Selasa, 26 Januari 2016

PENGARUH TONTONAN SINETRON REMAJA “ANAK JALANAN” DI RCTI TERHADAP PENGGUNAAN BAHASA ALAY ANAK USIA 13-14 TAHUN DI CILULUMPANG-SUKABUMI MENURUT PERSPEKTIF SOCIAL LEARNING ALBERT BANDURA

BAB I
DESKRIPSI KASUS


A.      Identitas Responden
1.         Responden I
Nama                     : Kirey
Usia                        : 13 Tahun
Jenis Kelamin         : Perempuan
Asal Sekolah          : SMPN 4 Warungkiara
Agama                   : Islam
Alamat                   : Kp. Cilulumpang Rt001/009 Desa KertaMukti                                   Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi
2.         Responden II
Nama                     : Sarmilah
Usia                        : 14 Tahun
Jenis Kelamin         : Perempuan
Asal Sekolah          : SMPN 4 Warungkiara
Agama                   : Islam
Alamat                   : Kp. Cilulumpang Rt001/009 Desa KertaMukti Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi

B.       Gambaran Umum Kasus
Kasus yang dijadikan sebagai bahan untuk pengamatan didapat dari lingkungan tempat tinggal penulis sendiri. Melihat keadaan remaja di sana sangat menarik untuk dikaji. Meski mereka santri dan rutin mengikuti pengajian, tidak menjadi pengahalang untuk mereka mengikuti peralihan bahasa yang semakin hari mengalami perkembangan. Lahirnya bahasa alay di tengah-tengah masayarakat sebagai akibat sinetron-sinetron yang ditayangkan di layar kaca, membuat para remaja mengadopsi gaya bahasa tersebut dan mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Bahasa sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat telah mengalami perkembangan dari masa ke masa. Sebelum memasuki era reformasi, istilah bahasa gaul masih asing di telinga masyarakat. Bahasa gaul itu sendiri berasal dari bahasa prokem yang telah mengalami perkembangan. Bahasa prokem yang pada awalnya bahasa rahasia antarsesama kaum pencopet, bandit dan sebangsanya, kemudian berkembang lebih luas dan dipakai oleh kaum muda, pelajar dan mahasiswa dengan inovasi-inovasi baru di kalangan mereka sendiri.
Lahirnya bahasa alay di tengah masyarakat didahului oleh bahasa gaul yang tidak kalah hebohnya. Remaja masa kini banyak yang menggunakan bahasa tersebut dalam bergaul dengan sesamanya. Fenomena tersebut persis seperti yang dialami oleh dua responden yang penulis amati. Sebelum mengenal bahasa tersebut, baik Kirey maupun Alifia masih menggunakan bahasa Indonesia dipadu dengan bahasa sunda dalam berinteraksi dengan teman sebayanya. Mereka mulai menerapkan bahasa alay setelah penayangan sinetron-sinetron remaja di berbagai layar kaca, salah satunya sinetron “Anak Jalanan” yang saat ini tengah digandrungi oleh banyak remaja hingga orang dewasa.


BAB II
TINJAUAN TEORI


Sebelum membahas teori kepribadian dari Albert Bandura, penulis akan menjelaskan terlebih dahulu mengenai Bahasa, Bahasa Alay, dan Sinetron “Anak Jalanan” RCTI.

A.      Bahasa
       Bahasa sarana untuk mengungkapkan gagasan dan perasaan. Melalui bahasa kita dapat menyatakan secara terbuka segala sesuatu yang tersirat di dalam hati dan pikiran kita. Dengan demikian, apapun hal yang hendak disampaikan akan dapat diterima oleh siapa pun. Akan sangat sulit jika seseorang yang sedang marah, sedih, atau bahagia tidak dapat berbahasa. Hal ini akan membuat orang-orang di sekitarnya tidak mengerti apa yang diinginkannya. Dapat dibayangkan betapa sulitnya perasaan kita jika tidak tersampaikan. Oleh karena itu, menulis atau curhat (curahan hati) seringkali dijadikan sebagai alat terapi untuk mengobati stres.[1]
       Bahasa digunakan juga sebagai alat komunikasi. Untuk dapat berkomunikasi dengan baik seseorang membutuhkan bahasa. Bahasa merupakan sarana agar apa yang ingin disampaikan kepada orang lain dapat diterima dan dipahami. Penyampaian tersebut dapat dilakukan dengan dua cara, yakni secara verbal maupun nonverbal. Komunikasi verbal berkaitan dengan komunikasi langsung atau dengan lisan, sedangkan komunikasi nonverbal berarti komunikasi tak langsung atau tulis.[2]  
       Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyebutkan bahwa bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri. Arbitrer adalah suatu ketidakharusan bahwa suatu rangkaian bunyi tertentu mengandung arti yang tertentu pula. Contohnya seperti kata angsa, orang Betawi menyebutnya dengan soang, dan orang Jawa menyebutnya dengan banyak. Semua itu tergantung pada kesepakatan tiap individu masyarakat disuatu wilayah tertentu dan menunjukkan bahasa sebagai tolak ukur karakteristik, perangai, dan kesantunan suatu bangsa.
      
B.       Bahasa Alay
       Bahasa alay merupakan gabungan dari beberapa unsur modifikasi bahasa dan unsur-unsur variasi bahasa, gejala bahasa, slang, semantik dan bahasa gaul. Perkembangan bahasa alay sebelumnya didahului oleh bahasa gaul yang tidak kalah hebohnya. Bahasa alay mulai muncul dan berkembang seiring dengan pesatnya penggunaan jejaring sosial.
       Menurut Koentjara Ningrat (2012) “alay adalah gejala yang dialami pemuda-pemudi Indonesia, yang ingin diakui statusnya di antara teman-temannya. Gejala ini akan mengubah gaya tulisan dan gaya berpakain sekaligus meningkatkan kenarsisan”.[3]
       Kata alay sebenarnya merupakan singkatan dari ‘anak lebay’. Dan kata ‘lebay’ sendiri merupakan plesetan dari kata ‘lebih’ di mana anak-anak tersebut sering didefinisikan sebagai anak-anak yang berkelakuan ‘tidak biasa’ atau dapat dikatakan berlebihan. Berikut contoh kata-kata alay yang belakangan ini marak digunakan.
1.         Serius         : Cius
2.         Demi apa    : Mi apa
3.         Sungguh     : Cungguh
4.         Aku            : akyuh
5.         Iya              : ‘Ea’, ‘Yupz’
6.         Semangat   : Cemungut
7.         Sangat        : Badai

Selain itu, terdapat pula kamus kumpulan kumpulan kata-kata alay yang berisi kosa kata dan singkatan yang tidak lazim dalam penggunaan bahasa Indonesia. Misalnya saja kata KEPO yang merupakan akronim dari Knowing every Particular Object, adalah sebutan untuk orang yang ingin serba tahu detail dari sesuatu.

C.      Sinetron “Anak Jalanan” RCTI
       Anak jalanan merupakan sebuah sinetron produksi Sinemart yang ditayangkan di RCTI. Sinetron ini mulai tayang pada hari Senin, 12 Oktober 2015. Pemeran yang terlibat di dalamnya ialah Stefen William, Natasha Wilona, Immanuel Caesar Hito, Cut Meyriska, Megan Domani, Mezty Mez dan masih banyak lagi. Sinetron ini mengisahkan tentang percintaa remaja SMA di tengah intrik geng motor yang saling bersitegang, antara geng Warrior dan Serigala.
Sinopsis
       Boy (Stefan William) adalah seorang remaja berpenampilan urakan dan cuek tetapi juga saleh dan tampan. Gaya Boy yang keren dan gagah saat mengendarai motor dan sering memenangkan balapan, membuat ia digilai gadis-gadis seusianya. Sikapnya yang penuh kharisma khas anak muda, membuatnya ditunjuk sebagai ketua perkumpulan anak motor Warrior. Tidak hanya di area balap, di sekolah pun Boy menjadi idola. Sikapnya yang ramah, cuek tapi pintar dan atletis, membuatnya selalu menjadi pusat perhatian.
       Tentu saja Boy tidak terlalu menanggapi perasaan gadis-gadis yang memujanya. Di hatinya hanya ada 1 wanita, Adriana (Cut Meyriska), mantan pacarnya yang sangat ia sayangi, yang kemudian meninggalkannya hanya karena seorang pria yang jauh lebih tua dan kaya. Sikap Adriana yang seperti itu menyisakan luka yang ada di dalam hati Boy.
       Pada akhirnya Boy bertemu dengan Reva (Natasha Wilona), gadis yang ditolongnya, karena sempat terlibat kejar-kejaran dengan geng motor lain. Awalnya Boy terkejut saat tahu pengendara motor yang ditolongnya adalah seorang gadis cantik. Boy pun kagum dengan kelihaian Reva dalam mengendalikan motornya. Sayang, Reva kesal sekali dengan Boy dan geng motornya, karena telah menyebabkannya terlibat perselisihan antar geng motor. Geng Motor pimpinan Mondy (Immanuel Caesar Hito) menyangka Reva adalah anggota Warrior. Boy tertohok dengan perkataan Reva. Ia jadi merasa bersalah, karena bisa saja korban kesalahpahaman ini telah terjadi pada banyak orang, bukan hanya Reva. Boy pun berencana membubarkan geng motornya. Tentu saja hal ini ditentang oleh teman-temannya. Beberapa teman Boy berusaha memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil alih kepemimpinan Boy sebagai ketua.
       Reva sendiri adalah anak pengusaha kaya, Bei (Adipura), yang memilih kebut-kebutan dengan motornya sebagai bentuk pemberontakan terhadap sikap ayahnya yang menikah lagi dengan gadis yang tidak beda jauh dari umurnya. Reva pun selalu merasa istri baru papanya adalah penyebab kematian ibunya. Ibu Tiri Reva ini adalah Adriana. Adriana selalu berusaha menjalankan berbagai macam cara untuk memenangkan hati Reva, tetapi sikap benci Reva pada Adriana tidak tergoyahkan.
       Sama-sama menjadikan jalanan sebagai rumah kedua mereka, dengan menghabiskan waktu mengendarai motor, membuat Boy dan Reva dekat. Motivasi mereka pun sama, tak lain menjadikan jalanan sebagai tempat pelarian dari sikap frustasi mereka terhadap kondisi keluarga mereka masing-masing. Boy sangat terkejut saat tahu bahwa ibu tiri Reva adalah Adriana, mantan pacarnya. Sedangkan Adriana memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil hati Reva.
       Sinetron ini dikemas dengan gaya remaja masa kini dan menonjolkan aksi balapan, perselisihan antar geng motor, kisah cinta, serta gaya bicara kurang lazim (baca: dari segi penggunaan sering disebut dengan bahasa alay) yang kerap kali digunakan oleh pemeran dalam berdialog. Daya tarik sinetron ini tidak hanya dari segi perselisihan antar geng motor dan kisah cintanya saja, penggunaan bahasa alay yang terdapat di dalamnya juga ikut menyedot antusiasme penonton. Setiap tutur kata yang diucapkan dalam sinetron ini menjadi tren dan memengaruhi penonton dalam hal penggunaan bahasa alay.  
D.      Teori Kepribadian Menurut Perspektif Social Learning Albert Bandura
1.         Manusia dalam Pandangan Albert Bandura
       Berdasarkan pandangan Bandura, manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang berpikir dan sadar untuk mengatur tingkah lakunya sendiri. Manusia bukan pion atau bidak yang mudah dipengaruhi dan dimanipulasi oleh lingkungan. Hubungan manusia dengan lingkungan bersifat saling memengaruhi satu sama lain (reciprocal determinism).[4]
       Kepribadian manusia berkembang dalam konteks sosial dan berinteraksi satu sama lainnya. Manusia dapat mengatur perilakunya sendiri dengan mengubah tanggapan kognitif terhadap anteseden dan mengatur sendiri reinforcement yang diberikan kepada dirinya. Tingkah laku manusia merupakan hasil interaksi timbal balik yang terus menerus dengan faktor-faktor penentu.[5]
2.         Teori Belajar Sosial
       Teori belajar sosial menekankan pentingnya belajar observasional, imitasi, dan modeling. “Belajar akan sangat susah dan berbahaya, jika manusia hanya mengandalkan efek dari tindakan sendiri untuk memberitahu apa yang harus dilakukan,” Bandura terus-menerus mengintegrasikan teori interaksi antara perilaku, kognisi, dan lingkungan.[6]
a.        Reciprocal Determinism dan the Self-Syestem
       Bandura mengjritik Skinner karena terlalu ekstrim dalam menekankan faktor eksternal sebagai penentu utama sebuah perilaku. Menurutnya, teori Skinner tidak lengkap dan mengabaikan sifat manusia, karena tidak memperhitungkan proses internal yang menjadi panduan perilaku. Bandura juga mengkritik teori-teori psikoanalitis yang menggunakan penalaran melingkar dalam membahas kekuatan alam bawah sadar yang mendasari perilaku. Sebagai contoh, untuk menjelaskan perilaku bermusuhan, menurut psikoanalisis terjadi karena adanya implus agresif atau terdapat dominasi motif-motif kekuasaan. Konsep tidak sadar psikoanalisis tidak memberitahu kita mengenai sesuatu yang berada di atas dan di luar kenyataan perilaku yang ada. Bandura merasa bahwa ilmu perilaku yang dikonstruksi seperti itu tidak terlalu membantu untuk meramalkan sikap seseorang dalam situasi tertentu, atau menjelaskan variasi berbagai perilaku dalam situasi yang berbeda.[7]
       Menurut Bandura (1978), perilaku manusia disebabkan oleh determinisme timbal-balik yang melibatkan perilaku, kognitif, dan faktor lingkungan. Ketiga faktor tersebut “saling menentukan” satu sama lain.  Jika digambarkan, akan terlihat dalam diagram seperti berikut.[8]
Rounded Rectangle: B= Behavior 
   







Rounded Rectangle: P= Personal
Rounded Rectangle: E= Environmental



 




Diagram Determinise Timbal Balik
              Gambar 1.1
                           
                            Berdasarkan diagram di atas, B (behavior = perilaku), P (person = orang), dan E (environment = lingkungan). Masing-masing faktor akan menunjuk ke arah anak panah itu dan menuju dua lainnya (Gambar 1.1) untuk menunjukan interaksi timbal-balik mereka. dalam konsep determinisme timbal-balik, selain rangsangan lingkungan faktor pribadi seperti keyakinan dan harapan memengaruhi bagaimana kita berperilaku. Sebagai contoh, apabila kita merencanakan untuk makan di rumah makan, maka menu yang kita pilih tidak hanya ditentukan oleh menu dan rangsangan lingkungan lainnya, tetapi juga oleh sikap kita terhadap makanan tertentu, serta harapan kita terhadap makanan tersebut. Cara berpeilaku tersebut akan membantu kita dalam mengubah lingkungan.[9]
b.        Belajar Melalui Observasi
       Bandura menunjukkan bahwa sebagian besar perilaku manusia dipelajari berdasarkan model, buka melalui proses pengondisian klasik dan instrumental.[10]
       Bandura menyatakan bahwa perilaku tersebut dipelajari melauli pengamatan, baik secara mendalam maupun tanpa sengaja. Cara ini dilakukan anak-anak pada saat bermain, melakukan pekerjaan rumah tangga, dan mengembangkan keterampilan lain seperti naik sepeda. Pada awalnya, anak belajar berbicara dengan mendengarkan orang lain bicara lalu menirunya. Jika belajar bahasa sangat bergantung pada pengondisian klasik atau pengondisian instrumental, maka hal tersebut tidak dapat dilakukan dengan mudah, karena anak tidak mendapatkan penguatan sampai mereka mengucapkan kata-kata tersebut dengan spontan. Dalam keseharian orang tua mengulang sebuah kata secara berulang-ulang di depan anak-anaknya yang sedng beajar bicara, kemudian anak tersebut menirunya.[11]
       Belajar melalui pengamatan juga mencakup perilaku baru. Para pengamat bahkan mampu menyeleaikan suatu masalah secara langsung meskipun model yang ditirunya gagal untuk menyelesaikan masalah yang sama. Jadi, belajar melalui observasional melebihi imitasi: pengamat model akan belajar dari keberhasilan maupun kegagalan modelnya. Belajar melalui pengamatan dapat menjelaskan inovasi dan perilaku kreatif. Bandura menyatakan bahwa pengamat menarik feature serupa dari tanggapan yang berbeda dan menciptakan aturan-aturan perilaku yang memungkinkan mereka dapat melampaui apa yang mereka lihat atau dengar. Melalui sintesis jenis ini, mereka mampu mengembangkan pola-pola perilaku baru yang mungkin akan berbeda dari perilaku yang diamati.[12]
c.         Proses Belajar
       Bandura percaya bahwa pembelajaran melalui model banyak terjadi melalui informasi. Belajar melalui pengamatan tidaklah sesederhana imitasi. Prosesnya bersifat aktif dan konstruktif. Belajar melalui pengamatn diatur oleh empat proses yang saling terkait: proses pemerhatian, proses retensi, proses reproduksi motoric, dan proses motivasional.[13]
       Pertama, proses pemerhatian. Beberapa variabel yang turut berpengaruh terhadap proses belajar di anatarnya berkaitan dengan karakteristik model, sifat kegiatan, dan orang yang menjadi subjek. Beberapa model lebih mudah ditiru dibandingkan dengan model yang memiliki dya tarik interpersonal yang rendah.[14]
       Bandura menunjukkan bahwa asosiasi-asosiasi tertentu menentukan jenis kegiatan yang akan ditiru. Sebagai contoh, mereka yang tinggal di pusat kota yang banyak geng-geng bermusuhan yang seing konflik akan mempelajari cara-cara agresif dalam berespons dibandingkan dengan mereka yang dibesarkan di sebuah masyarakat yang pasif. Keberadaan televise telah membantu memperluas rentang model untuk ditiru oleh masyarakat sekarang, berbeda dengan kakek-nenek buyut kita dulu yang memiliki model terbatas untuk ditiru, karena hanya anggota keluarga atau masyarakat sekitar.[15]
       Kedua, proses retensi.ketika Anda mengamati perilaku seseorang dan segera menirunya, maka Anda akan menggunakannya sebagai panduan untuk bertindak pada kesempatan lain. Ada dua bentuk dasar system symbol atau representasi yang membantu belajar observasional, yaitu imaginatif dan verbal. Contoh, jika Anda menginginkan “burger”, maka Anda dapat mengingat kata-kata burger atau mengembangkan citra visual dua roti daging sapi, saus special, selada, keju, acar, bawang merah, dan wijen biji bun. Simbol ini kemudian muncul dalam bentuk bayangan, meskipun sebenarnya bendanya tidak ada.[16]
       Ketiga, proses reproduksi motoric. Dalam rangka meniru model, seorang individu harus mengubah representasi simbolis dari pengamatan ke bentuk tindakan. Perilaku yang dimunculkan harus memiliki kesamaan dengan perilaku asal. Proses reproduksi motorik melibatkan empat subtahapan: organisasi respons kognitif, inisiasi respons, pemantauan respons, dan penyempurnaan respons. Keterampilan yang kita pelajari melalui pengamatan belajar perlahan-lahan disempurnakan melalui proses trial and error. Kita mengikuti perilaku model dan kemudian berusaha untuk memperbaikinya melalui penyesuaian dan umpan balik. [17]
       Keempat, motivasi. Teori belajar sosial membedakan antara akusisi (kemampuan seseorang dalam belajar) dan kinerja (apa yang sebenarnya telah dilakukan). Kita tidak selalu menentukan sebuah perilaku yang sudah kita pelajari. Sebagai contoh, mungkin sebagian besar dari kita memiliki pengetahuan toeritis untuk merampok toko. Kita telah melihat perampokan dalam kehidupan nyata atau televise, dan kita tahu bentuk-bentuk perilaku yang ada ketika melakukan kejahatan itu. Namun, ini tidak berarti bahwa kita akan melakukannya. Kita cenderung melakukan sebuah perilaku seperti yang dilakukan model, apabila perilaku tersebut kita nilai memiliki konsekuensi yang baik, atau setidaknya memiliki konsekuensi hukuman yang kecil.[18]
       Belajar observasioanal juga akan mempertimbangkan konsekuensi dari perilaku orang lain yang akan memberikan penguatan kepada diri. Kita akan memberikan tanggapan evaluatif terhadap perilaku kita sendiri. Hal ini membuat kita akan melakukan perilaku tertentu yang memuaskan diri sendiri dan orang lain, serta menolak perilaku yang tidak disetujui atau membuat orang lain tidak merasa nyaman.[19]    
3.         Struktur Kepribadian
a.        Sistem Diri (Self System)
       Bandura mengajukan sebuah konsep yang memiliki peran penting dalam kepribadian, yang ia sebut dengan self-system, satu set proses kognitif yang individu gunakan untuk mempersepsi, mengevaluasi, dan meregulasi perilakunya sendiri agar sesuai dengan lingkungannya dan efektif dalam mencapai tujuan yang ingin dicapai. Oleh karena itu, individu tidak hanya dipengaruhi oleh proses reinforcement eksternal yang disediakan lingkungan, tetapi juga oleh ekspektasi, reinforcement, pikiran, rencana, tujuan atau proses internal dari diri. Aspek kognitif yang aktif dalam diri individu sangat penting dalam pembelajaran. Selain berespon terhadap reinforcement langsung dengan mengubah perilaku di masa depan, orang dapat berpikir dan mengantisipasi pengaruh dari lingkungan. Individu dapat mengantisipasi konsekuensi yang mungkin akan timbul dari perilakunya sehingga mereka memilih tindakan berdasarkan respons yang dihadapkan dari lingkungan dan masyarakat.[20]
       Walaupun teori pembelajaran klasik mengasumsikan bahwa perilaku seseorang berubah sepanjang waktu karena pengaruh langsung dari reinforcement dan hukuman melalui hubungan stimulus-respons, teori Bandura menyatakan bahwa pengaruh reinforcement sebelumnya akan terinternalisasikan dan perilaku berubah karena berubahnya pengetahuan dan ekspektasi seseorang.[21]
b.        Efikasi Diri (Self Efficacy)
       Menurut Bandura, dari semua pemikiran yang memengaruhi fungsi manusia, dan merupakan bagian paling inti dari teori kognitif sosial adalah efikasi diri (self efficacy). Efikasi diri adalah “penilaian diri terhadap kemampuan diri untuk mengatur dan melaksanakan tindakan yang diperlukan untuk mencapai kinerja yang ditetapkan”. Efikasi diri memberikan dasar bagi motivasi manusia, kesejahteraan, dan prestasi pribadi. Hal ini terjadi karena mereka percaya bahwa tindakan yang dilakukannya dapat mencapai hasil yang diinginkan, meskipun memiliki sedikit insetif untuk bertindak atau untuk bertahan dalam mengahadapi kesulitan.[22] 
       Efikasi diri menyentuh hampir semua aspek kehidupan manusia, apakah mereka berpikir secara produktif, pesimis atau optimis, seberapa baik mereka memotivasi diri dan bertahan dalam menghadapi kesengsaraan, dan kerentanan mereka terhadap stres dan depresi, dan pilihan-pilihan yang mereka buat. Efikasi diri juga merupakan determinan penting bagi pengaturan diri (self regulation).[23]
       Efikasi diri tidak boleh dikacaukan dengan penilaian tentang konsekuensi yang akan dihasilkan dari sebuah perilaku, tetapi akan membantu menentukan hasil yang diharapkan. Kepecayaan diri pada individu akan membantu mencapai keberhasilan.[24]
c.         Regulasi Diri (Self Regulation)
       Regulasi diri adalah proses di mana seseorang dapat mengatur pencapaian dan aksi mereka sendiri, menentukan target untuk diri mereka, mengevaluasi kesuksesan mereka saat mencapai target tersebut, dan memberi penghargaan pada diri mereka sendiri karena telah mencapai tujuan tersebut. Konsep self-efficacy adalah elemen penting dari proses ini, yang memengaruhi pilihan target dan tingkat pencapaian yang diharapkan. Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan adalah skema yang individu miliki, yang mendasari bagaimana orang memahami dan berperilaku dalam lingkungannya. Konstruk regulasi diri menitikberatkan pada kontrol internal (interpersonal) perilaku kita. Proses regulasi diri memiliki relevansi yang luas terhadap banyak bidang, terutama bidang kesehatan dan pendidikan, yang merupakan bidang di mana pemahaman yang lebih baik mengenai bagaimana orang melatih kontrol perilaku mereka sendiri akan berdampak pada meningkatnya keberhasilan masyarakat dalam bidang pendidikan dan kesehatan.[25]
4.         Pribadi Sehat dan Tidak Sehat
       Bandura menunjukkan bahwa orang-orang yang berperilaku tidak normal adalah orang yang memiliki efikasi diri yang rendah. Mereka tidak percaya bahwa dirinya dapat melakukan tindakan yang memberi kemungkinan untuk berhasil. Rendahnya keyakinan ini membuat mereka menghindari situasi yang menurutnya mengancam, dan cara yang dilakukannya adalah dengan melakukan tindakan tertentu, yang kemudian dicap sebagai tidak wajar (tidak normal). Sebaliknya, orang yang berperilaku sehat memiliki efikasi diri yang tinggi. Mereka mampu berpikir produktif, optimis, memotivasi diri dan bertahan dalam mengahadapi kesengsaraan, dan kerentanan mereka terhadap stres dan depresi, dan pilihan-pilihan hidup yang mereka buat. [26]
5.         Psikoterapi dan Modifikasi Perilaku
       Pengamatan adalah pusat dalam pembelajaran perilaku dan berguna dalam memodifikasi perilaku yang tidak diinginkan. Bandura mengembangkan teknik-teknik modifikasi perilaku sistematis dengan menggunakan model sebagai bantuan (modeling). Cara ini telah digunakan untuk mengurangi rasa takut pada anak-anak dan orang dewasa, membuat anak-anak yang agresif (hyperaggressive) dan dominan meenjadi lebih kooperatif, mengajarkan keterampilan bahasa pada anak-anak autis, meningkatkan kemampuan berkomunikasi pada pasien psikiatris asosial, mengurangi kecemasan dan meningkatkan prestasi pada mahasiswa, serta memfasilitasi perubahan perilaku lainnya.
       Pada setiap kasus, pemodelan (modelling) menjelaskan cara yang tepat dalam menangani situasi, yang mendorong klien untuk meniru model. Sebagai contoh, untuk menghilangkan fobia terhadap binatang, pada awalnya subjek mungkin menonton film yang memperlihatkan model yang berinteraksi dengan binatang yang dia takuti, selanjutnya klien mulai didorong untuk terlibat dalam interaksi yang semakin akrab dengan hewan tersebut. Prosedur ini menunjukkan bahwa model ini telah mengurangi ketakutan dan membuat perubahan perilaku.
       Strategi terapeutik Bandura dirancang untuk membantu klien meningkatkan persepsi terhadap efikasi dirinya. Dia merekomendasikan kepada terapis untuk menggunakan variasi teknik dalam meningkatkan kepercayaan diri klien. Misalnya, untuk menangani penderita agoraphobics (orang-orang yang takut tempat-tempat umum), Bandura menggunakan sejumlah prosedur yang berbeda. Awalnya, Bandura bertemu dengan agoraphobic (penderita agoraphobia) dalam kelompok-kelompok kecil, kemudian dia atau co-therapist membantu mereka untuk mengidentifikasi dan menciptakan situasi yang membangkitkan rasa takutnya. Dia juga mengajarkan klien cara menggunakan teknik relaksasi dan cara mengembangkitkan pikiran yang positif. Kemudian, dia mendorong kliennya untuk berinteraksi dengan objek secara langsung.
       Banyak pola perilaku yang tidak bermanfaat secara langsung, tetapi efeknya akan dirasakan dalam jangka panjang. Contohnya, kasus orang yang suka makan berlebihan, merokok, alcohol dan narkoba. Dalam hal ini tugas terapis adalah membantu individu memperoleh kemampuan untuk mengendalikan perilakunya. Ada beberapa elemen berbeda yang terlibat dalam pengendalian diri, tapi satu hal yang penting menurut Bandura adalah penunda pemuasan. [27]
      


BAB III
PEMBAHASAN


A.      Identifikasi Masalah
Penulis melakukan pengamatan mengenai bahasa alay di Cilulumpang-Sukabumi dengan menggunakan teknik analisis data berupa angket kepada 2 orang. Berikut daftar pertanyaannya.
Nama              :
Kelas               :
Jenis Kelamin  :
Usia                 :
PETUNJUK
1.         Jawablah pertanyaan yang ada dengan jujur.
2.         Isilah biodata Anda jika berkenan (nama boleh disamarkan).
Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan memberi tanda (X) pada jawaban yang disediakan!
1.         Saya suka menonton televisi.
a.    Ya                            b.  Tidak
2.         Saya suka menonton sinetron.
a.    Ya                            b.  Tidak
3.         Sinetron yang saya tonton adalah Anak Jalanan.
a.    Ya                            b.  Tidak
4.         Apakah Anda rutin menonton sinetron tersebut? Berikan alasan!
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
5.         Siapa tokoh favorit Anda dalam sinetron Anak Jalanan? Berikan alasan!
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
6.         Apakah Anda sering mengadopsi adegan yang ada di sinetron Anak Jalanan? Jika ada sebutkan adegan apa!
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
7.         Apakah Anda mengadopsi gaya bahasa yang digunakan di sinetron Anak Jalanan? Berikan alasan!
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
8.         Bahasa apa yang sering Anda tirukan? Berikan alasan!
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
9.         Apakah bahasa tersebut Anda praktikan dalam kehidupan sehari-hari? Berikan alasan!
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil pengolahan angket, responden yang penulis amati menunjukkan keadaan di mana mereka terindikasi penggunaan bahasa alay yang terdapat di sinetron “Anak Jalanan” dan mempraktikannya dalam keseharian. Bahasa tersebut bagi mereka menarik dan terdengar lucu. Selain itu, alasan lain mengapa mereka menggunakan bahasa tersebut, tak lain mengikuti tren yang sedang disoroti oleh teman sebaya di lingkungan sekitar rumah maupun sekolah. Baik Kirey maupun Alifia, bahasa alay tersebut sering digunakannya ketika mereka berkumpul dengan teman.
Berdasarkan jawaban yang diberikan Kirey dan Alifia, mereka terinpirasi oleh bahasa tersebut dan tertarik untuk menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Terlepas dari alasan rasa tertarik dan terinpirasi, mereka menggunakan bahasa alay karena banyak orang yang menggunakan gaya bahasa tersebut. Hal itu membuat mereka tidak merasa sangsi lagi untuk menggunakan bahasa tersebut dalam keseharian. Meski mereka tidak rutin menonton sinetron “Anak Jalanan”, karena tersita oleh waktu pengajian, mereka tidak tertinggal informasi mengenai perkembangan jalan cerita dan bahasa baru dari sinetron tersebut. Perlu  diketahui, mereka hanya mengikuti gaya bahasa yang terdapat dalam sinetron “Anak Jalanan” tanpa mengadopsi adegan yang ada ditontonkan sinetron.

B.       Identifikasi Faktor Penyebab
       Penggunaan bahasa Indonesia dan sunda yang biasanya digunakan oleh Alifia dan Kirey dalam sehari-hari telah mengalami perubahan. Penggunaan bahasa Indonesia yang baik seakan lenyap di telan waktu. Kebanyakan remaja masa kini sudah memodifikasi bahasa tersebut menjadi suatu bahasa yang hanya dapat dimengerti oleh mereka yang mempraktikkannya. Bagi mereka yang tidak terbiasa mendengar bahasa tersebut tentu akan merasa aneh dan asing jika tertangkap oleh indera pendengaran. Sebagai contoh, istilah umum yang digunakan untuk menyatakan keraguaan telah mengalami modifikasi: “Serius? Demi apa?” Berubah menjadi “Cius? Mi apa?”. Perubahan kata tersebut, bahkan digunakan dalam produk iklan dan ditayangkan setiap hari di layar kaca.
       Penyebab maraknya penggunaan bahasa alay di kalangan Remaja, tak lain disebabkan karena penayangan sinetron-sinetron di layar kaca, salah satunya sinetron “Anak Jalanan”. Penggunaan bahasa dalam sinetron tersebut membawa pengaruh pada gaya bahasa remaja masa kini. Mereka menganggap bahasa alay sebagai suatu tren baru dan kekinian. Sebelum penayangan sinetron-sinetron sejenis seperti “Anak Jalanan”, Alifia dan Kirey belum terindikasi bahasa tersebut dan masih menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan bahasa Sunda dalam keseharian. Mereka mulai menggunakan bahasa alay setelah penayangan sejumlah sinetron remaja yang mewarnai layar kaca beberapa tahun terakhir dan dalam waktu yang belum lama ini. Mereka menggunakan bahasa alay karena banyak orang yang mempraktikannya. Selain itu, mereka juga menganggap bahasa yang digunakan dalam sinetron tersebut sangat menarik, lucu, dan sangat menginpirasi. Umumnya, bahasa tersebut mereka gunakan ketika berinteraksi dengan sebayanya sebagai bentuk guyonan. Selebihnya, mereka mengadopsi gaya bahasa tersebut karena ingin terlihat sebagai remaja kekinian.

C.      Analisis Masalah
1.         Diagnosis
       Berdasarkan pengamatan yang penulis lakukan, kasus ini tidak dapat  dimasukkan dalam kategori gangguan kepribadian. Alifia dan Kirey menggunakan bahasa alay untuk mengikuti tren yang sedang menggaung di tengah masyarakat. Mereka masih berperilaku sesuai dengan aturan dan norma yang berlaku di masyarakat. Bahasa tersebut umumnya menjangkit remaja, khususnya bagi mereka yang baru memasuki tahap remaja awal (pubertas). Faktor utama yang menyebabkan bahasa tersebut menjadi sesuatu yang tidak asing lagi di telinga masyarakat, disebabkan karena banyak sejumlah sinetron remaja yang tayang di layar kaca, dengan menonjolkan penggunaan bahasa Indonesia yang telah dimodifikasi guna menarik perhatian penonton. Sebagai contoh, sinetron “Anak Jalanan” yang akhir-akhir ini tengah melanda Indonesia dan begitu diminati oleh remaja, juga menggunakan bahasa tersebut di dalamnya.
       Bahasa alay yang digunakan dalam sinetron tersebut masih berada dalam taraf wajar. Hanya pada beberapa dialog saja bahasa tersebut digunakan. Misalnya, kata ‘keles’, ‘yang bener bae’, ‘banyak binggo’, ‘bebeb’ dan sebagainya. Bahasa tersebut diadopsi oleh Alifia dan Kirey dan mempraktikkannya dalam keseharian. Mereka biasa menggunakan bahasa tersebut ketika sedang berinteraksi dengan teman sebaya atau dijadikan sebagai bahan guyonan. Mereka tidak merasa sangsi untuk menggunakan bahasa tersebut, karena banyak orang yang mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.
       Berdasarkan teori Bandura, anak belajar berbicara dengan mendengarkan orang lain bicara lalu menirunya. Hal tersebut sama seperti halnya Alifia dan Kirey. Namun, mereka sudah melewati fase tersebut. Kini, mereka meniru gaya bahasa yang dianggapnya menarik dan sedang menjadi tren. Hadirnya bahasa alay di layar kaca sebagai akibat dari penayangan sinetron, menjadi acuan keduanya untuk meniru bahasa yang ada dan memperaktikannya dalam keseharian.
2.         Prognosis
Mengingat masalah yang dihadapi Alifia dan Kirey masih dalam kategori ringan, dapat diberikan terapis berupa pengendalian diri untuk membantu mereka kembali menggunakan bahasa Indonesia yang baik. Penggunaan bahasa alay dalam bergaul bukan suatu hal yang melanggar hukum. Meskipun bahasa alay tidak bermanfaat secara langsung, tetapi efeknya akan dirasakan dalam jangka panjang. Jika penggunaan bahasa alay terus-menerus dikonsumsi oleh remaja, aturan bahasa Indonesia yang baik akan hilang tergantikan oleh bahasa tersebut di masa yang akan datang.
3.         Terapi
Bantuan yang diberikan kepada Alifia dan Kirey guna kembali menggunakan bahasa Indonesia yang baik, yakni dengan mengadopsi bebarapa terapi yang terdapat dalam teori Bandura. Terapi yang umum digunakan biasanya terapi kontrol diri. Dalam terapi tersebut terdapat beberapa indikator yang dirancang untuk memunculkan perubahan perilaku.
Pertama, terapi gerafik-gerafik behavioral. Dalam tahap ini, individu diminta untuk terus-menerus mengawasi perilukunya sendiri, baik sebelum mengalami perubahan atau setelahnya. Terapi ini dapat diberikan kepada Kirey dan Alifia dengan mengamati perilakunya sendiri, lalu menuangkannya ke dalam buku harian mengenai banyak bahasa alay yang digunakannya dalam sehari.
Kedua, perencanaan lingkungan. Di sini individu diminta untuk menggunakan catatan harian sebagai patokan. Selanjutnya, individu berusaha mengubah lingkungannya. Dalam tahap kedua, baik Alifia maupun Kirey dapat menggunakan kembali buku harian yang mereka tulis sebagai patokan. Kemudian mengubah lingkungan mereka dengan menghilangkan beberapa faktor yang membawa pengaruh buruk, seperti mengurangi menonton televisi, terutama sinetron. Dan mengalihkan kegiatan tersebut kepada hal-hal yang positif, seperti rutin mengikuti pengajian dan belajar.
Ketiga, perjanjian diri. Pada tahap ini, individu harus meminta bantuan pihak lain dalam mengawasi perilaku kita. Begitu juga dengan Alifia dan Kirey, mereka harus meminta bantuna teman atau orang tua untuk mengamati perilaku mereka. Apakah mereka mematuhi perjanjian itu atau tidak. Di sini, individu bersiap diri dalam menerima imbalan dan hukuman atas keberhsilan akan perubahan pada perilaku serta hukuman akan kegagalan dalam ketidakberhasilan melakukan perubahan.
 
D.      Alternatif Penanganan
       Alternatif lain yang dapat diberikan, jika seumpamanya terapi yang diberikan tidak menunjukkan perubahan yang berarti, terapis atau konselor harus meminta bantuan beberapa pihak, seperti orang tua, yang lebih mengetahui perkembangan diri dari klien atau konseli. Pertama, orang tua memiliki waktu banyak dalam mengawasi perilaku anaknya di rumah. Di sini, orang tua harus selalu mengawasi tontonan anak tanpa mereka merasa curiga. Kedua, mengatur jadwal anak di depan telivisi. Ketiga, mengajak anak diskusi mengenai tontonan yang dilihatnya. Apabila anak mulai membahas apa saja yang ditontonnya dan tertarik dengan salah satu adegan atau bahasa yang digunakan dalam tontonan anak, orang tua harus memantau daya tarik anak terhadap tontonan tersebut. Jika anak mulai mempraktikkannya dalam keseharian dan menjadi kebiasaan, orang tua harus segera bertindak guna mencegah hal tersebut memengaruhi perilakunya anak di masa depan.    
                           


BAB IV
PENUTUP

A.      Simpulan
       Berdasarkan hasil pengamatan yang penulis lakukan, penggunaan bahasa alay pada Alifia dan Kirey bermula ketika layar pertelevisian Indonesia  gemar menayangkan sinetron-sinetron remaja berbau percintaan dengan gaya bahasa yang digunakan di dalamnya berupa bahasa Indonesia yang telah dimodifikasi sedemikian rupa, seperti halnya penggunaan bahasa di sinetron “Anak Jalanan”. Sebagai contoh, penggunaan kata ‘sayang’ dalam sinetron tersebut telah dimodifikasi menjadi ‘bebeb’. Kini, bahasa tersebut populer di kalangan remaja Indonesia dan menjadi sebuah tren baru yang diikuti oleh semua remaja. Selain akibat akan penayangan sinetron di layar kaca, penggunaan bahasa alay digunakan tanpa sangsi dan sungkan oleh remaja termasuk Alifia dan Kirey, karena banyak orang di luar sana memperaktikkan bahasa tersebut dalam keseharian.
 
B.       Saran
       Berdasarkan pembahasan pada laporan ini, maka ada beberapa hal yang ingin penulis samapikan, di antaranya:
1.         Bagi Pembaca
       Laporan ini berisi mengenai penggunaan bahasa alay sebagai akibat pengaruh dari sinetron “Anak Jalanan” di RCTI. Laporan ini tidak hanya menyajikan dari segi bahasa alay itu sendiri dan faktor penyebab seseorang menggunakan bahasa tersebut, tetapi membahas pula teori kepribadian dari Albert Bandura yang terkenal dengan teori pembelajaran sosialnya. Maka dari itu, laporan ini dapat dijadikan sumber rujukan atau daftar bacaan yang berbobot dan bermanfaat. 
2.         Bagi Responden
       Sebaiknya responden mengurangi tontonan sinetron dan membatasi diri dalam mengikuti tren yang tengah menggaung, guna menjaga bahasa daerah agar tidak tetap terjaga eksistensinya, begitu juga dengan penggunaan bahasa Indonesia yang baik.
3.         Bagi Penulis Sekenario Sinetron
       Sebagai seorang penulis yang mengerti kaidah bahasa Indonesia yang baik. Seharusnya penggunaan bahasa dalam dialog antar tokoh harus diperhatikan. Sebaiknya, penggunaan bahasa alay dalam sinetron dihilangkan, karena efeknya akan dirasakan dalam jangka panjang. Seperti, hilangnya tatanan bahasa Indonesia yang baik di masa yang akan datang. Hal tersebut disebabkan karena remaja Indonesia telah terbiasa dan menganggap bahasa tersebut tidak menyalahi aturan yang terdapat bahasa Indonesia.


DAFTAR PUSTAKA

Friedman, Howard S and Miriam W. Schustack. 2008. Kepribadian: Teori Klasik dan Riset Modern. (Alih Bahasa: Ikarinim Fansiska Dian, dkk). Jakarta:           Erlangga.

Hikmat, Ade dan Nani Solihat. 2013. Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Grasindo.

Hidayat, Dede Rahmat. 2015. Teori dan Aplikasi Psikologi Kepribadian dalam      Konseling. Cet. 2. Bogor: Ghalia Indonesia.

http://kartikawulan23.blogspot.co.id/2013/10/02/bahasa-alay/, 02 Januari 2016       pukul 19.31 WIB.



[1] Ade Hikmat dan Nani Solihat, Bahasa Indonesia, (Jakarta: PT Grasindo, 2013), hlm. 20.
[2] Ibid.
[3] Kartika Wulan, “Bahasa Alay,” Dikutip dari http://kartikawulan23.blogspot.co.id pada 02 Januari             2016.
[4] Dede Rahmat Hidayat, Teori dan Aplikasi Psikologi Kepribadian dalam Konseling, (Bogor:          Ghalia Indonesia, 2015), hlm. 150.
[5] Ibid.
[6] Ibid.
[7] Dede Rahmat Hidayat, Ibid., hlm. 151.
[8] Ibid.
[9] Ibid., hlm. 151-152.
[10] Ibid., hlm 152.
[11] Ibid.
[12] Dede Rahmat Hidayat, Toeri dan Aplikasi Psikologi Kepribadian dalam Konseling, (Bogor:         Ghalia Indonesia, 2015), hlm. 152-153.
[13] Ibid., hlm. 153.
[14] Ibid., hlm. 153-154.
[15] Ibid., hlm. 154.
[16] Dede Rahmat Hidayat, Ibid., hlm. 154.
[17] Ibid.
[18] Dede Rahmat Hidayat, Ibid., hlm. 154.
[19] Ibid., hlm. 154-155.
[20] Howard S Friedman and Miriam W. Schustack, Kepribadian: Teori Klasik dan Riset Modern,    (Jakarta: Erlangga, 2008), hlm. 276.
[21] Howard S Friedman and Miriam W. Schustack, Kepribadian: Teori Klasik dan Riset Modern,     (Jakarta: Erlangga, 2008), hlm. 276.
[22] Dede Rahmat Hidayat, Op. Cit., hlm. 156.
[23] Op. Cit.
[24] Dede Rahmat Hidayat, Op. Cit.
[25] Howard S Friedman and Miriam W. Schustack, Kepribadian: Teori Klasik dan Riset Modern,    (Jakarta: Erlangga, 2008), hlm. 284.
[26] Dede Rahmat Hidayat, Toeri dan Aplikasi Psikologi Kepribadian dalam Konseling, (Bogor:     Ghalia Indonesia, 2015), hlm. 158.
[27] Dede Rahmat Hidayat, Ibid., hlm. 158.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar