Selasa, 26 Januari 2016

Teori kepribadian B.F. Skinner



BAB I
PENDAHULUAN



A.    Latar Belakang
Banyak  teori tentang belajar yang telah berkembang mulai abad ke 19 sampai sekarang ini. Pada awal abad ke-19 teori belajar yang berkembang pesat dan memberi banyak sumbangan terhadap para ahli psikologi adalah teori belajar tingkah laku (behaviorisme) yang awal mulanya dikembangkan  oleh psikolog Rusia Ivan Pavlav (tahun 1900-an) dengan teorinya yang dikenal dengan istilah pengkondisian klasik (classical conditioning) dan kemudian teori belajar tingkah laku ini dikembangkan oleh beberapa ahli psikologi yang lain seperti Edward Thorndike, B.F Skinner dan Gestalt.
Teori belajar behaviorisme ini berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati. Pengulangan dan pelatihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan. Hasil yang diharapkan dari penerapan teori behavioristik ini adalah terbentuknya suatu perilaku yang diinginkan. Perilaku yang diinginkan mendapat penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai mendapat penghargaan negatif. Evaluasi atau Penilaian didasari atas perilaku yang tampak. Dalam teori belajar ini guru tidak banyak memberikan ceramah,tetapi instruksi singkat yang diikuti contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui simulasi. Di awal abad 20 sampai sekarang ini teori belajar behaviorisme mulai ditinggalkan dan banyak ahli psikologi yang baru lebih mengembangkan teori belajar kognitif dengan asumsi dasar bahwa kognisi mempengaruhi prilaku. Penekanan kognitif menjadi basis bagi pendekatan untuk pembelajaran. Walaupun teori belajar tigkah laku mulai ditinggalkan diabad ini, namun mengkolaborasikan teori ini dengan teori belajar kognitif dan teori belajar lainnya sangat penting untuk menciptakan pendekatan pembelajaran yang cocok dan efektif, karena pada dasarnya tidak ada satu pun teori belajar yang betul-betul cocok  untuk menciptakan sebuah pendekatan pembelajaran yang pas dan efektif.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka pada makalah ini akan dibahas beberapa hal terkait, sebagai berikut:
1.              Biografi Ringkas B.F. Skinner
2.    Perintis Dari Behaviorisme Ilmiah Skinner
3.    Behaviorisme Ilmiah
4.    Pengondisian
5.    Organisme Manusia
6.    Kepribadian yang Tidak Sehat

C.    Tujuan Penulisan
             Adapaun tujuan penulisan makalah ini, sebagai berikut:
1.    Mengetahui biografi ringkas B.F. Skinner
2.    Mengetahui perintis dari behaviorisme ilmiah Skinner
3.    Mengetahui behaviorisme ilmiah
4.    Mengetahui pengondisian
5.    Mengetahui organisme manusia
6.    Mengetahui kepribadian yang tidak sehat

BAB II
PEMBAHASAN



A.      Biografi B.F. Skinner
       Burrhus Frederic skinner (B.F. Skinner) lahir di Susquehanna, Pennsylvania, pada tanggal 20 Maret 1904. Ia merupakan anak pertama dari pasangan William Skinner dan Grace Mange Burrhus Skinner. Ayahnya adalah seorang pengacara dan seorang politisi, sedangkan Ibunya adalah seorang Ibu rumah tangga. Skinner tumbuh dalam suasana dan lingkungan yang nyaman, bahagia, dan dengan derajat ekonomi keluarga menengah ke atas. Orang tuanya menerapkan nilai-nilai kesederhanaan, kebaktian, kejujuran, dan kerja keras dalam menjalani kehidupan. Keluarga skinner adalah orang-orang gereja, namun Freud (B.F skinner) pernah hampir kehilangan kepercayaan terhadap agama ketika masih duduk di bangku sekolah menengah. Dan kemudian ia tidak menjalankan atau mengikuti agama apapun.
       Ketika berusia 2 setengah tahun, adiknya, Edward yang biasa disapa Ebbie lahir. Freud merasa bahwa adiknya lebih disayang oleh kedua orang tuanya. Namun, ia tidak merasa kehilangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Pada tahun pertama Freud di perguruan tinggi, adiknya, Ebbie meninggal dunia. Sejak saat itu kedua orang tuanya menjadi progresif dan sulit memberikan izin kepada Freud untuk bepergian. Mereka menginginkan Freud menjadi anak rumahan “The Family Boy” saja. Dengan sungguh-sungguh kedua orang tuanya sukses menjalankan kewajiban dengan menjaga kestabilan keuangan freud, bahkan hingga ia menjadi seorang psikologi terkemuka di Amerika.
       Pada tahun pertama, Skinner tertarik untuk menjadi seorang penulis profesional, dengan tujuan atau cita-citanya mempublikasikan Walden Two ketika ia mulai berusia 40 tahun. Ketika Skinner tamat dari sekolah menengah, keluarganya pindah ke Scranton, Pennsylvania. Dan hampir dengan seketika Skinner masuk ke Peguruan Tinggi Hamilton, sebuah sekolah kesenian liberal di Clinton, New York. Setelah mendapatkan gelar sarjana muda di Inggris, Skinner menyadari ambisinya untuk menjadi seorang penulis yang kreatif.
       Skinner memberi tahu ayahnya bahwa ia berkeinginan untuk  menghabiskan waktu satu tahun dengan tanpa bekerja di rumah kecuali menulis. Dengan alasan akan kebutuhan untuk membangun/membentuk kehidupan, ayahnya (William Skinner) dengan terpaksa mendukung skinner selama satu tahun ini, dengan kondisi atau alternatif skinner akan mendapatkan pekerjaan yang lain jika karir menulisnya tidak sukses. Namun, datang sebuah surat pemberi harapan dari Robert Frost, dengan suratya ia memberikan harapan kepada Skinner untuk menjadi seorang penulis karena ia telah membaca tulisan-tulisan Skinner.
       Skinner pun kembali ke rumah orang tuanya di Scranton, belajar di loteng dan mulai menulis dari pagi hari. Namun, usahanya tidak produktif karena ia malah tidak memiliki ide untuk disampaikan dan dituangkan dalam tulisan-tulisannya. Hingga satu tahun itu disebut sebagai “Tahun Kegelapan” bagi Skinner. Tahun kegelapan tersebut memberikan gambarana akan kuatnya kebimbangan identitas hidup Skinner, dan ini bukanlah kirisis identitas yang terakhir bagi Skinner.
       Pada akhir tahun kegelapannya yang berlangsung selama 18 bulan, Skinner dihadapi dengan permintaan untuk mencari pekerjaan baru. Psikologi pun memberinya isyarat. Setelah membaca beberapa karya Watson dan Pavlov, ia memutuskan untuk menjadi seorang behavioris. Ia pun tidak pernah ragu terhadap keputusannya tersebut dan dengan kesungguhan hati menerjunkan dirinya ke dalam behaviorisme radikal.
       Meskipun Skinner tidak pernah mengambil pendidikan sarjana psikologi, Harvard menerimanya sebagai mahasiswa lulusan psikologi. Setelah mendapatkan gelar PhD pada tahun 1931, Skinner menerima beasiswa dari Dewan Penelitian Nasional untuk melanjutkan penelitian laboratoriumnya di Harvard. Skinner pun menjadi pecaya diri dengan identitasnya sebagai seorang behavioris. Ia juga membuat garis besar cita-cita/tujuannya dalam 30 tahun ke depan. Dalam rencananya, Skinner juga  terus mengingatkan dirinya untuk benar-benar taat dan sungguh-sungguh dalam mendalami metodologi behavioristik. Di tahun 1960, Skinner telah berhasil mewujudkan fase terpenting dalam rencananya.
       Pada tahun, 1936, Skinner mulai mendapatkan posisi atau kedudukan pada pengajaran dan penelitian di Universitas Minnesota. Sesaat setelah pindah ke Minneapolis, ia memiliki seorang kekasih dengan masa pacaran yang pendek dan tidak menentu. Hingga ia kemudian menikah dengan Yvonne Blue. Skinner mempunyai 2 orang anak, yaitu Julie yang lahir pada tahun 1938 dan Deborah (Debbie) yang lahir pada tahun 1944. Dalam tahun-tahunnya di Minnesota, Skinner menerbitkan buku pertamanya yang berjudul The Behavior of Organisms (1938).
       Menginjak usia yang ke-40 tahun, Skinner masih bergantung kepada bantuan keuangan dari ayahnya untuk berjuang dalam ketidak berhasilannya menulis buku mengenai perilaku lisan (Behavior Verbal). Karena ia tidak sepenuhnya terlepas dari “Tahun Kegelapan” dalam 20 tahun pertama. Meski Skinner menjadi sukses dan menjadi seorang behavioris terkemuka, ia lamban dalam mengatur dan menghasilkan keuangannya sendiri. Dengan model kekanak-kanakan, ia mengijinkan orang tuanya untuk membayar mobil, liburan, pendidikan anak-anaknya di sekolah, bahkan rumah untuk keluarganya.
       Ketika Skinner masih menuntut ilmu di Universitas Minnesota, ayahnya memberikan penawaran kepada Skinner, bahwa ia akan membayar gaji sekolah musim panasnya jika ia terlebih dahulu mengajar selama musim panas dan membawa istri serta kedua anaknya ke Scranton. Skinner pun menerima tawaran dari ayahnya untuk pindah ke Scranton serta untuk kembali menulis. Namun, buku yang ia tulis masih belum dapat diselesaikan juga hingga beberapa tahun mendatang.
       Pada tahun 1945, Skinner meninggalkan Minnesota untuk mengetuai/mengepalai sebuah Departemen Psikologi di Universitas Indiana, sebuah pilihan yang menjadikannya lebih frustasi karena tugas-tugas administifnya menjemukan, ditambah Skinner belum merasakan pengetahuan dan pengalaman akan psikologi itu sendiri. Namun, istrinya memiliki perasaan atau anggapan yang bertentangan dengan Skinner. Ia beranggapan bahwa meskipun begitu, krisis pribadi Skinner akan segera berkahir dan karir profesionalnya pun akan datang.
       Pada liburan musim panas tahun 1945, Skinner menulis Wolden Two, sebuah novel khayalan yang menggambarkan sebuah masyarakat sosial dengan permasalahan dalam penyelesaian masalah yang berhubungan dengan perilaku ahli teknik. Meskipun tidak diterbitkan hingga 1948, bukunya disajikan oleh penulis dengan terapi langsung dalam bentuk emotional catharsis. Hingga akhirnya Skinner dapat belajar dari kegagalan menuju kemahiran selama tauhn kegelapannya, yaitu 20 tahun pertama.
       Skinner menjelaskan bahwa dua karakter yang ada dalam bukunya, yaitu Farazier dan Burris mewakili usaha atau percobaannya untuk menggabungkan dua askpek berbeda yang ada dalam kepribadiannya sendiri. Buku Wolden Two pun turut menjadi pembangun karier profesional Skinner. Tidak lama kemudian ia mengurung diri untuk pembelajaran laboratorium terhadap tikus dan burung dara, tapi kemudian ia terlibat/dilibatkan dalam aplikasi analisis tingkah laku terhadap teknologi pembentukan perilaku manusia dan mendapatkan ungkapan filosofis dalam Beyond Freedom and Dignity.
       Pada tahun 1948, Skinner kembali ke Harvard, dan melanjutkan eksperimen kecil menggunakan burung dara. Tahun 1964, di usianya yang ke-60 tahun, Skinner berhenti mengajar. 10 tahun kemudian, ia mengambil 2 program pendanaan karier dari pemerintah pusat untuk masa 5 tahun, yang mengizinkan Skinner untuk melanjutkan menulis dan memimpin penelitian. Ia pun berhenti menjadi profesor psikologi pada tahun 1974. Setelah berhenti mengajar pada tahun 1964, Skinner menulis beberapa buku penting mengenai tingkah laku manusia (human behavior) yang membantunya mendapatkan gelar sebagai America’s best-known living psychologist.
       Pada tanggal 18 Agustus 1990, Skinner meninggal karena menderita leukimia. Satu minggu sebelum kematiannya, Skinner mengirimkan pidato emosianalnya kepada konvensi American Psychological Association (APA) mengenai kelanjutan advokasinya tehadap behaviorisme radikal. Dengan adanya konvesi ini, ia mendapat surat pujian pertama sebagai Outstanding lifetime Constribution to Psychology. Dan Skinner adalah satu-satunya orang yang mendapat penghargaan tersebut dalam sejarah APA.

B.       Sejarah Perkembangan Operant Reinforcement
       Dasar prosedur pengkondisian operant Skinner adalah kontrol perilaku melalui manipulasi imbalan dan hukum dalam lingkungan laboratorium. Akan tetapi, keyakinannya tentang arti hukum perilaku dan minatnya dalam membangun sesuatu menyebabkan Skinner membawa pemikiran dan risetnya jauh melampaui dinding laboratorium. Dia membuat “Kotak Bayi” untuk memekanisasi perawatan bayi, mesin pengajaran yang menggunakan imbalan dalam pengajaran mata pelajaran, dan prosedur di mana burung dara dapat digunakan untuk mendaratkan misi tepat sasaran. Dia berkomitmen pada pandangan bahwa ilmu perilaku manusia dan teknologi yang bersumber dari ilmu itu harus dikembangkan demi kemaslahatan manusia. Novelnya, Walden Two (1948), menggambarkan utopia yang didasarkan kepada kontrol perilaku manusia melalui penguatan positif (imbalan).
       Sebelum membahas beberapa proses yang dipandang oleh teori ini sebagai perilaku dasar, adalah penting untuk mencermati konsep reinforcement (penguat). Skinnerriant mendefinisikan penguat sebagai event (stimulus) yang mengikuti respons dan meningkatkan kemungkinan manifestasinya. Jika seekor burung dara mematuk di atas meja, yang merupakan bagian dari perilaku operant, diikuti oleh penguat seperti makanan, kemungkinan patukannya di atas meja akan meningkat. Menurut pandangan ini, penguat menguatkan perilaku yang diikutinya, dan tidak diperlukan penjelasan biologis untuk menentukan mengapa stimulus menguatkan perilaku. Stimuli yang pada awalnya tidak berfungsi sebagai penguat menjadi penguat melalui keterhubungan mereka dengan penguat lain. Beberapa stimuli, seperti uang, menjadi generalized renforcement (penguat tergeneralisasi) karena mereka memberikan akses kepada banyak jenis penguat.
       Adapun yang perlu diperhatikan di sini adalah penguat didefinisikan berdasarkan efeknya terhadap perilaku dan peningkatan kemungkinan respons. Sering kali sulit untuk mengetahui secara tepat apa yang berfungsi sebagai penguat perilaku, karena hal tersebut bervariasi dari satu individu ke individu lain atau dari satu organisme ke organisme lain. Menemukan penguat dapat merupakan operasi trial and error. Seseorang akan terus mencoba stimuli sampai menemukan stimulus yang benar-benar dapat meningkatkan probabilitas respons tertentu.
       Pendekatan Skinneriant fokus terhadap kualitas respons dan hubungannya dengan peringkat serta interval dimana mereka dikuatkan, atau diistilahkan jadwal penguatan. Sebuah peralatan eksperimental sederhana, kotak Skinner, digunakan untuk mempelajari hubungan ini. Dalam kotak ini terdapat beberapa stimuli, dan dilakukan observasi perilaku seperti penekanan tuas oleh tikus atau pematukan burung dara terhadap kunci. Menurut Skinner, disinilah tempat terbaik bagi seseorang untuk mengamati hukum dasar perilaku. Hukum ini ditemukan melalui kontrol perilak, dalam kasus ini adalah aktivitas penekanan penekanan tuas oleh tikus dan patukan kunci oleh burung dara. Perilaku dipahami ketika hal tersebut dapat dikontrol oleh perubahan tertentu dalam lingkungan. Memahami perilaku dilakukan dengan cara mengontrolnya. Perilaku dikontrol melalui pilihan respons yang dikuatkan dan sejauh mana perilaku itu dikuatkan. Jadwal penguatan dapat didasarkan kepada waktu interval tertentu atau interval respons tertentu. Dalam waktu jadwal interval, penguatan diberikan setelah periode tertentu, misalnya setiap menit, terlepas dari jumlah respons yang dibuat oleh organisme. dalam interval respons, atau jadwal rasio respons, penguatan diberikan setelah dilakukan respons dalam jumlah tertentu (misalnya menekan tuas, atau mematok kunci).
       Dengan demikian, penguatan tidak harus diberikan setelah tiap respons, tetapi sebaliknya dapat diberikan sewaktu-waktu. Lebih jauh lagi, penguatan dapat diberikan scara regular atau tetap setelah periode waktu tertentu atau setelah jumlah respons tertentu atau diberikan secara variabel-terkadang setelah satu menit atau terkadang setelah dua menit, atau terkadang setelah beberapa respons dan kadang kala setelah banyak respons. Tiap schedule of reinforcement (jadwal penguatan) cenderung menstabilkan perilaku dengan cara yang berbeda.
       Pada batas tertentu, pembelajaran operant merepresentasikan fomulasi rumit prinsip pelatihan binatang. Perilaku yang kompleks dibentuk melalui proses succesive approximation (aproksimasi berurutan), yaitu: perilaku kompleks dikembangkan dengan menguatkan sebagian perilaku yang mirip dengan bentuk final perilaku yang ingin dimunculkan oleh seseorang.
       Pengkondisian operan membentuk perilaku seperti seorang  pematung membentuk gumpalan tanah liat. Walaupun pada titik tertentu sang pematung tampaknya menghasilkan objek yang benar-benar baru, kita selalu dapat mengikuti proses tersebut sampai kembali kepada gumpalan asal yang belum berbentuk sesuatu, dan kita dapat membuat tahapan berurutan yang dengannya kita kembali ke kondisi awal. Terkadang muncul bentuk yang berbeda dengan yang bentuk sebelumnya. Sebuah operan bukanlah sesuatu yang tumbuh secara sempurna dalam perilaku organisme. operan merupakan hasil dari proses pembentukan berkelanjutan.
       Proses pembentukan atau aproksimasi berurutan tampak dengan jelas dalam karya para pelatih binatang trik sulit yang dilakukan oleh binatang sirkus tidak dipelajari sebagai sesuatu yang utuh. Akan tetapi, para pelatih secara bertahap membangun urutan respons pembelajaran melalui penguatan perilaku tertentu yang kemudian dihubungkan atau dirangkaikan satu dengan yang lain. Apa yang dimulai sebagai pembelajaran perilaku tunggal berakhir sebagai serangkai tindakan kompleks dihadapan penonton sirkus. Sang binatang kemudian diberikan imbalan atas perilaku tersebut, akan tetapi imbalan diberikan tergantung pada performa serangkaian perilaku yang telah dipelajari sebelumnya. Dengan cara yang sama, perilaku kompleks pada diri manusia dapat dibentuk melalui proses aproksimasi berurutan.
       Walaupun pada dasarnya pengondisian operant menekankan penggunaan penguat positif seperti makanan, uang, atau pujian, Skinneriant juga menekankan nilai penting penguatan yang didasarkan kepada pelepasan organisme dari, atau penghindaran dari, stimuli yang tidak disukai. Dalam kasus semacam itu, respon dikuatkan dengn menghilangkan atau menyingkirkan stimulus yang tidak menyenangkan. Efeknya adalah untuk menguatkan kekuatan respons. Kontingensi respons¾keluarga seperti itu dapat dikontraskan dengan kasus hukuman. Dalam hukuman, stimulus stimulus yang tidak nyaman mengikuti respons, menurunkan probabilitas respons tersebut untuk kembali muncul. Akan tetapi, efek hukuman tersebut bersifat temporer dan hal tersebut tampaknya menjadi tidak berarti dalam menghapus perilaku. Untuk alasan ini, skinner telah menekankan penggunaan penguatan positif dalam membentuk perilaku.

C.      Conditioning
       Skinner (1953) mengenali dua bentuk pengondisian, klasik dan operan. Melalui pengondisian klasik (yang disebut Skinner sebagai pengondisian responden), suatu respon diperoleh dari sebuah organisme dengan suatu stimulus yang spesifik dan dapat diidentifikasi. Dengan pengondisian operan, sebuah perilaku dibuat lebih mungkin untuk terjadi saat diberikan penguatan secara langsung.
       Salah satu perbedaan antara pengondisian klasik dan operan adalah bahwa pada pengondisian klasik, perilaku diperoleh dari organisme, sementara dalam pengondisian operan, perilaku terpancar.

1.         Pengondisian Klasik
          Mekanisme pengondisian klasik, yaitu dengan memasangkan suatu stimulus netral (conditioned) bersama suatu stimulus yang tidak dikondisikan (unconditioned) sampai mampu membawa respons yang sebelumnya tidak dikondisikan menjadi respons terkondisi. Perilaku refleks sebagai contoh paling sederhana. Sinar yang ditujukan ke mata menstimulus pupil untuk menutup; makanan yang diletakkan di lidah membuat air liur keluar; dan lada di lubang hidung mengakibatkan refleks bersin. Dengan perilku refleks respons tidak dipelajari, tidak bersifat sukarela, dan umum, tidak hanya dalam satu spesies, namun pada spesies-spesies lainnya. Akan tetapi, pengondisian klasik tidak terbatas hanya pada refleks sederhana. Pengondisian ini juga dapat bertanggung jawab atas dasar pembelajaran manusia yang lebih kompleks, seperti fobia, ketakutan, dan kecemasan.
          Contoh awal dari pengondisian klasik dengan manusia dideskripsikan oleh John Watson dan Rosalie Rayner pada tahun 1920, yang mengikutsertakan seorang anak laki-laki¾Albert B. Albert adalah seorang anak berusia 9 bulan yang normal dan sehat, dan tidak takut menunjukan rasa takut pada objek-objek, seperti tikus putih, kelinci, anjing, monyet yang mengenakan topeng, dan lainnya. Saat Albert berusia 11 bulan, peneliti kemudian mengenalkannya dengan seekor tikus putih. Saat Albert mulai menyentuh tikus tersebut, salah satu peneliti kemudian memukul suatu palang di belakang kepala Albert. Albert langsung menunjukan tanda-tanda ketakutan walaupun tidak menangis. Kemudian, saat ia baru menyentuh tikus tersebut dengan tangan yang lain, peneliti mulai memukul palang tersebut. Sekali lagi, Albert mulai merasakan ketakutan dan mulai menangis. Seminggu kemudian, Watson dan Rayner mengulangi prosedur yang tersebut beberapa kali sampai pada akhirnya mereka memberikan tikus putih tanpa diringi suara pukulan palang yang tiba-tiba tersebut. Pada saat itu, Albert telah belajar untuk takut pada tikus tersebut dan dengan cepat mulai merangkak menjauhinya.
          Beberapa hari kemudian, para peneliti memberikan Albert beberapa balok. Ia tidak menunjukan rasa takut. Kemudian mereka menunjukan tikus tersebut tersebut dan Albert menunjukan rasa takut. Lalu mereka menawarkan kembali balok tersebut. Tidak ada rasa takut. Mereka melanjutkan ini dalam eksperimen, dengan menunjukan seekor kelenci pada Albert. Albert langsung menangis dan merangkak menjauhi kelenci tersebut. Watson dan Rayner kemudian menunjukan lagi balok tersebut kepada Albert, lalu menunjukan seekor anjing, lalu balok lagi, lalu sebuah jaket bulu, dan kemudian sepaket wool. Untuk semua objek kecuali balok, Albert menunjukan rasa takut. Terakhir, Watson membawa sebuah topeng sinterklas yang membuat Albert menunjukan rasa takut. Eksperimen ini, yang tidak pernah diselesaikan karena ibu Albert kemudian ikut campur, mendemonstrasikan empat hal. Pertama, bayi mempunyai beberapa, kalau ada, ketakutan bawaan terhadap binatang; kedua, mereka dapat belajar untuk takut pada binatang apabila diberikan dalam sebuah asosiasi dengan stimulus yang tidak menyenangkan; ketiga, bayi dapat membedakan antara tikus putih yang berbulu dengan balok kayu yang keras, sehingga rasa takut mereka terhadap tikus tidak digeneralisasikan untuk takut pada balok; dan keempat, ketakutan akan tikus putih yang berbulu dapat digeneralisasikan untuk binatang lain serta untuk objek-objek putih yang berbulu.

2.         Pengondisian Operan
       Walaupan pengondisian klasik bertanggung jawab atas beberapa pembelajaran manusia, Skinner yakin bahwa kebanyakan perilaku manusia dipelajari melalui pengondisian operan. Kunci dari pengondisian operan adalah penguatan yang langsung dari sebuah respons. Kemudian, penguatan akan meningkatkan kemungkinan dari perilaku yang sama untuk terjadi lagi. Selama 60 tahun dari karirnya, Skinner mengidentifikasi sejumlah prinsip mendasar dari operant conditioning¾yang menjelaskan bagaimana seseorang belajar perilaku baru atau mengubah perilaku yang telah ada. Perinsip utamanya terdiri atas: pembentukan, penguatan, hukuman, dan eliminasi.


a.        Penguatan
    Menurut Skinner (1987a), penguatan (reinforcement) memiliki dua efek; memperkuat perilaku dan memberikan penghargaan pada orang tersebut. Oleh karena itu, penguatan dan penghargaan tidak sama. Setiap perilaku yang diberi penguatan tidak selalu bersifat memberikan penghargaan atau menyenangkan bagi orang tersebut. Sebagai contoh, orang-orang diberi penguatan untuk bekerja, namun banyak yang menemukan bahwa pekerjaan mereka membosankan, tidak memberikan penghargaan apa pun. 
Penguatan dapat dibagi menjadi yang menghasilkan lingkungan  yang bermanfaat dan yang mereduksi atau menghindari kondisi yang merusak. Penguatan pertama disebut penguatan postif (positive reinforcement) dan yang kedua disebut penguatan negatif (negative reinforcement).

1)             Penguatan Positif
Eksperimen Thorndike dan Skinner menggambarkan reinforcement positif, suatu metode memperkuat perilaku dengan menyertakan stimulus yang menyenangkan. Penguatan positif merupakan metode yang efektif dalam mengendalikan perilaku baik hewan maupun manusia. Contoh umum dari penguatan positif, yaitu makanan, air, seks, uang, dan kenyamanan fisik. Saat ditonjolkan dalam suatu perilaku, masing-masing mempunyai kapasitas untuk meningkatkan frekuensi suatu respons.
Bergantung pada situasi dan kondisi, penguatan positif dapat memperkuat perilaku baik yang diinginkan maupun yang tidak diinginkan. Sebagai contoh, anak-anak kemungkinan mau bekerja keras di rumah maupun di sekolah karena penghargaan yang mereka terima dari orang tua maupun gurunya karena unjuk kerjanya yang bagus.
Salah satu penguatan yang umum untuk perilaku manusia adalah uang. Banyak orang dewasa mengahabiskan waktunya berjam-jam untuk pekerjaan mereka karena imbalan upah. Untuk individu tertentu, uang dapat juga menjadi penguat untuk perilaku yang tidak diinginkan, seperti perampokkan, penjualan obat bius, dan penggelapan pajak.

2)           Penguatan Negatif
             Penguatan negatif adalah menghilangkan suatu stimulus yang tidak disukai dari suatu situasi dan dapat meningkatkan kemungkinan bahwa perilaku sebelumnya akan terjadi. Ada dua tipe reinforcement negative: mengatasi dan menghindari.
            Tipe pertama (mengatasi), seseorang melakukan perilaku khusus mengarah pada menghilangkan stimulus yang tidak mengenakkan. Sebagai contoh, jika seseorang yang sakit kepala mencoba berbagai jenis obat baru pengurang rasa sakit¾dan sakit kepalanya cepat hilang, maka orang ini kemungkinan akan menggunakan obat itu kembali ketika terjadi lagi sakit kepala.
            Tipe kedua (menghindari), seseorang melakukan suatu perilaku menghindari akibat yang tidak menyenangkan. Sebagai contoh, seorang pengemudi kemungkinan mengambil jalur tepi jalan raya untuk menghindari tabrakan beruntun, pengusaha membayar pajak untuk menghindari denda dan hukuman, dan siswa mengerjakan pekerjaan rumahnya untuk menghindari nilai buruk.

b.        Hukuman (Punishment)
Apabila reinforcement memperkuat perilaku, hukuman justru memperlemah, mengurangi peluangnya terjadi kembali di masa depan.  Sama halnya dengan penguatan, ada dua macam hukuman; positif dan negatif.
Hukuman positif, mengurangi perilaku dengan memberikan stimulus yang tidak menyenangkan bila perilaku itu terjadi. Orang tua memberikan hukuman positif ketika mereka memukul, memarahi, atau meneriaki anak karena perilaku yang buruk. Masyarakat menggunakan hukuman positif ketika mereka menahan atau memenjarakan seseorang yang melanggar hukum.
Hukuman negatif (peniadaan), mengurangi perilaku dengan menghilangkan stimulus yang menyenangkan jika perilaku terjadi. Taktik orang tua yang membatasi gerakan anaknya atau mencabut beberapa hak istimewanya karena perbuatan anaknya ang buruk merupakan contoh hukuman negatif.
Kontroversi yang besar terjadi manakala membicarakan apakah hukuman meupakan cara yang efektif dalam mengurangi atau meniadakan perilaku yang tidak diinginkan. Eksperimen dalam laboratorium membuktikan bahwa ketika hukuman digunakan dengan bijaksana, justru menjadi metode yang efektif dalam mengurangi perilaku yang tidak diinginkan. Namun demikian, hukuman memiliki beberapa kelemahan.
Ketika seseorang di hukum hingga dirinya merasa menderita, ia menjadi marah, agresif atau reaksi emosional negatif lainnya. Mereka mungkin menyembunyikan bukti-bukti perilaku salah mereka atau melarikan diri dari situasi buruknya, seperti halnya seorang anak lari dari rumah.
Hukuman mungkin mengeliminasi perilaku yang dikehendaki bersamaan dengan hilangnya perilaku yang tidak dikehendaki. Sebagai contoh, seorang anak yang dipukul karena membuat kesalahan di depan kelas kemungkinan tidak berani lagi tunjuk jari. Karena alasan dan beberapa alasan lainnya, banyak pakar psikologi yang merekomendasikan bahwa hukuma hanya boleh dilakukan untuk mengontrol perilaku ketika tidak ada alternatif lain yang lebih realistis.

c.         Pembentukan (shaping)
Pembentukan merupakan teknik penguatan yang digunakan untuk mengajari perilaku hewan dan manusia yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya. Dalam cara ini, guru memulainya dengan penguatan kembali suatu respons yang dapat dilakukan oleh pembelajar dengan mudah, dan secara berangsur-angsur ditambah tingkat kesulitan respons yang dibutuhkan.
Sebagai contoh, Skinner membuat mesin untuk percobaannya dalam operan conditioning yang dinamakan dengan “Skinner Box” dan tikus merupakan objek yang digunakannya dalam percobaan. Skinner meletakan tikus yang lapar di dalam “Skinner Box”, kemudian binatang tersebut akan menekan sebuah tuas yang membuat dulang makanan terbuka, sehingga diperoleh penguatan dalam bentuk makanan. Di dalam setiap keadaan, seekor binatang akan memperlihatkan bentuk perilaku tertentu; tikus tadi misalnya, akan memperlihatkan perilaku menyelidik pada saat pertama kali masuk ke dalam Box, yaitu dengan mencakar-cakar dinding dan membauinya seraya melihat situasi sekelilingnya. Secara kebetulan, dalam perilaku menyelidik tersebut tikus menyentuh tuas makanan dan makanan pun berjatuhan. Setiap kali tikus melakukan hal tersebut, maka ia akan mendapatkan makanan; penekanan tuas diperkuat dengan penyajian makanan tersebut. Sehingga tikus tersebut akan menghubungkan perilaku tertentu dengan penerimaan imbalan berupa makanan tadi. Jadi, tikus tersebut akan belajar bahwa setiap kali menekan tuas dia akan mendapatkan makanan dan tikus tersebut akan sering kali mengulangi perilakunya, sampai ada proses pemadaman atau penghilangan dengan menghilangkan penguatannya.
Berdasarkan eksperimen Skinner tersebut terdapat istilah penguatan atau dapat disebut reinforcement, yaitu setiap kejadian yang meningkatkan ataupun mempertahankan kemungkinan adanya respons terhadap sesuatu yang diinginkan. Biasanya penguatan berupa sesuatu yang dapat menguatkan dorongan dasar (basicdriver, seperti makanan yang dapat memuaskan rasa lapar dan air yang dapat memuaskan rasa haus).         

d.        Eliminasi (Extinction)
Penguatan sebagaimana dalam penguatan klasik, respons yang dipelajari dalam pengondisian operan tidak selalu permanen. Di dalam pengondisian operan, eliminasi merupakan kondisi dari perilaku yang dipelajari dengan menghentikan penguat dari perilaku tersebut. Jika seekor tikus telah belajar menekan tuas untuk menerima makanan, tingkat penekanannya pada tuas akan berkurang dan akhirnya berhenti sama sekali jika makanan tidak diberikan. Pada manusia, menarik kembali penguat akan menghilangkan perilaku yang tidak diinginkan.

D.       Human Organism
1.         Seleksi Alam
              Kepribadian manusia adalah hasil dari sejarah evolusi yang panjang. Sebagai individu, perilaku kita ditentukan oleh komposisi genetis dan terutama oleh sejarah pribadi kita atas penguatan yang diterima. Sebagai spesies, kita dibentuk oleh faktor-faktor dari kemempuan bertahan hidup. Seleksi alam mempunyai peranan penting dalam kepribadian manusia.
   Perilaku sesorang yang bersifat menguatkan cenderung akan diulangin yang tidak cenderung menguatkan akan dibuang. Perilaku yang sepanjang sejarah telah bermanfaat untuk suatu spesies akan bertahan, sementara yang menguatkan hanya untuk orang-orang tertentu cenderung dibuang. Contoh, bayi yang kepalanya berputar ke arah di mana pipinya dielus dengan lembut, dapat menghisap, sehingga meningkatkan kemungkinannya untuk bertahan hidup dan kemungkinan untuk karakteristik rooting ini diturunkan pada anak-anaknya. Hal tersebut adalah contoh dari refleks yang menjadi karakteristik bayi manusia pada saat ini.
   Faktor-faktor dari penguatan dan ketahanan berinteraksi, dan beberapa perilaku yang menguatkan hanya secara individual juga dapat berkontribusi dalam kemampuan bertahan hidup dari spesies. Contoh, perilaku seksual biasnya memberikan penguatan pada seseorang, namun juga memiliki nilai seleksi alam karena seseorang yang terangsang dengan lebih kuat oleh stimulasi seksual adalah yang lebih mungkin untuk memproduksi keturunan dan mampu melakukan pola perilaku yang hampir sama.
   Tidak setiap sisa-sisa dari seleksi alam mempunyai nilai kemampuan bertahan hidup. Dalam sejarah awal manusia, terlalu banyak makan bersifat adaptif karena membantu manusia untuk bertahan hidup pada masa-masa ketika makanan tidak terlalu banyak. Saat ini dalam masyarakat yang makanannya tersedia terus menerus, obesitas menjadi masalah kesehatan, dan terlalu banyak makan telah kehilangan nilai ketahanan hidupnya.

2.         Evolusi budaya
   Seleksi bertanggung jawab atas praktik budaya yang telah bertahan sebagaimana seleksi memiliki peranan kunci dalam sejarah evolusi manusia dan juga dengan faktor-faktor dari penguatan. Manusia tidak membuat keputusan yang kooperatif untuk melakukan apa yang terbaik untuk masyarakatnya, namun masyarakat yang anggotannya bertindak secara kooperatif cenderung bertahan hidup.
   Peraktik kultural seperti pembuatan perkakas dan perilaku verbal dimulai saat seseorang mulai terdorong untuk menggunakan perkakas atau mengeluarkan bunyi-bunyian yang dapat dibedakan. Kemudian, praktik budaya memunculkan apa yang menguatkan untuk kelompok tersebut walaupun tidak selalu pada anggotanya.
   Sisa-sisa dari budaya, seperti juga dari seleksi alam, tidak semuanya bersifat adaptif. Contoh, peperangan, ketika dalam dunia pra-industrialisasi memberikan manfaat bagi beberapa masyarakat, namun saat ini telah berubah menjadi suatu ancaman bagi keberadaan manusia.

3.         Kondisi-Kondisi Batin
Meskipun menolak penjelasan tentang perilaku berdasarkan konstrak hipotetis yang tidak bisa diamati namun, Skinner tidak menyangkal keberadaan kondisi-kondisi batin, seperti rasa cinta, rasa cemas, atau rasa takut. Kondisi batin bisa dipelajari sama seperti perilaku lainnya namun, pengobservasiannya memang agak terbatas.Kondisi–kondisi batin meliputi:

a.         Kondisi internal
Walaupun menolak penjelasan dari perilaku yang ditemukan di dalam konstruk hipotesis yang bersifat tidak dapat diobservasi, tidak dapat menyangkal adanya kondisi-kondisi internal, seperti perasaan cinta, kecemasan, atau ketakutan. Kondisi internal dapat dipelajari sama seperti perilaku lainnya dan observasinya terbatas.

b.        Kesadaran diri
Manusia tidak hanya mempunyai kesadaran, tetapi juga mengetahui atau menyadari kesadaran mereka, tidak hanya sadar atas lingkungan mereka, tetapi juga sadar bahwa mereka adalah bagian dari lingkungan, mereka juga tidak hanya mengobservasi stimulus eksternal tetapi juga sadar bahwa mereka mengobservasi stimulus tersebut.
Perilaku adalah suatu dari lingkungan dan bagian dari lingkungan yang berada di dalam diri seseorang. Setiap orang secara subjektif sadar akan pikiran, perasaan, ingatan, dan intensinya.
c.         Dorongan
Dari sudut pandang behaviorisme radikal, dorongan bukanlah penyebab dari perilaku, namun lebih merupakan suatu penjelasan fiktif. Dorongan hanya merajuk pada dampak kekurangan dan pemuasan atas sesuatu. Faktor-faktor lain yang meningkatkan atau menurunkan kemungkinan seseorang untuk makan adalah rassa lapar yang diobservasi secara internal, ketersediaan makanan, dan pengalaman terdahulu dengan penguatan perilaku berupa makanan.
Apabila psikolog cukup mengetahui mengenai ketiga hal penting dari perilaku (anteseden, perilaku, konsekuensi), maka mereka akan mengetahui mengapa seseorang berperilaku, yaitu apa saja dorongan-dorongan yang berhubungan dengan perilaku spesifik. Hanya dalam kondisi seperti itulah dorongan mempunyai peranan yang valid dalam kajian ilmiah mengenai prilaku manusia.

d.        Emosi
Mengenali keberadaan subjektif dari emosi, ras bahwa perilaku tidak dapat diatribusikan pada emosi. Emosi melalui faktor-faktor dari kemampuan bertahan hidup dan faktor-faktor penguatan. Seseorang yang mempunyai kecenderungankuat terhadap rasa takut ataupun kemarahan adalah mereka yang berhasil selamat atau meraih kemenangan atas suatu kondisi berbahaya, sehingga mampu menurunkan karakteristik ini pada keturunannya. Pada level perseorangan, perilaku yang diikuti oleh rasa senang, kegembiraan, kenikmatan, dan emosi-emosi menyenangkan lainnya cenderung akan mendapatkan penguatan, sehingga meningkatkan kemungkinanperilaku ini akan terulang dalam kehidupan dari orang tersebut.

e.         Tujuan dan intensi
Tujuan dan intensi ada dalam diri seseorang, namun tidak dapat diteliti secara langsung dari luar. Tujuan yang terasa dan sedang dilakukan dengan sendirinya mungkin bersifat menguatkan. Contoh, apabila anda percaya bahwa tujuan anda adalah berolahraga untuk menyehatkan diri, maka pikiran tersebut bertindak sebagai stimulan yang menguatkan, terutama saat menghadapi kesulitan dalam melakukan olahraga tersebut atau saat mencoba menjelaskan motivasi anda pada seseorang yang bukan pelari.
                     Seseorang dapat memiliki intensi untuk menonton film pada jumat sore karena menonton film yang serupa telah memberikan efek yang menguatkan. Pada saat orang tersebut ingin pergi menonton film, merasakan kondisi fisik dari dalam dirinya dan memberikan laber intensi. Apa yang disebut intensid an tujuan adalah stimulus yang terasa secara fisik dari dalam organisme, dan bukan suatu peristiwa mental yang bertanggung jawab atas suatu perilaku.

4.         Perilaku Kompleks
              Perilaku manusia dapat menjadi sangat kompleks, tetapi Skinner  yakin bahwa bahkan perilaku yang paling abstrak dan kompleks terbentuk dari seleksi alam, evolusim budaya dan sejarah seseorang atas penguatan yang diterimanya. Sekali lagi, Skinner tidak menyangkal adanya proses mental tingkat tinggi seperti kognisi dan mengingat. Ia juga tidak melupakan usaha-usaha kompleks manusia, seperti kreativitas, perilaku yang tidak disadari, mimpi dan perilaku sosial.

a.         Proses Mental Tingkat Tinggi
Skinner (1974) mengakui bahwa pikiran manusia adalah hal yang paling sulit dinalisis dari semua perilaku manusia, tetapi setidaknya berpotensi untuk dimengerti selama seseorang tidak beralih pada hipnotis fiktif seperti “mind”. Berfikir, memecahkan masalah dan mengingat kembali merupakan perilaku yang dapat terlihat, yang mengambil tempat didalam diri seseorang, tetapi tidak didalam pikiran. Sebagai perilaku, contoh tersebut juga dapat dijelaskan melalui faktor-faktor penguatan yang sama dengan perilaku yang dapat dilihat (overt behavior). Sebagai contoh, saat seseorang lupa dimana ia menaruh kunci mobilnya, ia akan mencarinya karena perilaku mencari yang serupa telah diberikan penguatan berdasarkan pengalaman sebelumnya.

b.        Kreativitas
Mengenai kreativitas, Skinner (1974) membandingkan perilaku kreatif dengan seleksi alam dalam teori evolusi. “Sebagai suatu sifat yang tidak disengaja, yang muncul dari mutasi, diseleksi atau kontribusinnya pada kemampuan bertahan hidup, maka variasi yang tidak disengaja dalam perilaku diseleksi berdasarkan faktor-faktor penguat mereka. Sama seperti bagaimana seleksi alam menjelaskan perbedaan diantara spesies tanpa bergantung pada suatu pikiran kreatif yang Maha Kuasa. Behaviorisme menjelaskan perilaku yang inovatif dan baru tanpa menghiraukan pikiran kreatif yang personal.
Bagi Skinner kretifitas hanyalah suatu perilaku (overt maupun covert) yang random dan tidak disengaja yang mendapatkan suatu penghargaan tertentu. Fakta bahwa beberapa orang lebih kretif dari pada orang lain adalah karena adanya perbedaan genetis dan perbedaan pengalaman yang membentuk perilaku kreatif mereka.

c.         Perilaku yang Tidak Disadari
 Sebagai penganut behaviorisme radikal, Skinner tidak dapat menerima gagasan bahwa ada suatu gudang dari ide dan emosi yang tidak disadari. Akan tetapi, ia menerima perilaku yang tidak disadari. Malah, karena manusia jarang mengobservasi hubungan antara variable genetic, lingkungan dan perilaku mereka sendiri, hamper semua perilaku kita termotivasi secara tidak sadar. Dalam pembahasan yang terbatas, perilaku disebut tidak sadar saat seseorang tidak lagi memikirkan tentang hal tersebut, karena telah ditekan memalui hukum. Perilaku yang mempunyai konsekuensi yang tidak menyenangkan mempunyai kecenderungan untuk dilupakan atau tidak lagi berada didalam pikiran. Seorang anak yang dihukum secara berulang dan dengan keras karena permainan yang bersifat seksual, mungkinakan menekan perilakunya sekaligus menahan pikiran atau ingatan mengenai aktivitas seksual tersebut telah terjadi. Penyangkalan seperti itu menghindari aspek yang tidak diinginkan, yang berkaitan dengan pkiran mengenai hukuman dan kemudian menjadi suatu penguat negative. Dengan perkataan lain, anak tersebut akan terdorong untuk tidak berfikir mengenai suatu perilaku seksual.

d.        Mimpi
 Skinner (1953) melihat mimpi sebagi suatu bentuk perilaku yang tertutup dan simbolis, yang dapat dijelaskan oleh faktor-faktor penguatan sebagaiman perilaku pada umumnya. Ia setuju dengan Freud bahwa mimpi dapat berfungsi untuk tujuan pemenuhan keinginan. Perilaku bersifat menguatkan saat stimulus seksual atau agresif akhirnya dapat diekspresikan. Untuk mempraktika fantasi seksual dan untuk benar-benar menyakiti seorang musuh adalah dua perilaku yang mungkin diasosiasikan dengan hukuman. Bahkan, untuk memikirkan secara tertutup perilaku-perilaku tersebut akan mempunyai dampak yang menghukum, namun didalam mimpi perilaku tersebut dapat di ekspresikan secara simbolis tanpa hukuman yang menyertainya.

e.         Perilaku Sosial
Kelompok tidak berperilaku, hanya individulah yang berperilaku. Individu-individu membentuk kelompok karena mendapatkan suatu manfaat dengan melakukan hal tersebut. Keanggotaan dari kelompok sosial tidak selalu memberikan penguatan, namun setidaknya tiga alasan, beberapa individu tetap menjadi anggota dari suatu kelompok. Pertama, individu tetap berada pada suatu kelompok yang menyiksa mereka karena beberapa anggota anggota kelompok menguatkan mereka. Kedua, beberapa individu terutama anak-anak mungkin tidak memunyai cara keluar dari keompok. Ketiga, pengutan mungkin terjadi dalan suatu jadwal yang tidak teratur.
      
5.         Mengendalikan Perilaku Manusia
              Perilaku seseorang dikontrol oleh faktor-faktor lingkungan. Faktor-faktor tersebut dapat ditegakkan oleh masyarakat, orang lain, atau diri sendiri; namun lingkungan, dan bukan kemauan bebas, yang bertanggung jawab atas semua perilaku.

a.         Kontrol Sosial
Seseorang bertindak untuk membentuk suatu kelompok sosial karena perilaku semacam ini cenderung menguatkan. Kemudian, kelompok akan memberikan suatu kontrol terhadap anggotanya dengan merumuskan hukum, peraturan atau kebiasaan secara tertulis ataupun tidak, yang mempuyai suatu kehadiran fisik diluar  kehidupan tersebut. Hukum negara, peraturan organisasi, dan kebiasaan budaya berada diatas cara-cara seseorang untuk melawan suatu kontrol dan berfungsi sebagai variabel yang mengontrol dengan sangat kuat dalam hidup anggotannya.
Menurut Erich Fromm, setiap orang dikontrol oleh beragam tekanan dan teknik sosial, namun semannya dapat dikelompokkan menjadi empat kategori: (1) pengondisian operan, (2) menjelaskan faktor-faktor, (3) kekurangan dan kepuasan, (4) pengendalian fisik (Skinner, 1953).
Masyarakat memberikan suatu kontrol atas anggotanya melalui empat metode prinsip dari pengondisian operan, yaitu pengutan positif, penguatan negatif, dan dua teknik hukuman (memberikan stimulus yang tidak menyenagkan atau menghilangkan stimulus yang menyenangkan).
Teknik kedua dari kontrol sosial adalah untuk memprediksikan kepada seseorang mengenai faktor-faktor dari penguatan. Menjelaskan faktor-faktor melibatkan bahasa-biasanya verbal, untuk memberitahu orang-orang konsekuensi dari perilaku yang belum mereka kerjakan. Banyak contoh yang tersedia dari menjelaskan faktor-faktor, antara lain melalui ancaman atau janji. Cara yang lebih halus dalam kontrol sosial adalah dengan iklan, dirancang untuk memanipulasi manusia untuk membeli suatu produk tertentu. Tidak ada satupun dari contoh-contoh ini yang mengusahakan suatu kontrol akan berhasil dengan sempurna,  tetapi masing-masing meningkatkan kemungkinan perilaku yang diinginkan akan muncul.
Ketiga, perilaku dapat dikontrol dengan membuat sesorang kekurangan atau dengan memuaskan mereka dengan suatu pendorong. Sekali lagi, walaupun dengan kekurangan dan kepuasan adalah kondisi internal, tetapi kontrolnya tetap berasal dari lingkungan. Orang-orang yang kekurangan makanan lebih mungkin untuk makan; mereka yang puas memiliki kemungkinan yang lebih rendah walauoun tersedia makanan yang lezat.
Terakhir, manusia dapat  dikontrol melalui pengendalian fisik, seperti menahan seorang anak dari suatu jurang yang dalam atau dengan memasukkan pelanggar hukum kepenjara. Pengendalian fisik berfungsi untuk melawan dampak pengondisian, dan pengendalian tersebut berakibat pada erilaku yang berkebalikan darri apa yang akan dilakukan oleh seseorang apabila ia tidak dikendalikan.
Beberapa orang mungkin akan berkata bahwa pengendalian fisik adalah cara untuk menghalau kebebsan seseorang. Akan tetapi, Skinner (1971) yakin bahwa perilaku tidak mempunyai hubungan apa pu dengan kebebasab pribadi, tetapi dibentuk oleh faktor-faktor dari kemampuan bertahan hidup serta dampak dari penguatan adalah faktor-faktor dari lingkungan sosial. Oleh karena itu, suatu tindakan mengendalikan fisik eseorang tidak melakukan negasi yang berlebih pada kebebasan dibandingkan teknik kontrol lainnya, termasuk kontrol diri.

b.        Kontrol Diri
Skinner mengatakan bahwa seperi seseorang dapat ,mengubah variabel yang ada dalam lingkunganorang lain, mereka juga dapat memanipulasi variabel dalm lingkunganmereka sendiri, dan melakukan beberapa bentuk kontrol diri.
Skinner dan Margaret Vaughan (skinner&vaughan, 1983) telah mendiskusikan beberapa  teknik yang dapat digunakan oleh manusia untuk melakukan kontrol diri tanpa bergantung pilihan bebas. Pertama, mereka dapat menggunakan alat bantu seperti perkakas, mesin, dan sumber finansial merubah lingkungan mereka. Kedua, manusia dapat merubash lingkungannya sehingga meningkatkan kemungkinan munculnya perilaku yang diinginkan. Ketiga, manusia dapat mengatur lingkungannya supaya dapat menghindari stimulus yang tidak menyenangkan, hanya dengan melakukan respon yang tepat. Keempat, manusia dapat menggunakan obat-obatan, terutama alkohol sebagai suatu cara melakukan kontrol diri. Kelima, manusia dapat melakukan hal lain untuk menghindari berperilaku dengan cara yang tidak diinginkan.

E.       Kepribadian Tidak Sehat
          Perilaku yang tidak pantas merupakan hasil dari teknik melawan kontrol sehingga merugikan diri sendiria atau dari usaha yang gagal dalam melaukan kontrol diri, salah satu dari kegagalan ini di iringi oleh emosi yang kuat. Seperti kebanyakan repons yang tidak pantas atau tidak sehat dipelajari. Peilau tersbut bebentuk dari penguatan negatif dan pistif. Khususnya oleh dampak dari hukuman.
          Perilaku yang tidak pantas meliputi perilaku yang sangat kuat dan berlebihan yang tidak masuk akal untuk situasi yang kontenporer, namun dapat masuk akal dalam sejarah masalalu. Dan perilaku yang sangat terbatas yang digunakan oleh manusia sehingga cara untuk menghindari stimulus yang tidak menyenangkan yang diasosiasikan dengan hukumna. Bentuk lain dari perilaku yang tidak pantas mmberikan perhatian sama sekali terhadap stimulus yang tidak menyenangkan.
          Bentuk keempat dari perilaku yang tidak di inginkan berasal dari penegtahuan yang salah dan dimanisionalisasi atau melakukan klaim bahwa dirinya adalaj juru selama pola perilaku ini mengkuatkan secara negatif karena seseorang dapat menghindari stimulus yang tidak menyenangkan yang di asosiasikan dengan keterbatasan pikiran.
          Pola perilaku yang tidak pantas lainya adalah menghukum diri sendiri, dalam bentuk seseorang yang secara langsung menghukum dirinya sendiri atau dengan mengatur variable lingkungan sehingga mereka dihukum oleh orang lain.

F.        Kritik dan Analisis Teori
1.    Kritik
Psikolog eksentrik Hans J. Eysenck (1998) pernah mengkritik Skinner karena tidak mempertimbangkan konsep-konsep seperti perbedaan individu, faktor genetic dan seluruh ranah kepribadian. Klaim ini hanya benar sebagian saja karena Skinner sesungguhnya menyadari adanya faktor genetik dan ia telah memberikan suatu definisi yang agak tidak terlalu fokus pada kepribadian, dengan mengatakan bahwa “yang terbaik adalah suatu jangkauan dari perilaku yang didorong oleh suatu rangkaian faktor-faktor yang terorganisasi” (Skinner, 1974, hlm. 149). walaupun opini Eysenck sangat menarik, mereka tidak memberikan kritik yang cukup bermakna atas pekerjaan Skinner tersebut. Bagaimana teori Skinner memenuhi enam kriteria yang membangun suatu teori yang bermanfaat?   Pertama, karena teori ini telah menghasilkan, kami menilai teori ini sangat tinggi dalam kemampuannya untuk menghasilkan penelitian. Kedua, kebanyakan dari gagasan-gagasan Skinner dapat di salahkan atau diverifikasi, sehingga kami juga menilai teori ini tinggi dalam aspek dapat dikaji ulang.
Ketiga, dalam kemampuan untuk mengorganisasi informasi mengenai kepribadian manusia, kami memberikan skala sedang pada teori ini. Pendekatan Skinner adalah untuk mendeskripsikan perilaku dan faktor-faktor lingkungan dibawah kondisi hal tersebut terjadi. Tujuannya adalah untuk mengumpulkan fakta-fakta deskriptif dan melakukan generalisasi terhadap perilaku dan faktor-faktor lingkungan tersebut. Kebanyakan sifat kepribadian, seperti yang ada dalam model lima faktor, dapat dijelaskan dengan prinsip pengondisian operan. Akan tetapi, konsep lainnya seperi wawasan, kreativitas, motivasi, inspirasi dan kemampuan diri tidak dapat masuk dengan mudah kedalam kerangka kerja pengondisian operan.
Keempat, dalam mengarahkan tindakan, kami memberikan nilai sangat tinggi untuk teori Skinner. Banyaknya penelitian deskriptif yang dilakukan oleh Skinner dan penganutnya telah membuat pengondisian operan sebagai prosedur yang sangat praktis. Sebagi contoh, teknik Skinner telah digunakan untuk membantu pasien fobia mengatasi ketakutan mereka, meningkatkan persetujuan terhadap rekomendasi medis, membantu orang mengatasi kecanduan terhadap tembakau dan obat-obatan, meningkatkan kebiasaan makan, dan meningkatkan asertivitas. Kenyataannya, teori skinner dapat diaplikasikan kepada hampir semua pelatihan, pengajaran dan psikoterapi.
Kriteria kelima dari teori yang berguna adalah konsistensi internal dan kami menilai teori Skinner sangat tinggi pada kriteria ini. Skinner mendefinisikan istilah-istilahnya dengan sangat terperinci dan operasional, suatu proses yang sangat dibantu oleh usahanya menghindari konsep mental yang fiktif.
Apakah teori ini cukup hemat? Dalam kriteria terkahir ini, teori Skinner sulit untuk dinilai. Pada satu sisi, teori ini terbebas dari konstruk hipotesis yang terlalu bertele-tele, tetapi di sisi lain, teori ini menuntut suatu ekspresi baru dari bahasa sehari-hari. Sebagai contoh, dari pada mengatakan “Saya merasa sangat marah pada siuami saya, saya melemparkan sebuah piring padanya, tetapi meleset”, seseorang harus mengatakan “Faktor-faktor penguatan dari lingkungan saya terbentuk sehingga saya mengobservasi organisme saya melemparkan piring pada dinding dapur”.

2.    Analisis Teori
Skinner tidak dapat diragukan lagi bahwa ia sudah memperluas jangkauan teori belajar. Setelah memerhatikan keterbatasan pengondisian klasik, dia mengeksplorasi  sifat tingkah laku operan, dimana organisme bertindak bebas dan dikontrol oleh konsekuensi-konsekuensi tindakannya. Di dalam serangkaian studi yang cemerlang, Skinner menunjukan bagaimana kontrol semacam itu digunakan lewat jadwal penguatan, pembentukan, pengaruh stimuli pembeda dan faktor-faktor lainnya. Lebih jauh lagi, Skinner membuktikan dengan tegas pentingnya kepraktisan ide-idenya.
Proses ini, Skinner banyak mengundang kontroversi dari berbagai pihak. Bagi beberapa orang, metodenya mendukung praktik-praktik otoritarian karena dia melegitimasi cara untuk  mengontrol, memanipulasi dan memprogram tingkah laku yang diinginkan atau tidak. Skinner menjawab bahwa faktanya lingkunganlah yang mengontrol tingkah laku, hanya sebagaimana kita memanfaatkan pengetahuan ini tergantung pada diri kita sendiri. Kita bisa menciptakan lingkungan yang cocok dengan tujuan manusia, atau kita bisa menciptakan lingkungan yang tidak sesuai dengan tujuan itu.
Ditataran yang lebih objektif, ada tiga hal yang esensinya tidak bisa disepakati Skinner dari para penulis penganut tradisi developmentalis. Pertama, para teorisi developmentalis. Pertama, para teorisi developmentalis sering membicarakan peristiwa-peristiwa internal. Piaget contohnya, menggambarkan struktur-struktur mental dengan sangat kompleks meski dia sendiri tidak akan sanggup menemukan bukti langsung semua ini dalam kasus individual mana pun. Kaum Freudian membahas peristiwa-peristiwa internal seperti fantasi-fantasi tak sadar, yang tidak akan bisa kita amati.secara langsung semuanya. Skinner percaya jika konsep-konsep seperti ini berbeda dari kemajuan ilmia, yang muncul hanya jika kita membatasi diri kepada pengukuran terhadap respon-respon yang tampak dan stimuli dari lingkungan. Namun karena hal inilah sekarang skinner umumnya dipahami terlalu ekstrem. Karena pada tahun 1960-an, muncul minat  baru yang dramatis pada kognisi, bahkan menumbukan sejumlah teori belajar yang ikut-ikutan menyelidiki peristiwa-peristiwa kognitif dan internal juga, meskipun peristiwi-peristiwa ini tidak bisa diukur langsung.
Kedua, teori perkembangan dan kaum Skinnerian tidak setuju dengan pemaknaan dan pentingnya tahap-tahap perkembangan periode dimana anak-anak mengorganisasikan pengalaman dengan berbagai macam cara. Di dalam teori Piaget, contohnya tahap anak sangat beragam dan ini seperti pemrediksi terhadap jenis pengalaman anak yang bisa dipelajari. Seorang anak ditingkatan sensori-motorik tidak akan sanggup mempelajari tugas-tugas yang melibatkan bahasa, begitu pula anak yang menguasai operasi-operasi berpikir konkret tidak akan bisa belajar banyak dari kuliah-kuliah yang isinya abstrak.
Kaum Skinnerian meragukan validitas tahapan umum seperti ini, dimana cara berfikir atau bertindak yang berbeda-beda seolah berjenjang-jenjang, sebenarnya lingkunganlah yang membentuk tingkah laku dengan cara bertahap dan berkelanjutan tersebut (skinner, 1953,h.91; Bijou,1976, h.2). Namun begitu, Skinner juga menekankan kalau kita harus mempertimbangkan usia anak disetiap eksperimen, sama seperti kita harus memperhatikan spesies hewan dan karekeristik tingkah lakunya. Usia memberikan kontribusi bagi topografi tingkah laku, membantu kita melukiskan tingkah laku yang ingin dibentuk atau dipertahankan pelaku eksperimen. Namun informasi seperti ini pun masih bersifat deskriptif.
Perbedaan ketiga yang memisahkan Skinner dari para teori developmentalis justru adalah faktor yang paling penting dari semuanya, yaitu terkait dengan sumber perubahan tingkah laku itu sendiri. Para developmentalis yakin kalau di dalam kasus-kasus yang krusial, pikiran, perasaan dan tindakan anak berkembang secara spontan dari dalam dirinya. Tingkah laku tidak dipola secara eksklusif oleh lingkungan eksternal. Gesell contohnya, percaya bahwa anak-anak berdiri, berjala, berbicara dan sebagainya dari dorongan pematangan dari dalam. Piaget bukan penganut paham pendewasaan seperti ini, namun dia juga sepakat daya-daya batin inilah yang melandasi perubahan perkembangan. Di matanya, tingkah laku anak tidak distrukturkan oleh lingkungan, melainkan oleh anak-anak itu sendiri. Anak-anak, diluar ketertarikan spontan mereka kepada peristiwa-peristiwa yang relatif baru, membangun struktur-struktur yang semakin kompleks dan terbedakan untuk menghadapi dunia ini.
Bayangkan, contohnya seorang bayi perempuan yang menjatuhkan sebuah kotak dan mendengarkan bunyinya, lalu menjatuhkan kotak itu lagi dan lagi, membuat bunyi baru dan menarik itu bertahan lama. Di dalam teori Skinner, bunyi adalah penguat yang mengontrol tingkah lakunya. Meskipun begitu, penguat ini akan segera kehilangan efektivitasnya, karena dia akan segera menjadi tertarik pada hasil yang lebih kompleks. Dia bisa saja sebagai contoh mendengarkan bunyi-bunyi yang berbeda saat dia menjatuhkan objek dari ketinggian yang berbeda-beda. Namun, sebaliknya bagi Piaget, kita tidak bisa melihat penguatan eksternal menjadi penentu tingkah laku ini, karena penguatan tersebut sering kali beragam sesuai minat anak yang berkembang. Bagi dia, variable utamanya adalah keingintahuan spontan anak yang semakin kompleks tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di hadapannya.
Dengan demikian, para teorisi perkembangan berusaha mengkonseptualisasikan cara anak tumbuh dan belajar dengan caranya sendiri, sesuatu yang independen dari pengajaran orang dewasa atau penguatan eksternal lainnya. Namun begitu, disaat yang sama tak seorang pun dapat menolak kalau lingkungan juga turut memperkuat dan mengontrol tingkah laku anak di tataran yang bisa dilihat dari luar, dan seringkali sesuai dengan cara-cara Skinner melukiskannya. Lebih jauh lagi, teori dan penelitian Skinner memiliki kelugasan yang jernih dan elegan sehingga orang lain bisa langsung tertantang untuk menyainginya. Sangat jelas, kalau begitu jika kontribusi Skinner yang luar biasa bagi metode dan teori ilmiah ini akan menjadi sebuah kontribusi yang bisa bertahan lama.















BAB III
SIMPULAN

A.      Simpulan
       Teori belajar menurut B.F Skinner  yaitu Operant Conditioning merupakan suatu bentuk belajar yang mana kehadiran respon berulang-ulang dikendalikan oleh konsekuensinya, dimana individu cenderung mengulang-ulang respon yang diikuti oleh konsekuensi yang menyenangkan. Adanya hukuman dan hadiah yang diberikan akan membuat individu lebih mudah untuk belajar.
              Menurut Skinner unsur yang terpenting dalam belajar adalah adanya penguatan (reinforcement) dan hukuman (punishment). Penguatan (reinforcement) adalah konsekuensi yang meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akan terjadi. Sebaliknya, hukuman (punishment) adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku.


           














DAFTAR PUSTAKA

Feist, Jess dan Gregory J. Feist. 2013. Teori Kepribadian. (Alih Bahasa: Smita Prathita Sjahputri). Jakarta: Salemba Humanika.

Crain, Willian. 2007. Teori Perkembangan. Ed. 3. (Alih Bahasa: Yudi Santoso). Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Laurence, dkk. 2010. Psikologi kepribadian. (Alih Bahasa: A. K. Anwar). Jakarta: Kencana

Samawa, Nadi. 2012. Teori Conditioning Operat B. F. Skinner. Diunduh tanggal 9 Oktober 2015, dari http://nadisamawa.blogspot.com.