BAB I
DESKRIPSI KASUS
A. Identitas
Responden
1.
Responden I
Nama :
Kirey
Usia :
13 Tahun
Jenis Kelamin :
Perempuan
Asal Sekolah :
SMPN 4 Warungkiara
Agama :
Islam
Alamat :
Kp. Cilulumpang Rt001/009 Desa KertaMukti Kecamatan
Warungkiara Kabupaten Sukabumi
2.
Responden II
Nama : Sarmilah
Usia : 14 Tahun
Jenis
Kelamin : Perempuan
Asal
Sekolah : SMPN 4 Warungkiara
Agama : Islam
Alamat :
Kp. Cilulumpang Rt001/009 Desa KertaMukti Kecamatan Warungkiara Kabupaten
Sukabumi
B. Gambaran
Umum Kasus
Kasus yang dijadikan sebagai bahan untuk pengamatan
didapat dari lingkungan tempat tinggal penulis sendiri. Melihat keadaan remaja
di sana sangat menarik untuk dikaji. Meski mereka santri dan rutin mengikuti
pengajian, tidak menjadi pengahalang untuk mereka mengikuti peralihan bahasa
yang semakin hari mengalami perkembangan. Lahirnya bahasa alay di tengah-tengah
masayarakat sebagai akibat sinetron-sinetron yang ditayangkan di layar kaca,
membuat para remaja mengadopsi gaya bahasa tersebut dan mempraktikannya dalam
kehidupan sehari-hari.
Bahasa sebagai alat komunikasi antara anggota
masyarakat telah mengalami perkembangan dari masa ke masa. Sebelum memasuki era
reformasi, istilah bahasa gaul masih asing di telinga masyarakat. Bahasa gaul
itu sendiri berasal dari bahasa prokem yang telah mengalami perkembangan.
Bahasa prokem yang pada awalnya bahasa rahasia antarsesama kaum pencopet,
bandit dan sebangsanya, kemudian berkembang lebih luas dan dipakai oleh kaum
muda, pelajar dan mahasiswa dengan inovasi-inovasi baru di kalangan mereka
sendiri.
Lahirnya bahasa alay di tengah masyarakat didahului
oleh bahasa gaul yang tidak kalah hebohnya. Remaja masa kini banyak yang
menggunakan bahasa tersebut dalam bergaul dengan sesamanya. Fenomena tersebut
persis seperti yang dialami oleh dua responden yang penulis amati. Sebelum
mengenal bahasa tersebut, baik Kirey maupun Alifia masih menggunakan bahasa
Indonesia dipadu dengan bahasa sunda dalam berinteraksi dengan teman sebayanya.
Mereka mulai menerapkan bahasa alay setelah penayangan sinetron-sinetron remaja
di berbagai layar kaca, salah satunya sinetron “Anak Jalanan” yang saat ini
tengah digandrungi oleh banyak remaja hingga orang dewasa.
BAB II
TINJAUAN
TEORI
Sebelum membahas teori kepribadian dari Albert
Bandura, penulis akan menjelaskan terlebih dahulu mengenai Bahasa, Bahasa Alay,
dan Sinetron “Anak Jalanan” RCTI.
A. Bahasa
Bahasa
sarana untuk mengungkapkan gagasan dan perasaan. Melalui bahasa kita dapat
menyatakan secara terbuka segala sesuatu yang tersirat di dalam hati dan
pikiran kita. Dengan demikian, apapun hal yang hendak disampaikan akan dapat
diterima oleh siapa pun. Akan sangat sulit jika seseorang yang sedang marah,
sedih, atau bahagia tidak dapat berbahasa. Hal ini akan membuat orang-orang di
sekitarnya tidak mengerti apa yang diinginkannya. Dapat dibayangkan betapa
sulitnya perasaan kita jika tidak tersampaikan. Oleh karena itu, menulis atau
curhat (curahan hati) seringkali dijadikan sebagai alat terapi untuk mengobati
stres.[1]
Bahasa
digunakan juga sebagai alat komunikasi. Untuk dapat berkomunikasi dengan baik
seseorang membutuhkan bahasa. Bahasa merupakan sarana agar apa yang ingin
disampaikan kepada orang lain dapat diterima dan dipahami. Penyampaian tersebut
dapat dilakukan dengan dua cara, yakni secara verbal maupun nonverbal.
Komunikasi verbal berkaitan dengan komunikasi langsung atau dengan lisan,
sedangkan komunikasi nonverbal berarti komunikasi tak langsung atau tulis.[2]
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
menyebutkan bahwa bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang
digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan
mengidentifikasi diri. Arbitrer adalah suatu ketidakharusan bahwa suatu rangkaian
bunyi tertentu mengandung arti yang tertentu pula. Contohnya seperti kata angsa,
orang Betawi menyebutnya dengan soang, dan orang Jawa menyebutnya dengan
banyak. Semua itu tergantung pada kesepakatan tiap individu masyarakat disuatu
wilayah tertentu dan menunjukkan bahasa sebagai tolak ukur karakteristik, perangai,
dan kesantunan suatu bangsa.
B. Bahasa
Alay
Bahasa
alay merupakan gabungan dari beberapa unsur modifikasi bahasa dan unsur-unsur
variasi bahasa, gejala bahasa, slang, semantik dan bahasa gaul. Perkembangan
bahasa alay sebelumnya didahului oleh bahasa gaul yang tidak kalah hebohnya.
Bahasa alay mulai muncul dan berkembang seiring dengan pesatnya penggunaan
jejaring sosial.
Menurut
Koentjara Ningrat (2012) “alay adalah gejala yang dialami pemuda-pemudi
Indonesia, yang ingin diakui statusnya di antara teman-temannya. Gejala ini
akan mengubah gaya tulisan dan gaya berpakain sekaligus meningkatkan
kenarsisan”.[3]
Kata alay
sebenarnya merupakan singkatan dari ‘anak lebay’. Dan kata ‘lebay’ sendiri merupakan
plesetan dari kata ‘lebih’ di mana anak-anak tersebut sering didefinisikan
sebagai anak-anak yang berkelakuan ‘tidak biasa’ atau dapat dikatakan
berlebihan. Berikut contoh kata-kata alay yang belakangan ini marak digunakan.
1.
Serius : Cius
2.
Demi
apa : Mi apa
3.
Sungguh : Cungguh
4.
Aku : akyuh
5.
Iya : ‘Ea’, ‘Yupz’
6.
Semangat : Cemungut
7.
Sangat : Badai
Selain itu, terdapat pula kamus kumpulan kumpulan
kata-kata alay yang berisi kosa kata dan singkatan yang tidak lazim dalam
penggunaan bahasa Indonesia. Misalnya saja kata KEPO yang merupakan akronim
dari Knowing every Particular Object, adalah sebutan untuk orang yang ingin
serba tahu detail dari sesuatu.
C. Sinetron
“Anak Jalanan” RCTI
Anak
jalanan merupakan sebuah sinetron produksi Sinemart
yang ditayangkan di RCTI. Sinetron ini mulai tayang pada hari Senin, 12 Oktober
2015. Pemeran yang terlibat di dalamnya ialah Stefen William, Natasha Wilona,
Immanuel Caesar Hito, Cut Meyriska, Megan Domani, Mezty Mez dan masih banyak
lagi. Sinetron ini mengisahkan tentang percintaa remaja SMA di tengah intrik
geng motor yang saling bersitegang, antara geng Warrior dan Serigala.
Sinopsis
Boy
(Stefan William) adalah seorang remaja berpenampilan urakan dan cuek tetapi
juga saleh dan tampan. Gaya Boy yang keren dan gagah saat mengendarai motor dan
sering memenangkan balapan, membuat ia digilai gadis-gadis seusianya. Sikapnya
yang penuh kharisma khas anak muda, membuatnya ditunjuk sebagai ketua
perkumpulan anak motor Warrior. Tidak hanya di area balap, di sekolah pun Boy
menjadi idola. Sikapnya yang ramah, cuek tapi pintar dan atletis, membuatnya selalu
menjadi pusat perhatian.
Tentu saja
Boy tidak terlalu menanggapi perasaan gadis-gadis yang memujanya. Di hatinya
hanya ada 1 wanita, Adriana (Cut Meyriska), mantan pacarnya yang sangat ia
sayangi, yang kemudian meninggalkannya hanya karena seorang pria yang jauh
lebih tua dan kaya. Sikap Adriana yang seperti itu menyisakan luka yang ada di
dalam hati Boy.
Pada
akhirnya Boy bertemu dengan Reva (Natasha Wilona), gadis yang ditolongnya,
karena sempat terlibat kejar-kejaran dengan geng motor lain. Awalnya Boy
terkejut saat tahu pengendara motor yang ditolongnya adalah seorang gadis
cantik. Boy pun kagum dengan kelihaian Reva dalam mengendalikan motornya.
Sayang, Reva kesal sekali dengan Boy dan geng motornya, karena telah
menyebabkannya terlibat perselisihan antar geng motor. Geng Motor pimpinan
Mondy (Immanuel Caesar Hito) menyangka Reva adalah anggota Warrior. Boy
tertohok dengan perkataan Reva. Ia jadi merasa bersalah, karena bisa saja
korban kesalahpahaman ini telah terjadi pada banyak orang, bukan hanya Reva.
Boy pun berencana membubarkan geng motornya. Tentu saja hal ini ditentang oleh
teman-temannya. Beberapa teman Boy berusaha memanfaatkan kesempatan itu untuk
mengambil alih kepemimpinan Boy sebagai ketua.
Reva
sendiri adalah anak pengusaha kaya, Bei (Adipura), yang memilih kebut-kebutan
dengan motornya sebagai bentuk pemberontakan terhadap sikap ayahnya yang
menikah lagi dengan gadis yang tidak beda jauh dari umurnya. Reva pun selalu
merasa istri baru papanya adalah penyebab kematian ibunya. Ibu Tiri Reva ini
adalah Adriana. Adriana selalu berusaha menjalankan berbagai macam cara untuk
memenangkan hati Reva, tetapi sikap benci Reva pada Adriana tidak tergoyahkan.
Sama-sama
menjadikan jalanan sebagai rumah kedua mereka, dengan menghabiskan waktu
mengendarai motor, membuat Boy dan Reva dekat. Motivasi mereka pun sama, tak
lain menjadikan jalanan sebagai tempat pelarian dari sikap frustasi mereka
terhadap kondisi keluarga mereka masing-masing. Boy sangat terkejut saat tahu
bahwa ibu tiri Reva adalah Adriana, mantan pacarnya. Sedangkan Adriana
memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil hati Reva.
Sinetron
ini dikemas dengan gaya remaja masa kini dan menonjolkan aksi balapan,
perselisihan antar geng motor, kisah cinta, serta gaya bicara kurang lazim
(baca: dari segi penggunaan sering disebut dengan bahasa alay) yang kerap kali
digunakan oleh pemeran dalam berdialog. Daya tarik sinetron ini tidak hanya
dari segi perselisihan antar geng motor dan kisah cintanya saja, penggunaan
bahasa alay yang terdapat di dalamnya juga ikut menyedot antusiasme penonton.
Setiap tutur kata yang diucapkan dalam sinetron ini menjadi tren dan
memengaruhi penonton dalam hal penggunaan bahasa alay.
D. Teori
Kepribadian Menurut Perspektif Social
Learning Albert Bandura
1.
Manusia dalam Pandangan Albert Bandura
Berdasarkan
pandangan Bandura, manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang berpikir dan
sadar untuk mengatur tingkah lakunya sendiri. Manusia bukan pion atau bidak
yang mudah dipengaruhi dan dimanipulasi oleh lingkungan. Hubungan manusia
dengan lingkungan bersifat saling memengaruhi satu sama lain (reciprocal determinism).[4]
Kepribadian
manusia berkembang dalam konteks sosial dan berinteraksi satu sama lainnya.
Manusia dapat mengatur perilakunya sendiri dengan mengubah tanggapan kognitif
terhadap anteseden dan mengatur sendiri reinforcement
yang diberikan kepada dirinya. Tingkah laku manusia merupakan hasil interaksi
timbal balik yang terus menerus dengan faktor-faktor penentu.[5]
2.
Teori Belajar Sosial
Teori
belajar sosial menekankan pentingnya belajar observasional, imitasi, dan modeling. “Belajar akan sangat susah dan berbahaya, jika manusia hanya
mengandalkan efek dari tindakan sendiri untuk memberitahu apa yang harus
dilakukan,” Bandura terus-menerus mengintegrasikan teori interaksi antara
perilaku, kognisi, dan lingkungan.[6]
a.
Reciprocal
Determinism dan the Self-Syestem
Bandura
mengjritik Skinner karena terlalu ekstrim dalam menekankan faktor eksternal
sebagai penentu utama sebuah perilaku. Menurutnya, teori Skinner tidak lengkap
dan mengabaikan sifat manusia, karena tidak memperhitungkan proses internal
yang menjadi panduan perilaku. Bandura juga mengkritik teori-teori
psikoanalitis yang menggunakan penalaran melingkar dalam membahas kekuatan alam
bawah sadar yang mendasari perilaku. Sebagai contoh, untuk menjelaskan perilaku
bermusuhan, menurut psikoanalisis terjadi karena adanya implus agresif atau
terdapat dominasi motif-motif kekuasaan. Konsep tidak sadar psikoanalisis tidak
memberitahu kita mengenai sesuatu yang berada di atas dan di luar kenyataan
perilaku yang ada. Bandura merasa bahwa ilmu perilaku yang dikonstruksi seperti
itu tidak terlalu membantu untuk meramalkan sikap seseorang dalam situasi
tertentu, atau menjelaskan variasi berbagai perilaku dalam situasi yang
berbeda.[7]
Menurut
Bandura (1978), perilaku manusia disebabkan oleh determinisme timbal-balik yang
melibatkan perilaku, kognitif, dan faktor lingkungan. Ketiga faktor tersebut
“saling menentukan” satu sama lain. Jika
digambarkan, akan terlihat dalam diagram seperti berikut.[8]

Diagram Determinise Timbal Balik
Gambar
1.1
Berdasarkan diagram di atas, B (behavior = perilaku), P (person
= orang), dan E (environment =
lingkungan). Masing-masing faktor akan menunjuk ke arah anak panah itu dan
menuju dua lainnya (Gambar 1.1) untuk menunjukan interaksi timbal-balik mereka.
dalam konsep determinisme timbal-balik, selain rangsangan lingkungan faktor
pribadi seperti keyakinan dan harapan memengaruhi bagaimana kita berperilaku.
Sebagai contoh, apabila kita merencanakan untuk makan di rumah makan, maka menu
yang kita pilih tidak hanya ditentukan oleh menu dan rangsangan lingkungan
lainnya, tetapi juga oleh sikap kita terhadap makanan tertentu, serta harapan
kita terhadap makanan tersebut. Cara berpeilaku tersebut akan membantu kita
dalam mengubah lingkungan.[9]
b.
Belajar Melalui Observasi
Bandura
menunjukkan bahwa sebagian besar perilaku manusia dipelajari berdasarkan model,
buka melalui proses pengondisian klasik dan instrumental.[10]
Bandura
menyatakan bahwa perilaku tersebut dipelajari melauli pengamatan, baik secara
mendalam maupun tanpa sengaja. Cara ini dilakukan anak-anak pada saat bermain,
melakukan pekerjaan rumah tangga, dan mengembangkan keterampilan lain seperti
naik sepeda. Pada awalnya, anak belajar berbicara dengan mendengarkan orang
lain bicara lalu menirunya. Jika belajar bahasa sangat bergantung pada
pengondisian klasik atau pengondisian instrumental, maka hal tersebut tidak
dapat dilakukan dengan mudah, karena anak tidak mendapatkan penguatan sampai
mereka mengucapkan kata-kata tersebut dengan spontan. Dalam keseharian orang
tua mengulang sebuah kata secara berulang-ulang di depan anak-anaknya yang
sedng beajar bicara, kemudian anak tersebut menirunya.[11]
Belajar
melalui pengamatan juga mencakup perilaku baru. Para pengamat bahkan mampu
menyeleaikan suatu masalah secara langsung meskipun model yang ditirunya gagal
untuk menyelesaikan masalah yang sama. Jadi, belajar melalui observasional
melebihi imitasi: pengamat model akan belajar dari keberhasilan maupun
kegagalan modelnya. Belajar melalui pengamatan dapat menjelaskan inovasi dan
perilaku kreatif. Bandura menyatakan bahwa pengamat menarik feature serupa dari tanggapan yang
berbeda dan menciptakan aturan-aturan perilaku yang memungkinkan mereka dapat
melampaui apa yang mereka lihat atau dengar. Melalui sintesis jenis ini, mereka
mampu mengembangkan pola-pola perilaku baru yang mungkin akan berbeda dari
perilaku yang diamati.[12]
c.
Proses Belajar
Bandura
percaya bahwa pembelajaran melalui model banyak terjadi melalui informasi.
Belajar melalui pengamatan tidaklah sesederhana imitasi. Prosesnya bersifat
aktif dan konstruktif. Belajar melalui pengamatn diatur oleh empat proses yang
saling terkait: proses pemerhatian, proses retensi, proses reproduksi motoric,
dan proses motivasional.[13]
Pertama, proses pemerhatian. Beberapa
variabel yang turut berpengaruh terhadap proses belajar di anatarnya berkaitan
dengan karakteristik model, sifat kegiatan, dan orang yang menjadi subjek.
Beberapa model lebih mudah ditiru dibandingkan dengan model yang memiliki dya
tarik interpersonal yang rendah.[14]
Bandura
menunjukkan bahwa asosiasi-asosiasi tertentu menentukan jenis kegiatan yang
akan ditiru. Sebagai contoh, mereka yang tinggal di pusat kota yang banyak
geng-geng bermusuhan yang seing konflik akan mempelajari cara-cara agresif
dalam berespons dibandingkan dengan mereka yang dibesarkan di sebuah masyarakat
yang pasif. Keberadaan televise telah membantu memperluas rentang model untuk
ditiru oleh masyarakat sekarang, berbeda dengan kakek-nenek buyut kita dulu
yang memiliki model terbatas untuk ditiru, karena hanya anggota keluarga atau
masyarakat sekitar.[15]
Kedua, proses retensi.ketika Anda
mengamati perilaku seseorang dan segera menirunya, maka Anda akan
menggunakannya sebagai panduan untuk bertindak pada kesempatan lain. Ada dua
bentuk dasar system symbol atau representasi yang membantu belajar
observasional, yaitu imaginatif dan verbal. Contoh, jika Anda menginginkan
“burger”, maka Anda dapat mengingat kata-kata burger atau mengembangkan citra
visual dua roti daging sapi, saus special, selada, keju, acar, bawang merah,
dan wijen biji bun. Simbol ini kemudian muncul dalam bentuk bayangan, meskipun
sebenarnya bendanya tidak ada.[16]
Ketiga,
proses reproduksi motoric. Dalam rangka meniru model, seorang individu harus
mengubah representasi simbolis dari pengamatan ke bentuk tindakan. Perilaku
yang dimunculkan harus memiliki kesamaan dengan perilaku asal. Proses
reproduksi motorik melibatkan empat subtahapan: organisasi respons kognitif,
inisiasi respons, pemantauan respons, dan penyempurnaan respons. Keterampilan
yang kita pelajari melalui pengamatan belajar perlahan-lahan disempurnakan
melalui proses trial and error. Kita
mengikuti perilaku model dan kemudian berusaha untuk memperbaikinya melalui
penyesuaian dan umpan balik. [17]
Keempat,
motivasi. Teori belajar sosial membedakan antara akusisi (kemampuan seseorang
dalam belajar) dan kinerja (apa yang sebenarnya telah dilakukan). Kita tidak
selalu menentukan sebuah perilaku yang sudah kita pelajari. Sebagai contoh,
mungkin sebagian besar dari kita memiliki pengetahuan toeritis untuk merampok
toko. Kita telah melihat perampokan dalam kehidupan nyata atau televise, dan
kita tahu bentuk-bentuk perilaku yang ada ketika melakukan kejahatan itu.
Namun, ini tidak berarti bahwa kita akan melakukannya. Kita cenderung melakukan
sebuah perilaku seperti yang dilakukan model, apabila perilaku tersebut kita nilai
memiliki konsekuensi yang baik, atau setidaknya memiliki konsekuensi hukuman
yang kecil.[18]
Belajar
observasioanal juga akan mempertimbangkan konsekuensi dari perilaku orang lain
yang akan memberikan penguatan kepada diri. Kita akan memberikan tanggapan evaluatif
terhadap perilaku kita sendiri. Hal ini membuat kita akan melakukan perilaku
tertentu yang memuaskan diri sendiri dan orang lain, serta menolak perilaku
yang tidak disetujui atau membuat orang lain tidak merasa nyaman.[19]
3.
Struktur Kepribadian
a.
Sistem Diri (Self
System)
Bandura
mengajukan sebuah konsep yang memiliki peran penting dalam kepribadian, yang ia
sebut dengan self-system, satu set
proses kognitif yang individu gunakan untuk mempersepsi, mengevaluasi, dan
meregulasi perilakunya sendiri agar sesuai dengan lingkungannya dan efektif
dalam mencapai tujuan yang ingin dicapai. Oleh karena itu, individu tidak hanya
dipengaruhi oleh proses reinforcement
eksternal yang disediakan lingkungan, tetapi juga oleh ekspektasi, reinforcement, pikiran, rencana, tujuan
atau proses internal dari diri. Aspek kognitif yang aktif dalam diri individu
sangat penting dalam pembelajaran. Selain berespon terhadap reinforcement langsung dengan mengubah perilaku
di masa depan, orang dapat berpikir dan mengantisipasi pengaruh dari
lingkungan. Individu dapat mengantisipasi konsekuensi yang mungkin akan timbul
dari perilakunya sehingga mereka memilih tindakan berdasarkan respons yang
dihadapkan dari lingkungan dan masyarakat.[20]
Walaupun
teori pembelajaran klasik mengasumsikan bahwa perilaku seseorang berubah
sepanjang waktu karena pengaruh langsung dari reinforcement dan hukuman melalui hubungan stimulus-respons, teori
Bandura menyatakan bahwa pengaruh reinforcement
sebelumnya akan terinternalisasikan dan perilaku berubah karena berubahnya
pengetahuan dan ekspektasi seseorang.[21]
b.
Efikasi Diri (Self
Efficacy)
Menurut
Bandura, dari semua pemikiran yang memengaruhi fungsi manusia, dan merupakan
bagian paling inti dari teori kognitif sosial adalah efikasi diri (self efficacy). Efikasi diri adalah
“penilaian diri terhadap kemampuan diri untuk mengatur dan melaksanakan
tindakan yang diperlukan untuk mencapai kinerja yang ditetapkan”. Efikasi diri
memberikan dasar bagi motivasi manusia, kesejahteraan, dan prestasi pribadi. Hal
ini terjadi karena mereka percaya bahwa tindakan yang dilakukannya dapat
mencapai hasil yang diinginkan, meskipun memiliki sedikit insetif untuk
bertindak atau untuk bertahan dalam mengahadapi kesulitan.[22]
Efikasi
diri menyentuh hampir semua aspek kehidupan manusia, apakah mereka berpikir
secara produktif, pesimis atau optimis, seberapa baik mereka memotivasi diri
dan bertahan dalam menghadapi kesengsaraan, dan kerentanan mereka terhadap
stres dan depresi, dan pilihan-pilihan yang mereka buat. Efikasi diri juga
merupakan determinan penting bagi pengaturan diri (self regulation).[23]
Efikasi
diri tidak boleh dikacaukan dengan penilaian tentang konsekuensi yang akan
dihasilkan dari sebuah perilaku, tetapi akan membantu menentukan hasil yang
diharapkan. Kepecayaan diri pada individu akan membantu mencapai keberhasilan.[24]
c.
Regulasi Diri (Self
Regulation)
Regulasi
diri adalah proses di mana seseorang dapat mengatur pencapaian dan aksi mereka
sendiri, menentukan target untuk diri mereka, mengevaluasi kesuksesan mereka
saat mencapai target tersebut, dan memberi penghargaan pada diri mereka sendiri
karena telah mencapai tujuan tersebut. Konsep self-efficacy adalah elemen penting dari proses ini, yang memengaruhi
pilihan target dan tingkat pencapaian yang diharapkan. Salah satu hal penting
yang perlu diperhatikan adalah skema yang individu miliki, yang mendasari
bagaimana orang memahami dan berperilaku dalam lingkungannya. Konstruk regulasi
diri menitikberatkan pada kontrol internal (interpersonal) perilaku kita.
Proses regulasi diri memiliki relevansi yang luas terhadap banyak bidang,
terutama bidang kesehatan dan pendidikan, yang merupakan bidang di mana
pemahaman yang lebih baik mengenai bagaimana orang melatih kontrol perilaku
mereka sendiri akan berdampak pada meningkatnya keberhasilan masyarakat dalam
bidang pendidikan dan kesehatan.[25]
4.
Pribadi Sehat dan Tidak Sehat
Bandura
menunjukkan bahwa orang-orang yang berperilaku tidak normal adalah orang yang
memiliki efikasi diri yang rendah. Mereka tidak percaya bahwa dirinya dapat
melakukan tindakan yang memberi kemungkinan untuk berhasil. Rendahnya keyakinan
ini membuat mereka menghindari situasi yang menurutnya mengancam, dan cara yang
dilakukannya adalah dengan melakukan tindakan tertentu, yang kemudian dicap
sebagai tidak wajar (tidak normal). Sebaliknya, orang yang berperilaku sehat
memiliki efikasi diri yang tinggi. Mereka mampu berpikir produktif, optimis,
memotivasi diri dan bertahan dalam mengahadapi kesengsaraan, dan kerentanan
mereka terhadap stres dan depresi, dan pilihan-pilihan hidup yang mereka buat. [26]
5.
Psikoterapi dan Modifikasi Perilaku
Pengamatan
adalah pusat dalam pembelajaran perilaku dan berguna dalam memodifikasi
perilaku yang tidak diinginkan. Bandura mengembangkan teknik-teknik modifikasi
perilaku sistematis dengan menggunakan model sebagai bantuan (modeling). Cara ini telah digunakan
untuk mengurangi rasa takut pada anak-anak dan orang dewasa, membuat anak-anak
yang agresif (hyperaggressive) dan
dominan meenjadi lebih kooperatif, mengajarkan keterampilan bahasa pada
anak-anak autis, meningkatkan kemampuan berkomunikasi pada pasien psikiatris asosial,
mengurangi kecemasan dan meningkatkan prestasi pada mahasiswa, serta
memfasilitasi perubahan perilaku lainnya.
Pada
setiap kasus, pemodelan (modelling) menjelaskan cara yang tepat dalam menangani
situasi, yang mendorong klien untuk meniru model. Sebagai contoh, untuk
menghilangkan fobia terhadap binatang, pada awalnya subjek mungkin menonton film
yang memperlihatkan model yang berinteraksi dengan binatang yang dia takuti,
selanjutnya klien mulai didorong untuk terlibat dalam interaksi yang semakin
akrab dengan hewan tersebut. Prosedur ini menunjukkan bahwa model ini telah
mengurangi ketakutan dan membuat perubahan perilaku.
Strategi
terapeutik Bandura dirancang untuk membantu klien meningkatkan persepsi
terhadap efikasi dirinya. Dia merekomendasikan kepada terapis untuk menggunakan
variasi teknik dalam meningkatkan kepercayaan diri klien. Misalnya, untuk
menangani penderita agoraphobics
(orang-orang yang takut tempat-tempat umum), Bandura menggunakan sejumlah
prosedur yang berbeda. Awalnya, Bandura bertemu dengan agoraphobic (penderita agoraphobia) dalam kelompok-kelompok kecil,
kemudian dia atau co-therapist
membantu mereka untuk mengidentifikasi dan menciptakan situasi yang
membangkitkan rasa takutnya. Dia juga mengajarkan klien cara menggunakan teknik
relaksasi dan cara mengembangkitkan pikiran yang positif. Kemudian, dia
mendorong kliennya untuk berinteraksi dengan objek secara langsung.
Banyak
pola perilaku yang tidak bermanfaat secara langsung, tetapi efeknya akan
dirasakan dalam jangka panjang. Contohnya, kasus orang yang suka makan
berlebihan, merokok, alcohol dan narkoba. Dalam hal ini tugas terapis adalah
membantu individu memperoleh kemampuan untuk mengendalikan perilakunya. Ada
beberapa elemen berbeda yang terlibat dalam pengendalian diri, tapi satu hal
yang penting menurut Bandura adalah penunda pemuasan. [27]
BAB III
PEMBAHASAN
A. Identifikasi
Masalah
Penulis melakukan pengamatan mengenai bahasa alay di
Cilulumpang-Sukabumi dengan menggunakan teknik analisis data berupa angket
kepada 2 orang. Berikut daftar pertanyaannya.
Nama :
Kelas :
Jenis Kelamin :
Usia :
PETUNJUK
1.
Jawablah
pertanyaan yang ada dengan jujur.
2.
Isilah
biodata Anda jika berkenan (nama boleh disamarkan).
Jawablah pertanyaan di bawah
ini dengan memberi tanda (X) pada jawaban yang disediakan!
1.
Saya
suka menonton televisi.
a.
Ya b. Tidak
2.
Saya
suka menonton sinetron.
a.
Ya b. Tidak
3.
Sinetron
yang saya tonton adalah Anak Jalanan.
a.
Ya b. Tidak
4.
Apakah
Anda rutin menonton sinetron tersebut? Berikan alasan!
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
5.
Siapa
tokoh favorit Anda dalam sinetron Anak Jalanan? Berikan alasan!
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
6.
Apakah
Anda sering mengadopsi adegan yang ada di sinetron Anak Jalanan? Jika ada
sebutkan adegan apa!
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
7.
Apakah
Anda mengadopsi gaya bahasa yang digunakan di sinetron Anak Jalanan? Berikan
alasan!
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
8.
Bahasa
apa yang sering Anda tirukan? Berikan alasan!
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
9.
Apakah
bahasa tersebut Anda praktikan dalam kehidupan sehari-hari? Berikan alasan!
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil pengolahan
angket, responden yang penulis amati menunjukkan keadaan di mana mereka
terindikasi penggunaan bahasa alay yang terdapat di sinetron “Anak Jalanan” dan
mempraktikannya dalam keseharian. Bahasa tersebut bagi mereka menarik dan terdengar
lucu. Selain itu, alasan lain mengapa mereka menggunakan bahasa tersebut, tak
lain mengikuti tren yang sedang disoroti oleh teman sebaya di lingkungan
sekitar rumah maupun sekolah. Baik Kirey maupun Alifia, bahasa alay tersebut
sering digunakannya ketika mereka berkumpul dengan teman.
Berdasarkan jawaban yang diberikan Kirey dan Alifia,
mereka terinpirasi oleh bahasa tersebut dan tertarik untuk menggunakannya dalam
kehidupan sehari-hari. Terlepas dari alasan rasa tertarik dan terinpirasi,
mereka menggunakan bahasa alay karena banyak orang yang menggunakan gaya bahasa
tersebut. Hal itu membuat mereka tidak merasa sangsi lagi untuk menggunakan
bahasa tersebut dalam keseharian. Meski mereka tidak rutin menonton sinetron
“Anak Jalanan”, karena tersita oleh waktu pengajian, mereka tidak tertinggal
informasi mengenai perkembangan jalan cerita dan bahasa baru dari sinetron
tersebut. Perlu diketahui, mereka hanya
mengikuti gaya bahasa yang terdapat dalam sinetron “Anak Jalanan” tanpa
mengadopsi adegan yang ada ditontonkan sinetron.
B. Identifikasi
Faktor Penyebab
Penggunaan
bahasa Indonesia dan sunda yang biasanya digunakan oleh Alifia dan Kirey dalam
sehari-hari telah mengalami perubahan. Penggunaan bahasa Indonesia yang baik
seakan lenyap di telan waktu. Kebanyakan remaja masa kini sudah memodifikasi
bahasa tersebut menjadi suatu bahasa yang hanya dapat dimengerti oleh mereka
yang mempraktikkannya. Bagi mereka yang tidak terbiasa mendengar bahasa
tersebut tentu akan merasa aneh dan asing jika tertangkap oleh indera
pendengaran. Sebagai contoh, istilah umum yang digunakan untuk menyatakan
keraguaan telah mengalami modifikasi: “Serius? Demi apa?” Berubah menjadi
“Cius? Mi apa?”. Perubahan kata tersebut, bahkan digunakan dalam produk iklan
dan ditayangkan setiap hari di layar kaca.
Penyebab
maraknya penggunaan bahasa alay di kalangan Remaja, tak lain disebabkan karena
penayangan sinetron-sinetron di layar kaca, salah satunya sinetron “Anak
Jalanan”. Penggunaan bahasa dalam sinetron tersebut membawa pengaruh pada gaya
bahasa remaja masa kini. Mereka menganggap bahasa alay sebagai suatu tren baru dan
kekinian. Sebelum penayangan sinetron-sinetron sejenis seperti “Anak Jalanan”,
Alifia dan Kirey belum terindikasi bahasa tersebut dan masih menggunakan bahasa
Indonesia yang baik dan bahasa Sunda dalam keseharian. Mereka mulai menggunakan
bahasa alay setelah penayangan sejumlah sinetron remaja yang mewarnai layar
kaca beberapa tahun terakhir dan dalam waktu yang belum lama ini. Mereka menggunakan
bahasa alay karena banyak orang yang mempraktikannya. Selain itu, mereka juga
menganggap bahasa yang digunakan dalam sinetron tersebut sangat menarik, lucu,
dan sangat menginpirasi. Umumnya, bahasa tersebut mereka gunakan ketika
berinteraksi dengan sebayanya sebagai bentuk guyonan. Selebihnya, mereka
mengadopsi gaya bahasa tersebut karena ingin terlihat sebagai remaja kekinian.
C.
Analisis Masalah
1.
Diagnosis
Berdasarkan
pengamatan yang penulis lakukan, kasus ini tidak dapat dimasukkan dalam kategori gangguan
kepribadian. Alifia dan Kirey menggunakan bahasa alay untuk mengikuti tren yang
sedang menggaung di tengah masyarakat. Mereka masih berperilaku sesuai dengan
aturan dan norma yang berlaku di masyarakat. Bahasa tersebut umumnya menjangkit
remaja, khususnya bagi mereka yang baru memasuki tahap remaja awal (pubertas).
Faktor utama yang menyebabkan bahasa tersebut menjadi sesuatu yang tidak asing
lagi di telinga masyarakat, disebabkan karena banyak sejumlah sinetron remaja
yang tayang di layar kaca, dengan menonjolkan penggunaan bahasa Indonesia yang
telah dimodifikasi guna menarik perhatian penonton. Sebagai contoh, sinetron
“Anak Jalanan” yang akhir-akhir ini tengah melanda Indonesia dan begitu
diminati oleh remaja, juga menggunakan bahasa tersebut di dalamnya.
Bahasa
alay yang digunakan dalam sinetron tersebut masih berada dalam taraf wajar.
Hanya pada beberapa dialog saja bahasa tersebut digunakan. Misalnya, kata
‘keles’, ‘yang bener bae’, ‘banyak binggo’, ‘bebeb’ dan sebagainya. Bahasa
tersebut diadopsi oleh Alifia dan Kirey dan mempraktikkannya dalam keseharian.
Mereka biasa menggunakan bahasa tersebut ketika sedang berinteraksi dengan
teman sebaya atau dijadikan sebagai bahan guyonan. Mereka tidak merasa sangsi
untuk menggunakan bahasa tersebut, karena banyak orang yang mempraktikkannya
dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan
teori Bandura, anak belajar berbicara dengan mendengarkan orang lain bicara
lalu menirunya. Hal tersebut sama seperti halnya Alifia dan Kirey. Namun,
mereka sudah melewati fase tersebut. Kini, mereka meniru gaya bahasa yang
dianggapnya menarik dan sedang menjadi tren. Hadirnya bahasa alay di layar kaca
sebagai akibat dari penayangan sinetron, menjadi acuan keduanya untuk meniru
bahasa yang ada dan memperaktikannya dalam keseharian.
2.
Prognosis
Mengingat masalah yang dihadapi Alifia dan Kirey masih
dalam kategori ringan, dapat diberikan terapis berupa pengendalian diri untuk
membantu mereka kembali menggunakan bahasa Indonesia yang baik. Penggunaan
bahasa alay dalam bergaul bukan suatu hal yang melanggar hukum. Meskipun bahasa
alay tidak bermanfaat secara langsung, tetapi efeknya akan dirasakan dalam
jangka panjang. Jika penggunaan bahasa alay terus-menerus dikonsumsi oleh
remaja, aturan bahasa Indonesia yang baik akan hilang tergantikan oleh bahasa
tersebut di masa yang akan datang.
3.
Terapi
Bantuan yang diberikan kepada Alifia dan Kirey guna
kembali menggunakan bahasa Indonesia yang baik, yakni dengan mengadopsi
bebarapa terapi yang terdapat dalam teori Bandura. Terapi yang umum digunakan
biasanya terapi kontrol diri. Dalam terapi tersebut terdapat beberapa indikator
yang dirancang untuk memunculkan perubahan perilaku.
Pertama, terapi gerafik-gerafik behavioral. Dalam tahap ini,
individu diminta untuk terus-menerus mengawasi perilukunya sendiri, baik
sebelum mengalami perubahan atau setelahnya. Terapi ini dapat diberikan kepada
Kirey dan Alifia dengan mengamati perilakunya sendiri, lalu menuangkannya ke
dalam buku harian mengenai banyak bahasa alay yang digunakannya dalam sehari.
Kedua, perencanaan lingkungan. Di sini individu diminta
untuk menggunakan catatan harian sebagai patokan. Selanjutnya, individu
berusaha mengubah lingkungannya. Dalam tahap kedua, baik Alifia maupun Kirey
dapat menggunakan kembali buku harian yang mereka tulis sebagai patokan.
Kemudian mengubah lingkungan mereka dengan menghilangkan beberapa faktor yang
membawa pengaruh buruk, seperti mengurangi menonton televisi, terutama
sinetron. Dan mengalihkan kegiatan tersebut kepada hal-hal yang positif,
seperti rutin mengikuti pengajian dan belajar.
Ketiga, perjanjian diri. Pada tahap ini, individu harus
meminta bantuan pihak lain dalam mengawasi perilaku kita. Begitu juga dengan
Alifia dan Kirey, mereka harus meminta bantuna teman atau orang tua untuk
mengamati perilaku mereka. Apakah mereka mematuhi perjanjian itu atau tidak. Di
sini, individu bersiap diri dalam menerima imbalan dan hukuman atas keberhsilan
akan perubahan pada perilaku serta hukuman akan kegagalan dalam ketidakberhasilan
melakukan perubahan.
D.
Alternatif Penanganan
Alternatif
lain yang dapat diberikan, jika seumpamanya terapi yang diberikan tidak
menunjukkan perubahan yang berarti, terapis atau konselor harus meminta bantuan
beberapa pihak, seperti orang tua, yang lebih mengetahui perkembangan diri dari
klien atau konseli. Pertama, orang
tua memiliki waktu banyak dalam mengawasi perilaku anaknya di rumah. Di sini,
orang tua harus selalu mengawasi tontonan anak tanpa mereka merasa curiga. Kedua, mengatur jadwal anak di depan
telivisi. Ketiga, mengajak anak
diskusi mengenai tontonan yang dilihatnya. Apabila anak mulai membahas apa saja
yang ditontonnya dan tertarik dengan salah satu adegan atau bahasa yang
digunakan dalam tontonan anak, orang tua harus memantau daya tarik anak
terhadap tontonan tersebut. Jika anak mulai mempraktikkannya dalam keseharian
dan menjadi kebiasaan, orang tua harus segera bertindak guna mencegah hal
tersebut memengaruhi perilakunya anak di masa depan.
BAB IV
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan
hasil pengamatan yang penulis lakukan, penggunaan bahasa alay pada Alifia dan
Kirey bermula ketika layar pertelevisian Indonesia gemar menayangkan sinetron-sinetron remaja
berbau percintaan dengan gaya bahasa yang digunakan di dalamnya berupa bahasa
Indonesia yang telah dimodifikasi sedemikian rupa, seperti halnya penggunaan
bahasa di sinetron “Anak Jalanan”. Sebagai contoh, penggunaan kata ‘sayang’
dalam sinetron tersebut telah dimodifikasi menjadi ‘bebeb’. Kini, bahasa
tersebut populer di kalangan remaja Indonesia dan menjadi sebuah tren baru yang
diikuti oleh semua remaja. Selain akibat akan penayangan sinetron di layar
kaca, penggunaan bahasa alay digunakan tanpa sangsi dan sungkan oleh remaja
termasuk Alifia dan Kirey, karena banyak orang di luar sana memperaktikkan
bahasa tersebut dalam keseharian.
B. Saran
Berdasarkan
pembahasan pada laporan ini, maka ada beberapa hal yang ingin penulis
samapikan, di antaranya:
1.
Bagi
Pembaca
Laporan
ini berisi mengenai penggunaan bahasa alay sebagai akibat pengaruh dari
sinetron “Anak Jalanan” di RCTI. Laporan ini tidak hanya menyajikan dari segi
bahasa alay itu sendiri dan faktor penyebab seseorang menggunakan bahasa
tersebut, tetapi membahas pula teori kepribadian dari Albert Bandura yang
terkenal dengan teori pembelajaran sosialnya. Maka dari itu, laporan ini dapat
dijadikan sumber rujukan atau daftar bacaan yang berbobot dan bermanfaat.
2.
Bagi
Responden
Sebaiknya responden mengurangi tontonan
sinetron dan membatasi diri dalam mengikuti tren yang tengah menggaung, guna
menjaga bahasa daerah agar tidak tetap terjaga eksistensinya, begitu juga
dengan penggunaan bahasa Indonesia yang baik.
3.
Bagi
Penulis Sekenario Sinetron
Sebagai
seorang penulis yang mengerti kaidah bahasa Indonesia yang baik. Seharusnya penggunaan
bahasa dalam dialog antar tokoh harus diperhatikan. Sebaiknya, penggunaan
bahasa alay dalam sinetron dihilangkan, karena efeknya akan dirasakan dalam
jangka panjang. Seperti, hilangnya tatanan bahasa Indonesia yang baik di masa
yang akan datang. Hal tersebut disebabkan karena remaja Indonesia telah
terbiasa dan menganggap bahasa tersebut tidak menyalahi aturan yang terdapat
bahasa Indonesia.
DAFTAR
PUSTAKA
Friedman, Howard S and Miriam W. Schustack. 2008. Kepribadian: Teori Klasik dan Riset Modern. (Alih Bahasa: Ikarinim Fansiska
Dian, dkk). Jakarta: Erlangga.
Hikmat, Ade dan Nani Solihat. 2013. Bahasa
Indonesia. Jakarta: PT Grasindo.
Hidayat, Dede Rahmat. 2015. Teori dan Aplikasi Psikologi Kepribadian dalam Konseling. Cet. 2. Bogor: Ghalia Indonesia.
http://kartikawulan23.blogspot.co.id/2013/10/02/bahasa-alay/,
02 Januari 2016 pukul 19.31 WIB.
[1]
Ade Hikmat dan Nani Solihat, Bahasa Indonesia, (Jakarta: PT Grasindo,
2013), hlm. 20.
[2] Ibid.
[3]
Kartika Wulan, “Bahasa Alay,” Dikutip dari http://kartikawulan23.blogspot.co.id
pada 02 Januari 2016.
[4]
Dede Rahmat Hidayat, Teori dan Aplikasi Psikologi Kepribadian dalam
Konseling, (Bogor: Ghalia
Indonesia, 2015), hlm. 150.
[5] Ibid.
[6] Ibid.
[12] Dede
Rahmat Hidayat, Toeri dan Aplikasi Psikologi Kepribadian dalam Konseling,
(Bogor: Ghalia Indonesia, 2015),
hlm. 152-153.
[18] Dede Rahmat Hidayat, Ibid., hlm. 154.
[20] Howard S Friedman
and Miriam W.
Schustack, Kepribadian:
Teori Klasik dan Riset Modern, (Jakarta:
Erlangga, 2008), hlm. 276.
[21] Howard S Friedman and Miriam W.
Schustack, Kepribadian: Teori Klasik dan Riset Modern, (Jakarta: Erlangga, 2008), hlm. 276.
[25] Howard S Friedman and Miriam W.
Schustack, Kepribadian: Teori Klasik dan
Riset Modern, (Jakarta: Erlangga,
2008), hlm. 284.
[26] Dede Rahmat Hidayat, Toeri dan Aplikasi Psikologi Kepribadian
dalam Konseling, (Bogor: Ghalia
Indonesia, 2015), hlm. 158.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar