  mundur dan tidak berani bergaul dengan orang yang tidak dikenal.
            Sifat pemalu juga dapat disebabkan oleh perilaku kurang bermasyarakat.  Anak yang hidup dengan latar belakang di mana ia diabaikan oleh orang tuanya  atau dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang mengasingkan diri, terlalu  dikekang sehingga mereka tidak dapat mengalami hubungan sosial yang normal dengan masyarakat. Begitu juga dengan sikap rendah diri yang dapat menyebabkan sikap pemalu. Anak menganggap dirinya tidak sebanding dengan orang lain, tetapi sebaliknya menghargai dirinya lebih rendah dari pada semua orang secara umum. Karena menganggap dirinya tidak sebanding dengan orang lain, anak akan bersikap hati-hati terhadap semua hal dan konservatif.
            Faktor terakhir yang menyebabkan anak memiliki sifat pemalu, yakni  pandangan orang lain. Banyak anak menjadi pemalu karena pandangan orang lain yang telah merasuk dirinya sejak kecil. Mungkin orang dewasa sering  mengatakan bahwa ia pemalu, bahkan guru dan teman-temannya juga berpendapat sama, sehingga akhirnya ia benar-benar menjadi seorang pemalu.

D. Dampak Sikap Pemalu Terhadap Perkembangan Anak
            Pada umumnya, sikap pemalu lebih umum terjadi pada anak perempuan dari pada anak laki-laki terutama sewaktu anak tumbuh besar. Dampak yang dapat ditimbulkan oleh sifat pemalu di antaranya adalah:
1.      Kehilangan keberanian dalam mengemukakan pendapat.
2.      Anak pemalu dapat mengalami krisis eksistensi dalam kelompok sebaya.
3.      Anak tidak terlihat atau dikenal oleh teman-temannya.
4.      Anak menjadi kurang kreatif karena tidak memiliki kepercayaan diri untuk menunjukkan potensi dirinya.



E. Cara Mengatasi Anak Pemalu
            Ada beberapa cara untuk menangani anak pemalu, di anataranya sebagai berikut:
1.      Memberi pujian yang dapat memotivasi anak. Jika kita memberi pujian kepada anak yang pemalu, ia akan lebih bisa untuk mengekspresikan dirinya.
2.      Memberikan kesempatan untuk menjawab pertanyaan. Jika kita sedang bertanya sesuatu, usahakan untuk mendengarkan dan menanggapi anak dengan benar. Ini juga untuk melatih kemampuan bahasanya agar lebih baik.
3.      Mendorong anak untuk berani menghadapi dunia luar dengan percaya diri. Mendorong seorang anak pemalu untuk berani menghadapi dunia luar tidak bisa dilakukan secara tiba-tiba (drastis). Misalnya, ketika orang tua sudah mencapai titik jenuh dalam melindungi anak dan bingung melihat anaknya hingga usia sekian tahun masih enggan untuk bergaul dengan sebayanya, kemudian memaksa anak untuk berbaur dalam lingkungan sosial. Perubahan sikap orang tua yang demikian bisa menjadi tekanan tersendiri bagi anak, karena yang biasanya aman dalam lindungan orang tua, tiba-tiba orang tua berubah melepaskan dan “tidak mau melindungi”. Mendorong anak (encourage) tidak sama dengan memaksa (push), usaha yang tiba-tiba bukanlah mendorong, tetapi memaksa. Perasaan terpaksa akan membuat keadaan bertambah buruk karena anak ditempatkan pada keadaaan yang melebihi batas toleransinya, sehingga anak bisa jadi semakin menarik diri.
4.      Mendukung kepercayaan diri dan sikap yang wajar. Anak sebaiknya didukung dan dipuji untuk kepercayaan dirinya dan tindakannya yang wajar. Ajari anak untuk jadi dirinya sendiri dan mengekspresikan pendapatnya secara terbuka.
5.      Menyediakan agen sosialisasi untuk anak. Memasangkan satu atau dua orang teman yang memungkinkan menjadi teman bermain bagi anak. Selanjutnya, perkenalkan anak untuk bermain dalam kelompok yang lebih besar.
6.      Membuat kegiatatan yang merangsang anak untuk berinteraksi. Anak yang kurang komunikatif dapat didorong untuk berkomunikasi melalui gambar, karena pada umumnya anak lebih senang mendiskusikan hal-hal yang ada kaitannya dengan gambar. Selain itu, rancanglah kegiatan-kegiatan lain. Misalnya, menggambar bersama dalam satu kertas atau bermain pesan berantai.






BAB III
PEMBAHASAN

A. Identifikasi Peserta Didik
1.      Keterangan Pribadi
a.    Nama                                        : Nadia Clarissa Putri
b.    Jenis Kelamin                            : Perempuan                     
c.    Tempat, Tanggal Lahir               : 29 Juni 2005
d.   Usia                                          : 10 Tahun
e.    Alamat                                      : Kp. Cilulumpang RT001/009 Des. Kerta Mukti Kec. Warungkiara                                                         Kab. Sukabumi
f.     Agama                                      : Islam
g.    Sekolah                                    : SDN 01 Sukabakti
h.    Kewarganegaraan                     : Indonesia
i.      Anak ke                                    : 1
j.   Jumlah Saudara Kandung           : 1
k.    Jumlah Saudara Tiri                   : -
l.   Jumlah Saudara Angkat             : -
m.  Status Anak                              : Kandung
n.    Bahasa Sehari-hari                    : Indonesia-Sunda

2.      Keterangan Orang Tua
a.      Nama Ayah                                   : Parman Rusyandi
b.      Nama Ibu                                      : Tuti Rohayati
c.      Alamat                                           : Kp. Cilulumpang RT001/009 Desa Kerta Mukti                                                         Kec. Warungkiara Kab. Sukabumi
d.     Tempat, Tanggal Lahir ayah           : Sukabumi, 01 Agustus 1974
e.      Tempat, Tanggal Lahir Ibu             : Sukabumi, 12 Maret 1981
f.       Pekerjaan Ayah                             : Karyawan
g.    Penghasilan Perbulan (Ayah)    : Rp. 2.000.000
h.    Pekerjaan Ibu                            : Karyawan
i.      Penghasilan Perbulan (Ibu)       : Rp. 2.000.000
j.      Pendidikan Terakhir Ayah        : SMA
k.    Pendidikan Terakhir Ibu           : SMP
l.      Keterangan Ayah/Ibu               : Indonesia

3.      Lingkungan Tempat Tinggal
a.  Sangat Baik                              : -
b.  Baik                                          :  Baik
c.  Cukup                                       : -
d. Kurang                                      : -

            Nadia Clarissa Putri, dilahirkan di Sukabumi, Jawa Barat, pada tanggal 29 Juni 2005. Ia merupakan anak pertama dari satu bersaudara, pasangan Parman Rusyandi dan Tuti Rohayati. Nadia merupakan anak berprestasi di sekolahnya. Ia tak pernah absen dari peringkat sepuluh besar di kelas. Namun, dibalik kelebihan yang dimilikinya, Nadia memiliki suatu kekurangan (baca: perilaku pemalu) yang mengakibatkan terganggunya hubungan sosial dengan teman sebayanya. Ia kerap kali menarik diri jika sudah berada dalam lingkungan sekolah dan di luar sekolah. Selain pintar dalam bidang akademik, Nadia juga memiliki kelebihan lain, yakni membuat sebuah bros dari bahan yang sudah tidak dipakai: tutup galon.

B. Sintesis 
            Nadia merupakan anak pemalu. Ia selalu menghindari kontak mata jika bertemu dengan orang yang tidak dikenal. Ketika saya bertemu dengannya, Nadia cenderung menghindar, ia seakan enggan untuk bertemu dengan saya. Padahal kami bertetangga. Jarak kediaman kami hanya terpisah oleh tiga rumah. Sejak awal kepindahan Nadia ke kampung Cilulumpang, ia jarang keluar rumah, bermain dengan teman sebaya, dan terlibat dalam acara rutin (baca: Pidato) setiap memperingati Maulid Nabi. Bahkan ketika saya mengajaknya berbicara, Nadia lebih banyak menunduk dan menjawab seadanya. Hal ini berlanjut hingga hari ketiga saya menemui Nadia di rumahnya.
            Memasuki lingkungan sekolah Nadia, saya mencoba bertanya pada wali kelasnya, yakni Bapak Iik Suparman. Beliau menjelaskan perilaku Nadia di sekolah. Selama proses pembelajaran Nadia cenderung pasif. Bentuk interaksi dengan teman sekelasnya pun kurang. Nadia selalu tidak percaya diri ketika harus berhadapan dengan lingkungan sosial, termasuk bermain dengan sebayanya.
            Rasa malu yang dihadapi Nadia disebabkan karena orang tua terlalu sibuk dengan pekerjaannya, yang bermuara pada kehidupan anak itu sendiri, di mana ia sering diabaikan oleh orang tuanya. Sehingga tidak dapat mengalami hubungan sosial yang normal dengan masyarakat. Selain itu, disebabkan juga karena mengalami masa kanak-kanak kurang gembira. Bentuk rasa malu yang dimiliki Nadia; tidak berani tampil di depan umum, suka menghindar atau mundur dalam bergaul dengan orang yang baru dikenal.

C. Diagnosis
            Setelah saya melakukan pengamatan terhadap perilaku Nadia, dapat disimpulkan bahwa sikap pemalu dalam diri Nadia disebabkan oleh beberapa faktor, di antarnya:
1.      Masa kanak-kanak kurang gembira. Pengalaman yang kurang menyenangkan pernah dihadapi Nadia pada masa kanak-kanaknya. Kedua orang tuanya sempat berpindah-pindah rumah. Selain itu, Nadia juga pernah mengalami suatu peristiwa, di mana ia dihina oleh temannya saat duduk di kelas dua.
2.      Kurang bersosialisasi dengan kawan bermain di sekolah dan di luar sekolah. Hal ini disebabkan karena anak tidak mendapat kasih sayang yang penuh dari orang tuanya. Sehingga anak tersebut memiliki kesulitan untuk mengembangkan dan membina hubungan sosial dan sulit membina persahabatan dengan anak lainnya.
3.      Kemampuan berkomunikasi yang kurang baik. Kemampuan berkomunikasi sangat penting dalam menunjang hubungan baik dengan orang lain. Apabila anak memilki kesulitan, tentunya akan menghambat bentuk interaksi anak dengan sebayanya. Hal ini terjadi karena orang tua tidak memiliki waktu yang cukup untuk anak, sehinnga anak tersebut mengalami kesulitan dalam mengungkapkan sesuatu.

Permasalah Nadia masih berada dalam kategori ringan. Dalam kesaharian, Nadia tidak menunjukan gejala yang aneh. Ia masih dapat berkomunikasi, dan berfikir sesuai nalarnya. Sifat pemalu dalam diri Nadia timbul sejak dirinya masih kanak-kanak. Sejauh yang saya amati, perilaku ini bukan hanya disebabkan karena masa kanak-kanak Nadia yang kurang menyenangkan, melainkan orang tua tidak memberikan perhatian yang penuh, serta dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang mengasingkan diri dari lingkungan. Ketika orang tua Nadia bekerja, ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan adik dan neneknya di rumah.
Anak pemalu sering menghindari orang lain dan biasanya mudah merasa takut, curiga, hati-hati, dan ragu-ragu dalam melakukan sesuatu. Mereka umumnya menarik diri dalam berhubungan dengan orang lain. Menurut pandangan saya, anak pemalu cenderung bersikap pasif dari pada anak-anak yang menyandang bintang sosiometris. Pun anak pemalu tidak berani menunjukan potensi dirinya di depan umum. Sesuai dengan sebutannya, anak-anak ini tidak begitu dikenal dalam lingkungan sosial.

C. Prognosis
            Setelah memahami lebih jauh perilaku Nadia, ada beberapa hal dalam diri anak tersebut, bila sudah berhadapan dengan keramaian dan orang yang baru dikenal. Ia cenderung menghindar dan takut untuk bergaul dengan temannya. Permasalahan ini dapat mengganggu kehidupan sosial anak, dan mempengaruhi pola perilakunya dalam keseharian, baik pergaulan dengan keluarga atau pergaulan dengan temannya. Berikut beberapa cara penanganan yang dapat dilakukan, di antaranya:
1.      Memperlihatkan sikap bersahabat pada anak. Jangan membuat anak merasa takut dan tidak nyaman ketika kita mencoba untuk berinteraksi dengannya.
2.      Sebelum melakukan pendekatan, kenali terlebih dahulu pengetahuan anak. Jangan sampai kita membahas topik yang berada di luar jangkaunnya. Selanjutnya, lakukan pendekatan secara perlahan, hingga anak tersebut menerima kita dengan terbuka.
3.      Setelah anak berada dalam zona nyaman, berikan rangsangan, seperti mengajak anak untuk bercerita. Baik itu mengenai kesehariannya maupun kesukaan dari anak tersebut.
4.      Mengajak anak untuk berinteraksi dengan lingkungan, sehingga anak terdorong untuk bergaul dengan orang lain.

Memasuki masa kanak-kanak akhir perhatiannya tertuju kepada kehidupan praktisi sehari-hari. Selain itu, anak mulai tertarik terhadap pelajaran-pelajaran khusus. Pun anak mulai memandang nilai sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi belajarnya di sekolah. Pada usia Nadia anak-anak suka membentuk kelompok sebaya atau peergroup untuk bermain bersama, mereka membuat peraturan sendiri dalam kelompoknya.
Anak pemalu mengalami kendala dalam berhubungan dengan teman sebaya, lebih-lebih bila masuk ke dalam kelompok sebaya. Anak yang bergabung dengan kelompok sebaya tertentu akan mudah beradaptasi dengan lingkungan. Meski anak berperilaku pemalu ini tidak terlalu cepat beradaptasi dibandingkan teman lainnya, tetapi hal seperti ini dapat membangkitkan semangat anak supaya lebih berani berhadapan dengan orang lain.

D. Treatment
            Rasa malu dapat dikatakan juga sebagai suatu kombinasi dari kegugupan sosial dan pengkoordinasian sosial. Untuk mengatasi rasa malu pada anak, orang tua harus meningkatkan kepercayaan diri pada anak. Sehingga sifat pemalu yang ada pada diri anak lambat laun menjadi hilang.
            Anak akan menjadi semakin pemalu atau justru dapat mengatasi sifat pemalu ini, tergantung dari lingkungannya (baca: orang tua) terus menerus melindungi anak atau mendorongnya untuk mau menghadapi dunia luar, sehingga anak menjadi lebih percaya diri. Berikut ini beberapa penanganan yang dapat diterapkan untuk kasus Nadia, di antaranya:
1.      Membiasakan anak untuk selalu berkomunikasi, baik itu dalam lingkup keluarga maupun di luar keluarga.
2.      Mengikutsertakan anak ke dalam kelompok-kelompok kecil. Dengan tujuan memberikan pengalaman terhadapnya.
3.      Memberikan motivasi yang bersifat membangun, supaya rasa minder dalam diri anak sedikit berkurang.
4.      Memberikan pujian terhadap keberhasilan yang diperoleh anak, baik itu dalam bentuk prestasi akademik maupun keterampilan yang dimilkinya.
5.      Memperkenalkan anak pada kelompok seni, supaya anak memiliki kepercayaan diri dalam menguasi hal-hal dan keadaan-keadaan baru.




BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
            Anak pemalu cenderung akan menghindari keramaian dan takut untuk bergaul dengan temannya. Anak yang memiliki sifat pemalu biasanya mudah merasa takut dan penuh keragu-raguan dalam melakukan sesuatu. Rasa percaya diri pada anak pemalu akan meningkat tergantung dari lingkungannya. Dalam hal ini, orang tua mempunyai andil cukup besar, apakah anak akan semakin pemalu atau justru dapat mengatasi sikap pemalu dalam dirinya. Anak dengan karakter pemalu memilki kelebihan¾sama seperti anak lainnya. Hanya saja anak pemalu dalam mengekspresikan diri cenderung diam-diam atau sembunyi-sembunyi.

B. Saran
            Berikan kasih sayang pada anak secara utuh, agar pemenuhan kebutuhan pokok kejiwaan selama masa pertumbuhan dan perkembangan anak dapat terpenuhi. Selain itu biasakan anak untuk berinteraksi dengan lingkungan, sehingga ada dorongan untuk bergaul.



DAFTAR PUSTAKA

Nirwana, Ade Benih. 2011. Psikologi Ibu, Bayi, dan Anak. Cet. 1. Yogyakarta:      Nuha Medika.
Nuryanti, Lusi. 2008. Psikologi Anak. Cet. 2. Jakarta: PT Indeks.
Rini, Martini. http://www.e-psikologi.com/artikel/anak/anak-pemalu/, 06 April        2015 pukul 19.35 WIB.
Wulandari, Windi. http://windiutama.blogspot.com/2013/08/anak-pemalu/, 06        April 2015 pukul 19.30 WIB.