BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Banyak teori tentang belajar
yang telah berkembang mulai abad ke 19 sampai sekarang ini. Pada awal abad
ke-19 teori belajar yang berkembang pesat dan memberi banyak sumbangan terhadap
para ahli psikologi adalah teori belajar tingkah laku (behaviorisme)
yang awal mulanya dikembangkan oleh psikolog Rusia Ivan Pavlav (tahun
1900-an) dengan teorinya yang dikenal dengan istilah pengkondisian klasik (classical
conditioning) dan kemudian teori belajar tingkah laku ini dikembangkan oleh
beberapa ahli psikologi yang lain seperti Edward Thorndike, B.F Skinner dan
Gestalt.
Teori belajar behaviorisme ini
berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati. Pengulangan dan
pelatihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan.
Hasil yang diharapkan dari penerapan teori behavioristik ini adalah
terbentuknya suatu perilaku yang diinginkan. Perilaku yang diinginkan mendapat
penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai mendapat penghargaan negatif.
Evaluasi atau Penilaian didasari atas perilaku yang tampak. Dalam teori belajar
ini guru tidak banyak memberikan ceramah,tetapi instruksi singkat yang diikuti
contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui simulasi. Di awal abad 20 sampai
sekarang ini teori belajar behaviorisme mulai ditinggalkan dan banyak
ahli psikologi yang baru lebih mengembangkan teori belajar kognitif dengan
asumsi dasar bahwa kognisi mempengaruhi prilaku. Penekanan kognitif menjadi
basis bagi pendekatan untuk pembelajaran. Walaupun teori belajar tigkah laku
mulai ditinggalkan diabad ini, namun mengkolaborasikan teori ini dengan teori
belajar kognitif dan teori belajar lainnya sangat penting untuk menciptakan
pendekatan pembelajaran yang cocok dan efektif, karena pada dasarnya tidak ada
satu pun teori belajar yang betul-betul cocok untuk menciptakan sebuah
pendekatan pembelajaran yang pas dan efektif.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka pada makalah ini akan dibahas
beberapa hal terkait, sebagai berikut:
1. Biografi
Ringkas B.F. Skinner
2. Perintis Dari Behaviorisme Ilmiah Skinner
3. Behaviorisme Ilmiah
4. Pengondisian
5. Organisme
Manusia
6. Kepribadian
yang Tidak Sehat
C. Tujuan
Penulisan
Adapaun
tujuan penulisan makalah ini, sebagai berikut:
1. Mengetahui biografi ringkas B.F. Skinner
2. Mengetahui
perintis dari behaviorisme ilmiah Skinner
3. Mengetahui
behaviorisme ilmiah
4. Mengetahui
pengondisian
5. Mengetahui
organisme manusia
6. Mengetahui
kepribadian yang tidak sehat
BAB II
PEMBAHASAN
A. Biografi
B.F. Skinner
Burrhus
Frederic skinner (B.F. Skinner) lahir di Susquehanna, Pennsylvania, pada
tanggal 20 Maret 1904. Ia merupakan anak pertama dari pasangan William Skinner
dan Grace Mange Burrhus Skinner. Ayahnya adalah seorang pengacara dan seorang
politisi, sedangkan Ibunya adalah seorang Ibu rumah tangga. Skinner tumbuh
dalam suasana dan lingkungan yang nyaman, bahagia, dan dengan derajat ekonomi
keluarga menengah ke atas. Orang tuanya menerapkan nilai-nilai kesederhanaan,
kebaktian, kejujuran, dan kerja keras dalam menjalani kehidupan. Keluarga
skinner adalah orang-orang gereja, namun Freud (B.F skinner) pernah hampir
kehilangan kepercayaan terhadap agama ketika masih duduk di bangku sekolah
menengah. Dan kemudian ia tidak menjalankan atau mengikuti agama apapun.
Ketika
berusia 2 setengah tahun, adiknya, Edward yang biasa disapa Ebbie lahir. Freud
merasa bahwa adiknya lebih disayang oleh kedua orang tuanya. Namun, ia tidak
merasa kehilangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Pada tahun pertama
Freud di perguruan tinggi, adiknya, Ebbie meninggal dunia. Sejak saat itu kedua
orang tuanya menjadi progresif dan sulit memberikan izin kepada Freud untuk
bepergian. Mereka menginginkan Freud menjadi anak rumahan “The Family Boy” saja. Dengan sungguh-sungguh kedua orang tuanya
sukses menjalankan kewajiban dengan menjaga kestabilan keuangan freud, bahkan
hingga ia menjadi seorang psikologi terkemuka di Amerika.
Pada tahun
pertama, Skinner tertarik untuk menjadi seorang penulis profesional, dengan
tujuan atau cita-citanya mempublikasikan Walden
Two ketika ia mulai berusia 40 tahun. Ketika Skinner tamat dari sekolah
menengah, keluarganya pindah ke Scranton, Pennsylvania. Dan hampir dengan
seketika Skinner masuk ke Peguruan Tinggi Hamilton, sebuah sekolah kesenian
liberal di Clinton, New York. Setelah mendapatkan gelar sarjana muda di
Inggris, Skinner menyadari ambisinya untuk menjadi seorang penulis yang
kreatif.
Skinner
memberi tahu ayahnya bahwa ia berkeinginan untuk menghabiskan waktu satu tahun dengan tanpa
bekerja di rumah kecuali menulis. Dengan alasan akan kebutuhan untuk
membangun/membentuk kehidupan, ayahnya (William Skinner) dengan terpaksa
mendukung skinner selama satu tahun ini, dengan kondisi atau alternatif skinner
akan mendapatkan pekerjaan yang lain jika karir menulisnya tidak sukses. Namun,
datang sebuah surat pemberi harapan dari Robert Frost, dengan suratya ia
memberikan harapan kepada Skinner untuk menjadi seorang penulis karena ia telah
membaca tulisan-tulisan Skinner.
Skinner
pun kembali ke rumah orang tuanya di Scranton, belajar di loteng dan mulai
menulis dari pagi hari. Namun, usahanya tidak produktif karena ia malah tidak
memiliki ide untuk disampaikan dan dituangkan dalam tulisan-tulisannya. Hingga
satu tahun itu disebut sebagai “Tahun Kegelapan” bagi Skinner. Tahun kegelapan
tersebut memberikan gambarana akan kuatnya kebimbangan identitas hidup Skinner,
dan ini bukanlah kirisis identitas yang terakhir bagi Skinner.
Pada akhir
tahun kegelapannya yang berlangsung selama 18 bulan, Skinner dihadapi dengan
permintaan untuk mencari pekerjaan baru. Psikologi pun memberinya isyarat.
Setelah membaca beberapa karya Watson dan Pavlov, ia memutuskan untuk menjadi
seorang behavioris. Ia pun tidak pernah ragu terhadap keputusannya tersebut dan
dengan kesungguhan hati menerjunkan dirinya ke dalam behaviorisme radikal.
Meskipun
Skinner tidak pernah mengambil pendidikan sarjana psikologi, Harvard
menerimanya sebagai mahasiswa lulusan psikologi. Setelah mendapatkan gelar PhD
pada tahun 1931, Skinner menerima beasiswa dari Dewan Penelitian Nasional untuk
melanjutkan penelitian laboratoriumnya di Harvard. Skinner pun menjadi pecaya
diri dengan identitasnya sebagai seorang behavioris. Ia juga membuat garis besar
cita-cita/tujuannya dalam 30 tahun ke depan. Dalam rencananya, Skinner
juga terus mengingatkan dirinya untuk
benar-benar taat dan sungguh-sungguh dalam mendalami metodologi behavioristik.
Di tahun 1960, Skinner telah berhasil mewujudkan fase terpenting dalam
rencananya.
Pada
tahun, 1936, Skinner mulai mendapatkan posisi atau kedudukan pada pengajaran
dan penelitian di Universitas Minnesota. Sesaat setelah pindah ke Minneapolis,
ia memiliki seorang kekasih dengan masa pacaran yang pendek dan tidak menentu.
Hingga ia kemudian menikah dengan Yvonne Blue. Skinner mempunyai 2 orang anak,
yaitu Julie yang lahir pada tahun 1938 dan Deborah (Debbie) yang lahir pada
tahun 1944. Dalam tahun-tahunnya di Minnesota, Skinner menerbitkan buku
pertamanya yang berjudul The Behavior of Organisms (1938).
Menginjak usia
yang ke-40 tahun, Skinner masih bergantung kepada bantuan keuangan dari ayahnya
untuk berjuang dalam ketidak berhasilannya menulis buku mengenai perilaku lisan
(Behavior Verbal). Karena ia tidak sepenuhnya terlepas dari “Tahun Kegelapan”
dalam 20 tahun pertama. Meski Skinner menjadi sukses dan menjadi seorang
behavioris terkemuka, ia lamban dalam mengatur dan menghasilkan keuangannya
sendiri. Dengan model kekanak-kanakan, ia mengijinkan orang tuanya untuk membayar
mobil, liburan, pendidikan anak-anaknya di sekolah, bahkan rumah untuk
keluarganya.
Ketika
Skinner masih menuntut ilmu di Universitas Minnesota, ayahnya memberikan
penawaran kepada Skinner, bahwa ia akan membayar gaji sekolah musim panasnya
jika ia terlebih dahulu mengajar selama musim panas dan membawa istri serta
kedua anaknya ke Scranton. Skinner pun menerima tawaran dari ayahnya untuk
pindah ke Scranton serta untuk kembali menulis. Namun, buku yang ia tulis masih
belum dapat diselesaikan juga hingga beberapa tahun mendatang.
Pada tahun
1945, Skinner meninggalkan Minnesota untuk mengetuai/mengepalai sebuah
Departemen Psikologi di Universitas Indiana, sebuah pilihan yang menjadikannya
lebih frustasi karena tugas-tugas administifnya menjemukan, ditambah Skinner
belum merasakan pengetahuan dan pengalaman akan psikologi itu sendiri. Namun,
istrinya memiliki perasaan atau anggapan yang bertentangan dengan Skinner. Ia
beranggapan bahwa meskipun begitu, krisis pribadi Skinner akan segera berkahir
dan karir profesionalnya pun akan datang.
Pada
liburan musim panas tahun 1945, Skinner menulis Wolden Two, sebuah novel khayalan yang menggambarkan sebuah
masyarakat sosial dengan permasalahan dalam penyelesaian masalah yang
berhubungan dengan perilaku ahli teknik. Meskipun tidak diterbitkan hingga
1948, bukunya disajikan oleh penulis dengan terapi langsung dalam bentuk
emotional catharsis. Hingga akhirnya Skinner dapat belajar dari kegagalan
menuju kemahiran selama tauhn kegelapannya, yaitu 20 tahun pertama.
Skinner
menjelaskan bahwa dua karakter yang ada dalam bukunya, yaitu Farazier dan
Burris mewakili usaha atau percobaannya untuk menggabungkan dua askpek berbeda
yang ada dalam kepribadiannya sendiri. Buku Wolden
Two pun turut menjadi pembangun karier profesional Skinner. Tidak lama
kemudian ia mengurung diri untuk pembelajaran laboratorium terhadap tikus dan
burung dara, tapi kemudian ia terlibat/dilibatkan dalam aplikasi analisis
tingkah laku terhadap teknologi pembentukan perilaku manusia dan mendapatkan
ungkapan filosofis dalam Beyond Freedom
and Dignity.
Pada tahun
1948, Skinner kembali ke Harvard, dan melanjutkan eksperimen kecil menggunakan
burung dara. Tahun 1964, di usianya yang ke-60 tahun, Skinner berhenti
mengajar. 10 tahun kemudian, ia mengambil 2 program pendanaan karier dari
pemerintah pusat untuk masa 5 tahun, yang mengizinkan Skinner untuk melanjutkan
menulis dan memimpin penelitian. Ia pun berhenti menjadi profesor psikologi
pada tahun 1974. Setelah berhenti mengajar pada tahun 1964, Skinner menulis
beberapa buku penting mengenai tingkah laku manusia (human behavior) yang membantunya mendapatkan gelar sebagai
America’s best-known living psychologist.
Pada
tanggal 18 Agustus 1990, Skinner meninggal karena menderita leukimia. Satu
minggu sebelum kematiannya, Skinner mengirimkan pidato emosianalnya kepada
konvensi American Psychological Association (APA) mengenai kelanjutan
advokasinya tehadap behaviorisme radikal. Dengan adanya konvesi ini, ia mendapat
surat pujian pertama sebagai Outstanding
lifetime Constribution to Psychology. Dan Skinner adalah satu-satunya orang
yang mendapat penghargaan tersebut dalam sejarah APA.
B. Sejarah
Perkembangan Operant Reinforcement
Dasar
prosedur pengkondisian operant
Skinner adalah kontrol perilaku melalui manipulasi imbalan dan hukum dalam
lingkungan laboratorium. Akan tetapi, keyakinannya tentang arti hukum perilaku
dan minatnya dalam membangun sesuatu menyebabkan Skinner membawa pemikiran dan
risetnya jauh melampaui dinding laboratorium. Dia membuat “Kotak Bayi” untuk
memekanisasi perawatan bayi, mesin pengajaran yang menggunakan imbalan dalam
pengajaran mata pelajaran, dan prosedur di mana burung dara dapat digunakan
untuk mendaratkan misi tepat sasaran. Dia berkomitmen pada pandangan bahwa ilmu
perilaku manusia dan teknologi yang bersumber dari ilmu itu harus dikembangkan
demi kemaslahatan manusia. Novelnya, Walden
Two (1948), menggambarkan utopia yang didasarkan kepada kontrol perilaku
manusia melalui penguatan positif (imbalan).
Sebelum
membahas beberapa proses yang dipandang oleh teori ini sebagai perilaku dasar,
adalah penting untuk mencermati konsep reinforcement
(penguat). Skinnerriant mendefinisikan penguat sebagai event (stimulus) yang mengikuti respons dan meningkatkan
kemungkinan manifestasinya. Jika seekor burung dara mematuk di atas meja, yang
merupakan bagian dari perilaku operant,
diikuti oleh penguat seperti makanan, kemungkinan patukannya di atas meja akan
meningkat. Menurut pandangan ini, penguat menguatkan perilaku yang diikutinya, dan
tidak diperlukan penjelasan biologis untuk menentukan mengapa stimulus menguatkan
perilaku. Stimuli yang pada awalnya tidak berfungsi sebagai penguat menjadi
penguat melalui keterhubungan mereka dengan penguat lain. Beberapa stimuli,
seperti uang, menjadi generalized
renforcement (penguat tergeneralisasi) karena mereka memberikan akses
kepada banyak jenis penguat.
Adapun
yang perlu diperhatikan di sini adalah penguat didefinisikan berdasarkan
efeknya terhadap perilaku dan peningkatan kemungkinan respons. Sering kali
sulit untuk mengetahui secara tepat apa yang berfungsi sebagai penguat
perilaku, karena hal tersebut bervariasi dari satu individu ke individu lain
atau dari satu organisme ke organisme lain. Menemukan penguat dapat merupakan
operasi trial and error. Seseorang
akan terus mencoba stimuli sampai menemukan stimulus yang benar-benar dapat
meningkatkan probabilitas respons tertentu.
Pendekatan
Skinneriant fokus terhadap kualitas respons dan hubungannya dengan peringkat
serta interval dimana mereka dikuatkan, atau diistilahkan jadwal penguatan.
Sebuah peralatan eksperimental sederhana, kotak Skinner, digunakan untuk
mempelajari hubungan ini. Dalam kotak ini terdapat beberapa stimuli, dan
dilakukan observasi perilaku seperti penekanan tuas oleh tikus atau pematukan
burung dara terhadap kunci. Menurut Skinner, disinilah tempat terbaik bagi
seseorang untuk mengamati hukum dasar perilaku. Hukum ini ditemukan melalui
kontrol perilak, dalam kasus ini adalah aktivitas penekanan penekanan tuas oleh
tikus dan patukan kunci oleh burung dara. Perilaku dipahami ketika hal tersebut
dapat dikontrol oleh perubahan tertentu dalam lingkungan. Memahami perilaku
dilakukan dengan cara mengontrolnya. Perilaku dikontrol melalui pilihan respons
yang dikuatkan dan sejauh mana perilaku itu dikuatkan. Jadwal penguatan dapat
didasarkan kepada waktu interval tertentu atau interval respons tertentu. Dalam
waktu jadwal interval, penguatan diberikan setelah periode tertentu, misalnya
setiap menit, terlepas dari jumlah respons yang dibuat oleh organisme. dalam
interval respons, atau jadwal rasio respons, penguatan diberikan setelah
dilakukan respons dalam jumlah tertentu (misalnya menekan tuas, atau mematok
kunci).
Dengan
demikian, penguatan tidak harus diberikan setelah tiap respons, tetapi
sebaliknya dapat diberikan sewaktu-waktu. Lebih jauh lagi, penguatan dapat
diberikan scara regular atau tetap setelah periode waktu tertentu atau setelah
jumlah respons tertentu atau diberikan secara variabel-terkadang setelah satu
menit atau terkadang setelah dua menit, atau terkadang setelah beberapa respons
dan kadang kala setelah banyak respons. Tiap schedule of reinforcement (jadwal penguatan) cenderung menstabilkan
perilaku dengan cara yang berbeda.
Pada batas
tertentu, pembelajaran operant merepresentasikan fomulasi rumit prinsip
pelatihan binatang. Perilaku yang kompleks dibentuk melalui proses succesive approximation (aproksimasi
berurutan), yaitu: perilaku kompleks dikembangkan dengan menguatkan sebagian
perilaku yang mirip dengan bentuk final perilaku yang ingin dimunculkan oleh
seseorang.
Pengkondisian
operan membentuk perilaku seperti seorang
pematung membentuk gumpalan tanah liat. Walaupun pada titik tertentu
sang pematung tampaknya menghasilkan objek yang benar-benar baru, kita selalu
dapat mengikuti proses tersebut sampai kembali kepada gumpalan asal yang belum
berbentuk sesuatu, dan kita dapat membuat tahapan berurutan yang dengannya kita
kembali ke kondisi awal. Terkadang muncul bentuk yang berbeda dengan yang
bentuk sebelumnya. Sebuah operan bukanlah sesuatu yang tumbuh secara sempurna
dalam perilaku organisme. operan merupakan hasil dari proses pembentukan
berkelanjutan.
Proses
pembentukan atau aproksimasi berurutan tampak dengan jelas dalam karya para
pelatih binatang trik sulit yang dilakukan oleh binatang sirkus tidak
dipelajari sebagai sesuatu yang utuh. Akan tetapi, para pelatih secara bertahap
membangun urutan respons pembelajaran melalui penguatan perilaku tertentu yang
kemudian dihubungkan atau dirangkaikan satu dengan yang lain. Apa yang dimulai
sebagai pembelajaran perilaku tunggal berakhir sebagai serangkai tindakan
kompleks dihadapan penonton sirkus. Sang binatang kemudian diberikan imbalan
atas perilaku tersebut, akan tetapi imbalan diberikan tergantung pada performa
serangkaian perilaku yang telah dipelajari sebelumnya. Dengan cara yang sama,
perilaku kompleks pada diri manusia dapat dibentuk melalui proses aproksimasi
berurutan.
Walaupun
pada dasarnya pengondisian operant menekankan
penggunaan penguat positif seperti makanan, uang, atau pujian, Skinneriant juga
menekankan nilai penting penguatan yang didasarkan kepada pelepasan organisme
dari, atau penghindaran dari, stimuli yang tidak disukai. Dalam kasus semacam
itu, respon dikuatkan dengn menghilangkan atau menyingkirkan stimulus yang
tidak menyenangkan. Efeknya adalah untuk menguatkan kekuatan respons.
Kontingensi respons¾keluarga seperti itu dapat dikontraskan dengan kasus
hukuman. Dalam hukuman, stimulus stimulus yang tidak nyaman mengikuti respons,
menurunkan probabilitas respons tersebut untuk kembali muncul. Akan tetapi,
efek hukuman tersebut bersifat temporer dan hal tersebut tampaknya menjadi
tidak berarti dalam menghapus perilaku. Untuk alasan ini, skinner telah menekankan
penggunaan penguatan positif dalam membentuk perilaku.
C. Conditioning
Skinner
(1953) mengenali dua bentuk pengondisian, klasik dan operan. Melalui
pengondisian klasik (yang disebut Skinner sebagai pengondisian responden),
suatu respon diperoleh dari sebuah organisme dengan suatu stimulus yang
spesifik dan dapat diidentifikasi. Dengan pengondisian operan, sebuah perilaku
dibuat lebih mungkin untuk terjadi saat diberikan penguatan secara langsung.
Salah satu
perbedaan antara pengondisian klasik dan operan adalah bahwa pada pengondisian
klasik, perilaku diperoleh dari organisme, sementara dalam pengondisian operan,
perilaku terpancar.
1.
Pengondisian Klasik
Mekanisme
pengondisian klasik, yaitu dengan memasangkan suatu stimulus netral (conditioned) bersama suatu stimulus yang
tidak dikondisikan (unconditioned)
sampai mampu membawa respons yang sebelumnya tidak dikondisikan menjadi respons
terkondisi. Perilaku refleks sebagai contoh paling sederhana. Sinar yang
ditujukan ke mata menstimulus pupil untuk menutup; makanan yang diletakkan di
lidah membuat air liur keluar; dan lada di lubang hidung mengakibatkan refleks
bersin. Dengan perilku refleks respons tidak dipelajari, tidak bersifat
sukarela, dan umum, tidak hanya dalam satu spesies, namun pada spesies-spesies
lainnya. Akan tetapi, pengondisian klasik tidak terbatas hanya pada refleks
sederhana. Pengondisian ini juga dapat bertanggung jawab atas dasar
pembelajaran manusia yang lebih kompleks, seperti fobia, ketakutan, dan
kecemasan.
Contoh
awal dari pengondisian klasik dengan manusia dideskripsikan oleh John Watson
dan Rosalie Rayner pada tahun 1920, yang mengikutsertakan seorang anak
laki-laki¾Albert B. Albert adalah seorang anak berusia 9 bulan
yang normal dan sehat, dan tidak takut menunjukan rasa takut pada objek-objek,
seperti tikus putih, kelinci, anjing, monyet yang mengenakan topeng, dan
lainnya. Saat Albert berusia 11 bulan, peneliti kemudian mengenalkannya dengan
seekor tikus putih. Saat Albert mulai menyentuh tikus tersebut, salah satu
peneliti kemudian memukul suatu palang di belakang kepala Albert. Albert
langsung menunjukan tanda-tanda ketakutan walaupun tidak menangis. Kemudian,
saat ia baru menyentuh tikus tersebut dengan tangan yang lain, peneliti mulai
memukul palang tersebut. Sekali lagi, Albert mulai merasakan ketakutan dan
mulai menangis. Seminggu kemudian, Watson dan Rayner mengulangi prosedur yang
tersebut beberapa kali sampai pada akhirnya mereka memberikan tikus putih tanpa
diringi suara pukulan palang yang tiba-tiba tersebut. Pada saat itu, Albert
telah belajar untuk takut pada tikus tersebut dan dengan cepat mulai merangkak
menjauhinya.
Beberapa
hari kemudian, para peneliti memberikan Albert beberapa balok. Ia tidak
menunjukan rasa takut. Kemudian mereka menunjukan tikus tersebut tersebut dan
Albert menunjukan rasa takut. Lalu mereka menawarkan kembali balok tersebut.
Tidak ada rasa takut. Mereka melanjutkan ini dalam eksperimen, dengan
menunjukan seekor kelenci pada Albert. Albert langsung menangis dan merangkak
menjauhi kelenci tersebut. Watson dan Rayner kemudian menunjukan lagi balok
tersebut kepada Albert, lalu menunjukan seekor anjing, lalu balok lagi, lalu
sebuah jaket bulu, dan kemudian sepaket
wool. Untuk semua objek kecuali balok, Albert menunjukan rasa takut.
Terakhir, Watson membawa sebuah topeng sinterklas yang membuat Albert
menunjukan rasa takut. Eksperimen ini, yang tidak pernah diselesaikan karena
ibu Albert kemudian ikut campur, mendemonstrasikan empat hal. Pertama, bayi
mempunyai beberapa, kalau ada, ketakutan bawaan terhadap binatang; kedua,
mereka dapat belajar untuk takut pada binatang apabila diberikan dalam sebuah
asosiasi dengan stimulus yang tidak menyenangkan; ketiga, bayi dapat membedakan
antara tikus putih yang berbulu dengan balok kayu yang keras, sehingga rasa
takut mereka terhadap tikus tidak digeneralisasikan untuk takut pada balok; dan
keempat, ketakutan akan tikus putih yang berbulu dapat digeneralisasikan untuk
binatang lain serta untuk objek-objek putih yang berbulu.
2.
Pengondisian Operan
Walaupan
pengondisian klasik bertanggung jawab atas beberapa pembelajaran manusia,
Skinner yakin bahwa kebanyakan perilaku manusia dipelajari melalui pengondisian
operan. Kunci dari pengondisian operan adalah penguatan yang langsung dari
sebuah respons. Kemudian, penguatan akan meningkatkan kemungkinan dari perilaku
yang sama untuk terjadi lagi. Selama 60 tahun dari karirnya, Skinner
mengidentifikasi sejumlah prinsip mendasar dari operant conditioning¾yang menjelaskan bagaimana seseorang belajar perilaku
baru atau mengubah perilaku yang telah ada. Perinsip utamanya terdiri atas:
pembentukan, penguatan, hukuman, dan eliminasi.
a.
Penguatan
Menurut
Skinner (1987a), penguatan (reinforcement)
memiliki dua efek; memperkuat perilaku dan memberikan penghargaan pada orang
tersebut. Oleh karena itu, penguatan dan penghargaan tidak sama. Setiap
perilaku yang diberi penguatan tidak selalu bersifat memberikan penghargaan
atau menyenangkan bagi orang tersebut. Sebagai contoh, orang-orang diberi
penguatan untuk bekerja, namun banyak yang menemukan bahwa pekerjaan mereka
membosankan, tidak memberikan penghargaan apa pun.
Penguatan dapat dibagi menjadi yang menghasilkan
lingkungan yang bermanfaat dan yang
mereduksi atau menghindari kondisi yang merusak. Penguatan pertama disebut
penguatan postif (positive reinforcement)
dan yang kedua disebut penguatan negatif (negative
reinforcement).
1)
Penguatan
Positif
Eksperimen Thorndike dan Skinner menggambarkan reinforcement positif, suatu metode
memperkuat perilaku dengan menyertakan stimulus yang menyenangkan. Penguatan
positif merupakan metode yang efektif dalam mengendalikan perilaku baik hewan
maupun manusia. Contoh umum dari penguatan positif, yaitu makanan, air, seks,
uang, dan kenyamanan fisik. Saat ditonjolkan dalam suatu perilaku,
masing-masing mempunyai kapasitas untuk meningkatkan frekuensi suatu respons.
Bergantung pada situasi dan kondisi, penguatan positif
dapat memperkuat perilaku baik yang diinginkan maupun yang tidak diinginkan.
Sebagai contoh, anak-anak kemungkinan mau bekerja keras di rumah maupun di
sekolah karena penghargaan yang mereka terima dari orang tua maupun gurunya
karena unjuk kerjanya yang bagus.
Salah satu penguatan yang umum untuk perilaku manusia
adalah uang. Banyak orang dewasa mengahabiskan waktunya berjam-jam untuk
pekerjaan mereka karena imbalan upah. Untuk individu tertentu, uang dapat juga
menjadi penguat untuk perilaku yang tidak diinginkan, seperti perampokkan,
penjualan obat bius, dan penggelapan pajak.
2)
Penguatan Negatif
Penguatan negatif adalah menghilangkan suatu stimulus
yang tidak disukai dari suatu situasi dan dapat meningkatkan kemungkinan bahwa
perilaku sebelumnya akan terjadi. Ada dua tipe reinforcement negative: mengatasi dan menghindari.
Tipe
pertama (mengatasi), seseorang melakukan perilaku khusus mengarah pada
menghilangkan stimulus yang tidak mengenakkan. Sebagai contoh, jika seseorang
yang sakit kepala mencoba berbagai jenis obat baru pengurang rasa sakit¾dan sakit kepalanya cepat hilang, maka orang ini
kemungkinan akan menggunakan obat itu kembali ketika terjadi lagi sakit kepala.
Tipe
kedua (menghindari), seseorang melakukan suatu perilaku menghindari akibat yang
tidak menyenangkan. Sebagai contoh, seorang pengemudi kemungkinan mengambil
jalur tepi jalan raya untuk menghindari tabrakan beruntun, pengusaha membayar
pajak untuk menghindari denda dan hukuman, dan siswa mengerjakan pekerjaan
rumahnya untuk menghindari nilai buruk.
b.
Hukuman (Punishment)
Apabila reinforcement
memperkuat perilaku, hukuman justru memperlemah, mengurangi peluangnya terjadi
kembali di masa depan. Sama halnya
dengan penguatan, ada dua macam hukuman; positif dan negatif.
Hukuman
positif, mengurangi
perilaku dengan memberikan stimulus yang tidak menyenangkan bila perilaku itu
terjadi. Orang tua memberikan hukuman positif ketika mereka memukul, memarahi,
atau meneriaki anak karena perilaku yang buruk. Masyarakat menggunakan hukuman positif
ketika mereka menahan atau memenjarakan seseorang yang melanggar hukum.
Hukuman
negatif (peniadaan),
mengurangi perilaku dengan menghilangkan stimulus yang menyenangkan jika
perilaku terjadi. Taktik orang tua yang membatasi gerakan anaknya atau mencabut
beberapa hak istimewanya karena perbuatan anaknya ang buruk merupakan contoh
hukuman negatif.
Kontroversi yang besar terjadi manakala membicarakan
apakah hukuman meupakan cara yang efektif dalam mengurangi atau meniadakan
perilaku yang tidak diinginkan. Eksperimen dalam laboratorium membuktikan bahwa
ketika hukuman digunakan dengan bijaksana, justru menjadi metode yang efektif
dalam mengurangi perilaku yang tidak diinginkan. Namun demikian, hukuman
memiliki beberapa kelemahan.
Ketika seseorang di hukum hingga dirinya merasa
menderita, ia menjadi marah, agresif atau reaksi emosional negatif lainnya.
Mereka mungkin menyembunyikan bukti-bukti perilaku salah mereka atau melarikan
diri dari situasi buruknya, seperti halnya seorang anak lari dari rumah.
Hukuman mungkin mengeliminasi perilaku yang
dikehendaki bersamaan dengan hilangnya perilaku yang tidak dikehendaki. Sebagai
contoh, seorang anak yang dipukul karena membuat kesalahan di depan kelas
kemungkinan tidak berani lagi tunjuk jari. Karena alasan dan beberapa alasan
lainnya, banyak pakar psikologi yang merekomendasikan bahwa hukuma hanya boleh
dilakukan untuk mengontrol perilaku ketika tidak ada alternatif lain yang lebih
realistis.
c.
Pembentukan (shaping)
Pembentukan merupakan teknik penguatan yang digunakan
untuk mengajari perilaku hewan dan manusia yang belum pernah mereka lakukan
sebelumnya. Dalam cara ini, guru memulainya dengan penguatan kembali suatu
respons yang dapat dilakukan oleh pembelajar dengan mudah, dan secara berangsur-angsur
ditambah tingkat kesulitan respons yang dibutuhkan.
Sebagai contoh, Skinner membuat mesin untuk
percobaannya dalam operan conditioning
yang dinamakan dengan “Skinner Box” dan tikus merupakan objek yang digunakannya
dalam percobaan. Skinner meletakan tikus yang lapar di dalam “Skinner Box”,
kemudian binatang tersebut akan menekan sebuah tuas yang membuat dulang makanan
terbuka, sehingga diperoleh penguatan dalam bentuk makanan. Di dalam setiap
keadaan, seekor binatang akan memperlihatkan bentuk perilaku tertentu; tikus
tadi misalnya, akan memperlihatkan perilaku menyelidik pada saat pertama kali
masuk ke dalam Box, yaitu dengan mencakar-cakar dinding dan membauinya seraya
melihat situasi sekelilingnya. Secara kebetulan, dalam perilaku menyelidik
tersebut tikus menyentuh tuas makanan dan makanan pun berjatuhan. Setiap kali
tikus melakukan hal tersebut, maka ia akan mendapatkan makanan; penekanan tuas
diperkuat dengan penyajian makanan tersebut. Sehingga tikus tersebut akan
menghubungkan perilaku tertentu dengan penerimaan imbalan berupa makanan tadi.
Jadi, tikus tersebut akan belajar bahwa setiap kali menekan tuas dia akan
mendapatkan makanan dan tikus tersebut akan sering kali mengulangi perilakunya,
sampai ada proses pemadaman atau penghilangan dengan menghilangkan
penguatannya.
Berdasarkan eksperimen Skinner tersebut terdapat
istilah penguatan atau dapat disebut reinforcement, yaitu setiap kejadian yang
meningkatkan ataupun mempertahankan kemungkinan adanya respons terhadap sesuatu
yang diinginkan. Biasanya penguatan berupa sesuatu yang dapat menguatkan
dorongan dasar (basicdriver, seperti
makanan yang dapat memuaskan rasa lapar dan air yang dapat memuaskan rasa
haus).
d.
Eliminasi (Extinction)
Penguatan sebagaimana dalam penguatan klasik, respons
yang dipelajari dalam pengondisian operan tidak selalu permanen. Di dalam
pengondisian operan, eliminasi merupakan kondisi dari perilaku yang dipelajari
dengan menghentikan penguat dari perilaku tersebut. Jika seekor tikus telah
belajar menekan tuas untuk menerima makanan, tingkat penekanannya pada tuas
akan berkurang dan akhirnya berhenti sama sekali jika makanan tidak diberikan.
Pada manusia, menarik kembali penguat akan menghilangkan perilaku yang tidak
diinginkan.
D.
Human Organism
1.
Seleksi Alam
Kepribadian manusia adalah hasil dari
sejarah evolusi yang panjang. Sebagai individu, perilaku kita ditentukan oleh
komposisi genetis dan terutama oleh sejarah pribadi kita atas penguatan yang
diterima. Sebagai spesies, kita dibentuk oleh faktor-faktor dari kemempuan
bertahan hidup. Seleksi alam mempunyai peranan penting dalam kepribadian
manusia.
Perilaku
sesorang yang bersifat menguatkan cenderung akan diulangin yang tidak cenderung
menguatkan akan dibuang. Perilaku yang sepanjang sejarah telah bermanfaat untuk
suatu spesies akan bertahan, sementara yang menguatkan hanya untuk orang-orang
tertentu cenderung dibuang. Contoh, bayi yang kepalanya berputar ke arah di
mana pipinya dielus dengan lembut, dapat menghisap, sehingga meningkatkan kemungkinannya
untuk bertahan hidup dan kemungkinan untuk karakteristik rooting ini diturunkan
pada anak-anaknya. Hal tersebut adalah contoh dari refleks yang menjadi
karakteristik bayi manusia pada saat ini.
Faktor-faktor
dari penguatan dan ketahanan berinteraksi, dan beberapa perilaku yang
menguatkan hanya secara individual juga dapat berkontribusi dalam kemampuan
bertahan hidup dari spesies. Contoh, perilaku seksual biasnya memberikan
penguatan pada seseorang, namun juga memiliki nilai seleksi alam karena
seseorang yang terangsang dengan lebih kuat oleh stimulasi seksual adalah yang
lebih mungkin untuk memproduksi keturunan dan mampu melakukan pola perilaku
yang hampir sama.
Tidak setiap
sisa-sisa dari seleksi alam mempunyai nilai kemampuan bertahan hidup. Dalam
sejarah awal manusia, terlalu banyak makan bersifat adaptif karena membantu
manusia untuk bertahan hidup pada masa-masa ketika makanan tidak terlalu
banyak. Saat ini dalam masyarakat yang makanannya tersedia terus menerus,
obesitas menjadi masalah kesehatan, dan terlalu banyak makan telah kehilangan
nilai ketahanan hidupnya.
2.
Evolusi budaya
Seleksi
bertanggung jawab atas praktik budaya yang telah bertahan sebagaimana seleksi
memiliki peranan kunci dalam sejarah evolusi manusia dan juga dengan faktor-faktor
dari penguatan. Manusia tidak membuat keputusan yang kooperatif untuk melakukan
apa yang terbaik untuk masyarakatnya, namun masyarakat yang anggotannya
bertindak secara kooperatif cenderung bertahan hidup.
Peraktik
kultural seperti pembuatan perkakas dan perilaku verbal dimulai saat seseorang
mulai terdorong untuk menggunakan perkakas atau mengeluarkan bunyi-bunyian yang
dapat dibedakan. Kemudian, praktik budaya memunculkan apa yang menguatkan untuk
kelompok tersebut walaupun tidak selalu pada anggotanya.
Sisa-sisa dari
budaya, seperti juga dari seleksi alam, tidak semuanya bersifat adaptif.
Contoh, peperangan, ketika dalam dunia pra-industrialisasi memberikan manfaat
bagi beberapa masyarakat, namun saat ini telah berubah menjadi suatu ancaman
bagi keberadaan manusia.
3.
Kondisi-Kondisi Batin
Meskipun menolak penjelasan tentang perilaku
berdasarkan konstrak hipotetis yang tidak bisa diamati namun, Skinner tidak
menyangkal keberadaan kondisi-kondisi batin, seperti rasa cinta, rasa cemas,
atau rasa takut. Kondisi batin bisa dipelajari sama seperti perilaku lainnya
namun, pengobservasiannya memang agak terbatas.Kondisi–kondisi batin meliputi:
a.
Kondisi
internal
Walaupun menolak penjelasan dari perilaku yang
ditemukan di dalam konstruk hipotesis yang bersifat tidak dapat diobservasi,
tidak dapat menyangkal adanya kondisi-kondisi internal, seperti perasaan cinta,
kecemasan, atau ketakutan. Kondisi internal dapat dipelajari sama seperti
perilaku lainnya dan observasinya terbatas.
b.
Kesadaran
diri
Manusia tidak hanya mempunyai kesadaran, tetapi juga
mengetahui atau menyadari kesadaran mereka, tidak hanya sadar atas lingkungan
mereka, tetapi juga sadar bahwa mereka adalah bagian dari lingkungan, mereka
juga tidak hanya mengobservasi stimulus eksternal tetapi juga sadar bahwa
mereka mengobservasi stimulus tersebut.
Perilaku adalah suatu dari lingkungan dan bagian dari
lingkungan yang berada di dalam diri seseorang. Setiap orang secara subjektif
sadar akan pikiran, perasaan, ingatan, dan intensinya.
c.
Dorongan
Dari sudut pandang behaviorisme radikal, dorongan
bukanlah penyebab dari perilaku, namun lebih merupakan suatu penjelasan fiktif.
Dorongan hanya merajuk pada dampak kekurangan dan pemuasan atas sesuatu.
Faktor-faktor lain yang meningkatkan atau menurunkan kemungkinan seseorang
untuk makan adalah rassa lapar yang diobservasi secara internal, ketersediaan
makanan, dan pengalaman terdahulu dengan penguatan perilaku berupa makanan.
Apabila psikolog cukup mengetahui mengenai ketiga hal
penting dari perilaku (anteseden, perilaku, konsekuensi), maka mereka akan
mengetahui mengapa seseorang berperilaku, yaitu apa saja dorongan-dorongan yang
berhubungan dengan perilaku spesifik. Hanya dalam kondisi seperti itulah
dorongan mempunyai peranan yang valid dalam kajian ilmiah mengenai prilaku
manusia.
d.
Emosi
Mengenali keberadaan subjektif dari emosi, ras bahwa
perilaku tidak dapat diatribusikan pada emosi. Emosi melalui faktor-faktor dari
kemampuan bertahan hidup dan faktor-faktor penguatan. Seseorang yang mempunyai
kecenderungankuat terhadap rasa takut ataupun kemarahan adalah mereka yang
berhasil selamat atau meraih kemenangan atas suatu kondisi berbahaya, sehingga
mampu menurunkan karakteristik ini pada keturunannya. Pada level perseorangan,
perilaku yang diikuti oleh rasa senang, kegembiraan, kenikmatan, dan
emosi-emosi menyenangkan lainnya cenderung akan mendapatkan penguatan, sehingga
meningkatkan kemungkinanperilaku ini akan terulang dalam kehidupan dari orang
tersebut.
e.
Tujuan
dan intensi
Tujuan dan intensi ada dalam diri seseorang, namun
tidak dapat diteliti secara langsung dari luar. Tujuan yang terasa dan sedang
dilakukan dengan sendirinya mungkin bersifat menguatkan. Contoh, apabila anda
percaya bahwa tujuan anda adalah berolahraga untuk menyehatkan diri, maka pikiran
tersebut bertindak sebagai stimulan yang menguatkan, terutama saat menghadapi
kesulitan dalam melakukan olahraga tersebut atau saat mencoba menjelaskan
motivasi anda pada seseorang yang bukan pelari.
Seseorang dapat memiliki intensi
untuk menonton film pada jumat sore karena menonton film yang serupa telah
memberikan efek yang menguatkan. Pada saat orang tersebut ingin pergi menonton
film, merasakan kondisi fisik dari dalam dirinya dan memberikan laber intensi.
Apa yang disebut intensid an tujuan adalah stimulus yang terasa secara fisik
dari dalam organisme, dan bukan suatu peristiwa mental yang bertanggung jawab
atas suatu perilaku.
4.
Perilaku Kompleks
Perilaku
manusia dapat menjadi sangat kompleks, tetapi Skinner yakin bahwa bahkan perilaku yang paling
abstrak dan kompleks terbentuk dari seleksi alam, evolusim budaya dan sejarah
seseorang atas penguatan yang diterimanya. Sekali lagi, Skinner tidak
menyangkal adanya proses mental tingkat tinggi seperti kognisi dan mengingat.
Ia juga tidak melupakan usaha-usaha kompleks manusia, seperti kreativitas,
perilaku yang tidak disadari, mimpi dan perilaku sosial.
a.
Proses
Mental Tingkat Tinggi
Skinner (1974) mengakui bahwa pikiran manusia adalah
hal yang paling sulit dinalisis dari semua perilaku manusia, tetapi setidaknya
berpotensi untuk dimengerti selama seseorang tidak beralih pada hipnotis fiktif
seperti “mind”. Berfikir, memecahkan masalah dan mengingat kembali merupakan
perilaku yang dapat terlihat, yang mengambil tempat didalam diri seseorang,
tetapi tidak didalam pikiran. Sebagai perilaku, contoh tersebut juga dapat
dijelaskan melalui faktor-faktor penguatan yang sama dengan perilaku yang dapat
dilihat (overt behavior). Sebagai
contoh, saat seseorang lupa dimana ia menaruh kunci mobilnya, ia akan
mencarinya karena perilaku mencari yang serupa telah diberikan penguatan
berdasarkan pengalaman sebelumnya.
b.
Kreativitas
Mengenai kreativitas, Skinner (1974) membandingkan
perilaku kreatif dengan seleksi alam dalam teori evolusi. “Sebagai suatu sifat
yang tidak disengaja, yang muncul dari mutasi, diseleksi atau kontribusinnya
pada kemampuan bertahan hidup, maka variasi yang tidak disengaja dalam perilaku
diseleksi berdasarkan faktor-faktor penguat mereka. Sama seperti bagaimana seleksi
alam menjelaskan perbedaan diantara spesies tanpa bergantung pada suatu pikiran
kreatif yang Maha Kuasa. Behaviorisme menjelaskan perilaku yang inovatif dan
baru tanpa menghiraukan pikiran kreatif yang personal.
Bagi Skinner kretifitas hanyalah suatu perilaku (overt
maupun covert) yang random dan tidak disengaja yang mendapatkan suatu
penghargaan tertentu. Fakta bahwa beberapa orang lebih kretif dari pada orang
lain adalah karena adanya perbedaan genetis dan perbedaan pengalaman yang membentuk
perilaku kreatif mereka.
c.
Perilaku
yang Tidak Disadari
Sebagai
penganut behaviorisme radikal, Skinner tidak dapat menerima gagasan bahwa ada
suatu gudang dari ide dan emosi yang tidak disadari. Akan tetapi, ia menerima
perilaku yang tidak disadari. Malah, karena manusia jarang mengobservasi
hubungan antara variable genetic,
lingkungan dan perilaku mereka sendiri, hamper semua perilaku kita termotivasi
secara tidak sadar. Dalam pembahasan yang terbatas, perilaku disebut tidak
sadar saat seseorang tidak lagi memikirkan tentang hal tersebut, karena telah
ditekan memalui hukum. Perilaku yang mempunyai konsekuensi yang tidak
menyenangkan mempunyai kecenderungan untuk dilupakan atau tidak lagi berada
didalam pikiran. Seorang anak yang dihukum secara berulang dan dengan keras
karena permainan yang bersifat seksual, mungkinakan menekan perilakunya
sekaligus menahan pikiran atau ingatan mengenai aktivitas seksual tersebut
telah terjadi. Penyangkalan seperti itu menghindari aspek yang tidak
diinginkan, yang berkaitan dengan pkiran mengenai hukuman dan kemudian menjadi
suatu penguat negative. Dengan
perkataan lain, anak tersebut akan terdorong untuk tidak berfikir mengenai
suatu perilaku seksual.
d.
Mimpi
Skinner (1953)
melihat mimpi sebagi suatu bentuk perilaku yang tertutup dan simbolis, yang
dapat dijelaskan oleh faktor-faktor penguatan sebagaiman perilaku pada umumnya.
Ia setuju dengan Freud bahwa mimpi dapat berfungsi untuk tujuan pemenuhan
keinginan. Perilaku bersifat menguatkan saat stimulus seksual atau agresif
akhirnya dapat diekspresikan. Untuk mempraktika fantasi seksual dan untuk
benar-benar menyakiti seorang musuh adalah dua perilaku yang mungkin
diasosiasikan dengan hukuman. Bahkan, untuk memikirkan secara tertutup
perilaku-perilaku tersebut akan mempunyai dampak yang menghukum, namun didalam
mimpi perilaku tersebut dapat di ekspresikan secara simbolis tanpa hukuman yang
menyertainya.
e.
Perilaku
Sosial
Kelompok tidak berperilaku, hanya individulah yang
berperilaku. Individu-individu membentuk kelompok karena mendapatkan suatu
manfaat dengan melakukan hal tersebut. Keanggotaan dari kelompok sosial tidak
selalu memberikan penguatan, namun setidaknya tiga alasan, beberapa individu
tetap menjadi anggota dari suatu kelompok. Pertama, individu tetap berada pada
suatu kelompok yang menyiksa mereka karena beberapa anggota anggota kelompok
menguatkan mereka. Kedua, beberapa individu terutama anak-anak mungkin tidak
memunyai cara keluar dari keompok. Ketiga, pengutan mungkin terjadi dalan suatu
jadwal yang tidak teratur.
5.
Mengendalikan Perilaku Manusia
Perilaku
seseorang dikontrol oleh faktor-faktor lingkungan. Faktor-faktor tersebut dapat
ditegakkan oleh masyarakat, orang lain, atau diri sendiri; namun lingkungan,
dan bukan kemauan bebas, yang bertanggung jawab atas semua perilaku.
a.
Kontrol
Sosial
Seseorang bertindak untuk membentuk suatu kelompok
sosial karena perilaku semacam ini cenderung menguatkan. Kemudian, kelompok
akan memberikan suatu kontrol terhadap anggotanya dengan merumuskan hukum,
peraturan atau kebiasaan secara tertulis ataupun tidak, yang mempuyai suatu
kehadiran fisik diluar kehidupan
tersebut. Hukum negara, peraturan organisasi, dan kebiasaan budaya berada
diatas cara-cara seseorang untuk melawan suatu kontrol dan berfungsi sebagai
variabel yang mengontrol dengan sangat kuat dalam hidup anggotannya.
Menurut Erich Fromm, setiap orang dikontrol oleh
beragam tekanan dan teknik sosial, namun semannya dapat dikelompokkan menjadi
empat kategori: (1) pengondisian operan, (2) menjelaskan faktor-faktor, (3)
kekurangan dan kepuasan, (4) pengendalian fisik (Skinner, 1953).
Masyarakat memberikan suatu kontrol atas anggotanya
melalui empat metode prinsip dari pengondisian operan, yaitu pengutan positif,
penguatan negatif, dan dua teknik hukuman (memberikan stimulus yang tidak
menyenagkan atau menghilangkan stimulus yang menyenangkan).
Teknik kedua dari kontrol sosial adalah untuk
memprediksikan kepada seseorang mengenai faktor-faktor dari penguatan.
Menjelaskan faktor-faktor melibatkan bahasa-biasanya verbal, untuk memberitahu
orang-orang konsekuensi dari perilaku yang belum mereka kerjakan. Banyak contoh
yang tersedia dari menjelaskan faktor-faktor, antara lain melalui ancaman atau
janji. Cara yang lebih halus dalam kontrol sosial adalah dengan iklan,
dirancang untuk memanipulasi manusia untuk membeli suatu produk tertentu. Tidak
ada satupun dari contoh-contoh ini yang mengusahakan suatu kontrol akan berhasil
dengan sempurna, tetapi masing-masing
meningkatkan kemungkinan perilaku yang diinginkan akan muncul.
Ketiga, perilaku dapat dikontrol dengan membuat
sesorang kekurangan atau dengan memuaskan mereka dengan suatu pendorong. Sekali
lagi, walaupun dengan kekurangan dan kepuasan adalah kondisi internal, tetapi
kontrolnya tetap berasal dari lingkungan. Orang-orang yang kekurangan makanan
lebih mungkin untuk makan; mereka yang puas memiliki kemungkinan yang lebih
rendah walauoun tersedia makanan yang lezat.
Terakhir, manusia dapat dikontrol melalui pengendalian fisik, seperti
menahan seorang anak dari suatu jurang yang dalam atau dengan memasukkan
pelanggar hukum kepenjara. Pengendalian fisik berfungsi untuk melawan dampak
pengondisian, dan pengendalian tersebut berakibat pada erilaku yang
berkebalikan darri apa yang akan dilakukan oleh seseorang apabila ia tidak
dikendalikan.
Beberapa orang mungkin akan berkata bahwa pengendalian
fisik adalah cara untuk menghalau kebebsan seseorang. Akan tetapi, Skinner (1971)
yakin bahwa perilaku tidak mempunyai hubungan apa pu dengan kebebasab pribadi,
tetapi dibentuk oleh faktor-faktor dari kemampuan bertahan hidup serta dampak
dari penguatan adalah faktor-faktor dari lingkungan sosial. Oleh karena itu,
suatu tindakan mengendalikan fisik eseorang tidak melakukan negasi yang
berlebih pada kebebasan dibandingkan teknik kontrol lainnya, termasuk kontrol
diri.
b.
Kontrol
Diri
Skinner mengatakan bahwa seperi seseorang dapat
,mengubah variabel yang ada dalam lingkunganorang lain, mereka juga dapat
memanipulasi variabel dalm lingkunganmereka sendiri, dan melakukan beberapa
bentuk kontrol diri.
Skinner dan Margaret Vaughan (skinner&vaughan,
1983) telah mendiskusikan beberapa
teknik yang dapat digunakan oleh manusia untuk melakukan kontrol diri
tanpa bergantung pilihan bebas. Pertama, mereka dapat menggunakan alat bantu
seperti perkakas, mesin, dan sumber finansial merubah lingkungan mereka. Kedua,
manusia dapat merubash lingkungannya sehingga meningkatkan kemungkinan
munculnya perilaku yang diinginkan. Ketiga, manusia dapat mengatur
lingkungannya supaya dapat menghindari stimulus yang tidak menyenangkan, hanya
dengan melakukan respon yang tepat. Keempat, manusia dapat menggunakan
obat-obatan, terutama alkohol sebagai suatu cara melakukan kontrol diri.
Kelima, manusia dapat melakukan hal lain untuk menghindari berperilaku dengan
cara yang tidak diinginkan.
E.
Kepribadian Tidak Sehat
Perilaku yang tidak pantas merupakan hasil dari teknik
melawan kontrol sehingga merugikan diri sendiria atau dari usaha yang gagal
dalam melaukan kontrol diri, salah satu dari kegagalan ini di iringi oleh emosi
yang kuat. Seperti kebanyakan repons yang tidak pantas atau tidak sehat
dipelajari. Peilau tersbut bebentuk dari penguatan negatif dan pistif. Khususnya
oleh dampak dari hukuman.
Perilaku
yang tidak pantas meliputi perilaku yang sangat kuat dan berlebihan yang tidak
masuk akal untuk situasi yang kontenporer, namun dapat masuk akal dalam sejarah
masalalu. Dan perilaku yang sangat terbatas yang digunakan oleh manusia
sehingga cara untuk menghindari stimulus yang tidak menyenangkan yang
diasosiasikan dengan hukumna. Bentuk lain dari perilaku yang tidak pantas
mmberikan perhatian sama sekali terhadap stimulus yang tidak menyenangkan.
Bentuk
keempat dari perilaku yang tidak di inginkan berasal dari penegtahuan yang
salah dan dimanisionalisasi atau melakukan klaim bahwa dirinya adalaj juru
selama pola perilaku ini mengkuatkan secara negatif karena seseorang dapat
menghindari stimulus yang tidak menyenangkan yang di asosiasikan dengan
keterbatasan pikiran.
Pola
perilaku yang tidak pantas lainya adalah menghukum diri sendiri, dalam bentuk
seseorang yang secara langsung menghukum dirinya sendiri atau dengan mengatur
variable lingkungan sehingga mereka dihukum oleh orang lain.
F.
Kritik dan Analisis Teori
1. Kritik
Psikolog
eksentrik Hans J. Eysenck (1998) pernah mengkritik Skinner karena tidak
mempertimbangkan konsep-konsep seperti perbedaan individu, faktor genetic dan
seluruh ranah kepribadian. Klaim ini hanya benar sebagian saja karena Skinner
sesungguhnya menyadari adanya faktor genetik dan ia telah memberikan suatu
definisi yang agak tidak terlalu fokus
pada kepribadian, dengan mengatakan bahwa “yang terbaik adalah suatu jangkauan
dari perilaku yang didorong oleh suatu rangkaian faktor-faktor yang
terorganisasi” (Skinner, 1974, hlm.
149).
walaupun opini Eysenck sangat menarik, mereka tidak memberikan kritik yang
cukup bermakna atas pekerjaan Skinner tersebut. Bagaimana teori Skinner
memenuhi enam kriteria yang membangun suatu teori yang bermanfaat? Pertama, karena teori ini telah menghasilkan,
kami menilai teori ini sangat tinggi dalam kemampuannya untuk menghasilkan
penelitian. Kedua, kebanyakan dari gagasan-gagasan Skinner dapat di salahkan
atau diverifikasi, sehingga kami juga menilai teori ini tinggi dalam aspek
dapat dikaji ulang.
Ketiga,
dalam kemampuan untuk mengorganisasi informasi mengenai kepribadian manusia,
kami memberikan skala sedang pada teori ini. Pendekatan Skinner adalah untuk
mendeskripsikan perilaku dan faktor-faktor lingkungan dibawah kondisi hal
tersebut terjadi. Tujuannya adalah untuk mengumpulkan fakta-fakta deskriptif
dan melakukan generalisasi terhadap perilaku dan faktor-faktor lingkungan
tersebut. Kebanyakan sifat kepribadian, seperti yang ada dalam model lima
faktor, dapat dijelaskan dengan prinsip pengondisian operan. Akan tetapi,
konsep lainnya seperi wawasan, kreativitas, motivasi, inspirasi dan kemampuan
diri tidak dapat masuk dengan mudah kedalam kerangka kerja pengondisian operan.
Keempat,
dalam mengarahkan tindakan, kami memberikan nilai sangat tinggi untuk teori
Skinner. Banyaknya penelitian deskriptif yang dilakukan oleh Skinner dan
penganutnya telah membuat pengondisian operan sebagai prosedur yang sangat
praktis. Sebagi contoh, teknik Skinner telah digunakan untuk membantu pasien
fobia mengatasi ketakutan mereka, meningkatkan persetujuan terhadap rekomendasi
medis, membantu orang mengatasi kecanduan terhadap tembakau dan obat-obatan,
meningkatkan kebiasaan makan, dan meningkatkan asertivitas. Kenyataannya, teori
skinner dapat diaplikasikan kepada hampir semua pelatihan, pengajaran dan
psikoterapi.
Kriteria
kelima dari teori yang berguna adalah konsistensi internal dan kami menilai
teori Skinner sangat tinggi pada kriteria ini. Skinner mendefinisikan
istilah-istilahnya dengan sangat terperinci dan operasional, suatu proses yang
sangat dibantu oleh usahanya menghindari konsep mental yang fiktif.
Apakah
teori ini cukup hemat? Dalam kriteria terkahir ini, teori Skinner sulit untuk dinilai.
Pada satu sisi, teori ini terbebas dari konstruk hipotesis yang terlalu
bertele-tele, tetapi di sisi lain, teori ini menuntut suatu ekspresi baru dari
bahasa sehari-hari. Sebagai contoh, dari pada mengatakan “Saya merasa sangat marah pada siuami
saya, saya melemparkan sebuah piring padanya, tetapi meleset”, seseorang harus
mengatakan “Faktor-faktor
penguatan dari lingkungan saya terbentuk sehingga saya mengobservasi organisme
saya melemparkan piring pada dinding dapur”.
2. Analisis Teori
Skinner
tidak dapat diragukan lagi bahwa ia sudah memperluas jangkauan teori belajar.
Setelah memerhatikan keterbatasan pengondisian klasik, dia mengeksplorasi sifat tingkah laku operan, dimana organisme
bertindak bebas dan dikontrol oleh konsekuensi-konsekuensi tindakannya. Di
dalam serangkaian studi yang cemerlang, Skinner menunjukan bagaimana kontrol semacam itu digunakan lewat
jadwal penguatan, pembentukan, pengaruh stimuli pembeda dan faktor-faktor
lainnya. Lebih jauh lagi, Skinner membuktikan dengan tegas pentingnya
kepraktisan ide-idenya.
Proses
ini, Skinner banyak mengundang kontroversi dari berbagai pihak. Bagi beberapa
orang, metodenya mendukung praktik-praktik otoritarian karena dia melegitimasi
cara untuk mengontrol, memanipulasi dan
memprogram tingkah laku yang diinginkan atau tidak. Skinner menjawab bahwa
faktanya lingkunganlah yang mengontrol tingkah laku, hanya sebagaimana kita
memanfaatkan pengetahuan ini tergantung pada diri kita sendiri. Kita bisa
menciptakan lingkungan yang cocok dengan tujuan manusia, atau kita bisa
menciptakan lingkungan yang tidak sesuai dengan tujuan itu.
Ditataran yang lebih objektif, ada tiga hal yang
esensinya tidak bisa disepakati Skinner dari para penulis penganut tradisi
developmentalis. Pertama, para teorisi developmentalis. Pertama, para teorisi
developmentalis sering membicarakan peristiwa-peristiwa internal. Piaget
contohnya, menggambarkan struktur-struktur mental dengan sangat kompleks meski
dia sendiri tidak akan sanggup menemukan bukti langsung semua ini dalam kasus
individual mana pun. Kaum Freudian membahas peristiwa-peristiwa internal
seperti fantasi-fantasi tak sadar, yang tidak akan bisa kita amati.secara
langsung semuanya. Skinner percaya jika konsep-konsep seperti ini berbeda dari
kemajuan ilmia, yang muncul hanya jika kita membatasi diri kepada pengukuran
terhadap respon-respon yang tampak dan stimuli dari lingkungan. Namun karena
hal inilah sekarang skinner umumnya dipahami terlalu ekstrem. Karena pada tahun
1960-an, muncul minat baru yang dramatis
pada kognisi, bahkan menumbukan sejumlah teori belajar yang ikut-ikutan
menyelidiki peristiwa-peristiwa kognitif dan internal juga, meskipun
peristiwi-peristiwa ini tidak bisa diukur langsung.
Kedua, teori perkembangan dan kaum Skinnerian tidak
setuju dengan pemaknaan dan pentingnya tahap-tahap perkembangan periode dimana
anak-anak mengorganisasikan pengalaman dengan berbagai macam cara. Di dalam
teori Piaget, contohnya tahap anak sangat beragam dan ini seperti pemrediksi
terhadap jenis pengalaman anak yang bisa dipelajari. Seorang anak ditingkatan
sensori-motorik tidak akan sanggup mempelajari tugas-tugas yang melibatkan
bahasa, begitu pula anak yang menguasai operasi-operasi berpikir konkret tidak
akan bisa belajar banyak dari kuliah-kuliah yang isinya abstrak.
Kaum Skinnerian meragukan validitas tahapan umum
seperti ini, dimana cara berfikir atau bertindak yang berbeda-beda seolah
berjenjang-jenjang, sebenarnya lingkunganlah yang membentuk tingkah laku dengan
cara bertahap dan berkelanjutan tersebut (skinner, 1953,h.91; Bijou,1976, h.2).
Namun begitu, Skinner juga menekankan kalau kita harus mempertimbangkan usia
anak disetiap eksperimen, sama seperti kita harus memperhatikan spesies hewan
dan karekeristik tingkah lakunya. Usia memberikan kontribusi bagi topografi
tingkah laku, membantu kita melukiskan tingkah laku yang ingin dibentuk atau
dipertahankan pelaku eksperimen. Namun informasi seperti ini pun masih bersifat
deskriptif.
Perbedaan ketiga yang memisahkan Skinner dari para
teori developmentalis justru adalah faktor yang paling penting dari semuanya,
yaitu terkait dengan sumber perubahan tingkah laku itu sendiri. Para
developmentalis yakin kalau di dalam kasus-kasus yang krusial, pikiran,
perasaan dan tindakan anak berkembang secara spontan dari dalam dirinya.
Tingkah laku tidak dipola secara eksklusif oleh lingkungan eksternal. Gesell
contohnya, percaya bahwa anak-anak berdiri, berjala, berbicara dan sebagainya
dari dorongan pematangan dari dalam. Piaget bukan penganut paham pendewasaan
seperti ini, namun dia juga sepakat daya-daya batin inilah yang melandasi
perubahan perkembangan. Di matanya, tingkah laku anak tidak distrukturkan oleh
lingkungan, melainkan oleh anak-anak itu sendiri. Anak-anak, diluar
ketertarikan spontan mereka kepada peristiwa-peristiwa yang relatif baru,
membangun struktur-struktur yang semakin kompleks dan terbedakan untuk
menghadapi dunia ini.
Bayangkan, contohnya seorang bayi perempuan yang
menjatuhkan sebuah kotak dan mendengarkan bunyinya, lalu menjatuhkan kotak itu
lagi dan lagi, membuat bunyi baru dan menarik itu bertahan lama. Di dalam teori
Skinner, bunyi adalah penguat yang mengontrol tingkah lakunya. Meskipun begitu,
penguat ini akan segera kehilangan efektivitasnya, karena dia akan segera
menjadi tertarik pada hasil yang lebih kompleks. Dia bisa saja sebagai contoh
mendengarkan bunyi-bunyi yang berbeda saat dia menjatuhkan objek dari
ketinggian yang berbeda-beda. Namun, sebaliknya bagi Piaget, kita tidak bisa
melihat penguatan eksternal menjadi penentu tingkah laku ini, karena penguatan
tersebut sering kali beragam sesuai minat anak yang berkembang. Bagi dia,
variable utamanya adalah keingintahuan spontan anak yang semakin kompleks
tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di hadapannya.
Dengan demikian, para teorisi perkembangan
berusaha mengkonseptualisasikan cara anak tumbuh dan belajar dengan caranya
sendiri, sesuatu yang independen dari pengajaran orang dewasa atau penguatan
eksternal lainnya. Namun begitu, disaat yang sama tak seorang pun dapat menolak kalau lingkungan juga
turut memperkuat dan mengontrol tingkah laku anak di tataran yang bisa dilihat
dari luar, dan seringkali sesuai dengan cara-cara Skinner melukiskannya. Lebih
jauh lagi, teori dan penelitian Skinner memiliki kelugasan yang jernih dan
elegan sehingga orang lain bisa langsung tertantang untuk menyainginya. Sangat
jelas, kalau begitu jika kontribusi Skinner yang luar biasa bagi metode dan
teori ilmiah ini akan menjadi sebuah kontribusi yang bisa bertahan lama.
BAB III
SIMPULAN
A.
Simpulan
Teori belajar menurut B.F
Skinner yaitu Operant Conditioning merupakan
suatu bentuk belajar yang mana kehadiran respon berulang-ulang dikendalikan
oleh konsekuensinya, dimana individu cenderung mengulang-ulang respon yang
diikuti oleh konsekuensi yang menyenangkan. Adanya hukuman dan hadiah yang
diberikan akan membuat individu lebih mudah untuk belajar.
Menurut
Skinner unsur yang terpenting dalam belajar adalah adanya penguatan (reinforcement)
dan hukuman (punishment). Penguatan (reinforcement)
adalah konsekuensi yang meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akan
terjadi. Sebaliknya, hukuman (punishment) adalah konsekuensi yang
menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku.
DAFTAR PUSTAKA
Feist, Jess dan Gregory J. Feist. 2013. Teori
Kepribadian. (Alih Bahasa: Smita Prathita Sjahputri). Jakarta: Salemba
Humanika.
Crain, Willian. 2007. Teori Perkembangan. Ed. 3. (Alih Bahasa:
Yudi Santoso). Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Laurence, dkk. 2010. Psikologi
kepribadian. (Alih Bahasa: A. K. Anwar). Jakarta: Kencana
Samawa, Nadi. 2012. Teori Conditioning Operat B. F. Skinner. Diunduh
tanggal 9 Oktober 2015, dari http://nadisamawa.blogspot.com.