BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Angket
yang sering juga disebut kuesioner umumnya merupakan daftar pertanyaan yang
diberikan kepada sejumlah sampel untuk diisi. Tujuan dari penggunaan metode ini
adalah untuk memperoleh informasi mengenai fakta, pendapat, atau sikap dari
responden. Pengisian angket tersebut dapat dilakukan di bawah pengawasan
peneliti atau melalui jasa orang lain.
Angket
akan sangat efektif apabila responden memiliki kemampuan dan pemahaman yang
signifikan dan sesuai dengan informasi yang diperlukan oleh peneliti. Apabila
responden kurang memahami permasalahan yang terdapat di dalam angket, maka
angket akan diisi apa adanya, bahkan mungkin asal-asalan. Dengan demikian
angket tersebut akan menghasilkan data yang valid dan reliable.
Keuntungan
dari metode angket atau kuesioner, di antaranya: apabila tidak dituntut
mencantumkan nama, maka responden dapat mengisi angket tersebut secara bebas
dan jujur. Sementara beberapa kelemahannya, adalah: validitas dan reliabilitas
angket seringkali sulit untuk diuji, jumlah angket yang dikembalikan oleh
responden selain tidak bersamaan juga sangat rendah (60%-70%) angket yang sudah
diisi dikembalikan sudah sangat bagus), kadang-kadang responden sering
memberikan jawaban yang tidak jujur meskipun angket tersebut tidak diberi nama.
Beberapa
petunjuk yang perlu diperhatikan dalam pembuatan angket di antaranya, peneliti
hendaknya memiliki gambaran yang jelas mengenai permasalahan yang akan
diselidiki, tujuan penelitian, serta sasaran dan sifat data yang diperlukan.
Jika penelitian ini hanya bertujuan ingin memberikan gambaran (deskripsi), maka
peneliti harus memiliki gambaran yang tajam dan komprehensif tentang
permasalahannya tersebut.
Agar
diperoleh hasil yang representatif maka setiap pertanyaan pada angket
diujicobakan dulu kepada sejumlah sampel dari populasi target (sasaran). Hal
tersebut sangat penting untuk mengetahui tentang pertanyaan mana yang dianggap
sulit untuk dijawab sehingga jawaban responden kebanyakan “tidak tahu” atau
banyak menimbulkan banyak penafsiran sehingga jawaban responden antara satu
dengan yang lainnya jauh dari yang dimaksud peneliti.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian angket?
2. Apa fungsi dan tujuan angket?
3. Apa manfaat angket?
4. Sebutkan jenis-jenis angket!
5. Bagaimana cara merancang angket?
6. Berikanlah contoh angket!
C. Tujuan Penulisan
Dalam Bimbingan dan Konseling
sangatlah perlu dalam mengumpulkan informasi karena selain tugas utama dari
Bimbingan dan Konseling itu sendiri adalah memberikan layanan informasi,
informasi yang dibutuhkan juga diperlukan dalam rangka memudahkan pengambilan
keputusan suatu masalah di masa yang akan datang. Angket adalah satu dari
sekian banyak instrumen yang digunakan dalam mengumpulkan informasi, selain
mudah, instrumen ini juga efektif karena waktu yang dipergunakan dapat kita
tentukan sendiri.
Tujuan yang ingin di capai dalam
penulisan makalah ini adalah antara lain:
1.
Untuk
mengetahui dan memahami tentang pengertian dari angket sebagai salah satu
instrumen konseling dalam proses pengumpulan data.
2.
Untuk
mengetahui manfaat apa saja yang diperoleh dalam pengunaan angket.
3.
Untuk
mengetahui jenis angket, dancara merancang angket.
4.
Sebagai
bahan pembelajaran, agar dapat membantu dalam proses belajar teman-teman
mahasiswa saat perkuliahan.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Angket
Angket
merupakan salah satu alat pengumpul data dalam asesmen nontes, berupa
serangkaian pertanyaan atau pernyataan yang diajukan pada responden (peserta
didik, orang tua, atau masyarakat). Winkel mendefinisikan angket sebagai suatu
daftar atau kumpulan pertanyaan tertulis yang harus dijawab secara tertulis
juga (Winkel, 1987:271). Angket merupakan teknik pengumpulan data yang
dilakukan dengan mengadakan komunikasi dengan sumber data (I. Djumhur, 1985).
Angket dikenal juga dengan sebutan kuesioner.
Kuesioner
atau angket merupakan teknik pengumpulan data yang tidak memerlukan kedatangan
langsung dari sumber data (Dewa Ktut Sukardi, 1983). Kuesioner adalah suatu
daftar yang berisi pertanyaan yang harus dijawab atau dikerjakan oleh
orang/anak yang ingin diselidiki atau responden ( Bimo Walgito, 1987).
Dari
beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan pengertian angket adalah suatu
alat pengumpul data yang berupa serangkaian pertanyaan tertulis yang diajukan
kepada subyek untuk mendapatkan jawaban secara tertulis juga.
Alat
asesmen ini secara garis besar terdiri dari tiga bagian, yaitu: (1) Judul
angket, (2) Pengantar yang berisi tujuan dan petunjuk pengisian angket, dan (3)
Item-item pertanyaan, bisa juga opini atau pendapat, dan fakta. Sementara,
bagian identitas pengisiannya tergantung pada tujuan angket, karena
kadang-kadang indentitas tidak diperlukan.
Angket
disusun dengan tujuan untuk menghimpun sejumlah informasi yang relevan dengan
keperluan bimbingan dan konseling, seperti identitas pribadi peserta didik,
keterangan tentang keluarga, riwayat kesehatan, riwayat pendidikan, kebiasaan
belajar di rumah, hobi atau informasi lainnya. Data yang diperoleh, berfungsi
untuk: (1) mengumpulkan informasi sebagai bahan dasar dalam rangka penyusunan
program, (2) untuk menjamin validitas informasi yang diperoleh dengan metode
lain, (3) evaluasi program BK, dan (4) untuk mengambil sampling sikap/pendapat
dari responden.
B. Jenis-jenis Angket
Angket dapat dibedakan berdasarkan
tiga jenis, yaitu: 1) berdasarkan bentuk pertanyaan atau pernyataan, 2)
berdasarkan respondennya (sumber data), dan 3) dilihat berdasarkan strukturnya.
Masing-masing bentuk akan dijelaskan berikut ini.
1.
Berdasarkan
bentuk pertanyaan atau pernyataan:
a.
Angket
terbuka (open questionaire),
merupakan bentuk angket yang pertanyaan atau pernyataannya memberi kebebasan
kepada responden untuk memberikan jawaban dan pendapatnya sesuai dengan
keinginan mereka.
Contoh:
1. Apakah anda
memiliki kebiasaan belajar setiap hari di rumah? Jelaskan alasannya!
2. Berapa lama
biasanya anda belajar di rumah?
3. Apakah
waktu tersebut anda rasa cukup? Mengapa?
b.
Angket
tertutup (closed questionaire),
adalah angket yang pertanyaan atau pernyataannya tidak memberi kebebasan kepada
responden untuk menjawabnya sesuai pendapat dan keinginan mereka.
Contoh:
1. Apakah anda
memiliki kebiasaan belajar setiap hari di rumah?
a.
Ya b.
Tidak
2. Berapa lama
biasanya anda belajar di rumah?
a. 1 jam b.
2 jam c. 3 jam
3. Apakah
waktu tersebut anda rasa cukup?
a. Ya b.
Tidak
c.
Angket
semi terbuka (semi open questionaire),
yaitu bentuk angket yang pertanyaan atau pernyataannya berbentuk tertutup,
tetapi diikuti pertanyaan terbuka.
Contoh:
1. Apakah anda
memiliki kebiasaan belajar setiap hari di rumah?
a. Ya b.
Tidak
2. Jika Ya
maupun Tidak, Berikanlah Alasan Anda
.................................................................................................
3. Berapa lama
biasanya anda belajar di rumah?
a. 1 jam b.
2 jam c. 3 jam
4. Berikanlah
jawaban lain jika ada
.................................................................................................
5. Apakah
waktu tersebut anda rasa cukup?
a. Ya b.
Tidak
6. Mengapa?
.............................................................................................
2.
Dilihat
dari sumber datanya, angket dapat dibedakan:
a.
Angket
langsung, yaitu bila angket itu langsung diberikan kepada responden yang ingin
diselidiki. Jawaban diperoleh dari sumber pertama tanpa menggunakan perantara.
b.
Angket
tidak langsung, yaitu bila angket itu disampaikan kepada orang lain yang
diminta pendapat tentang pendapat atau keadaan orang lain. Jawaban angket itu
diperoleh dengan melalui perantara, sehingga jawabannya tidak dari sumber
pertama.
3.
Dilihat
dari strukturnya, angket dapat dibedakan menjadi:
a.
Angket
berstruktur, yaitu angket yang bersifat tegas, konkret dengan pertanyaan atau
pernyataan yang terbatas dan menghendaki jawaban yang tegas dan terbatas pula.
b.
Angket
tak berstruktur, dipergunakan apabila konselor menginginkan uraian lengkap dari
subjek tentang sesuatu hal, di mana diminta uraian yang terbuka dan panjang
lebar. Disampaikan dengan mengajukan pertanyaan bebas.
Apapun jenis angket yang akan
digunakan oleh konselor, maka perlu memperhatikan beberapa hal di bawah ini :
1.
Angket
dipergunakan dalam keadaan atau situasi yang setepat-tepatnya. Misalnya bila
kekurangan waktu, sasaran banyak/luas, maka dalam situasi demikian akan tepat
apabila konselor menggunakan angket.
2.
Terlebih
dahulu rumuskan tujuan angket itu, baik tujuan umum maupun tujuan khusus.
Misalnya apakah yang dituju itu tentang latar belakang sosial peserta didik.
Tujuan itu akan menentukan pertanyaan-pertanyaan yang akan disusun, dengan kata
lain, tanpa adanya tujuan yang jelas, konselor akan sulit menyusun pertanyaan.
3.
Tentukan
dan susunlah pertanyaan-pertanyaan itu dengan sebaik-baiknya. Banyak angket
yang kurang efektif karena kesalahan-kesalahan dalam pertanyaan.
4.
Perlu
mengelompokkan pertanyaan berdasarkan aspek-aspek yang telah ditentukan.
5.
Bila
telah tersusun, perlu dilakukan uji coba untuk memeriksa kemungkinan adanya
pertanyaan-pertanyaan yang perlu diperbaiki, sehingga diharapkan akan mendapat
angket yang baik.
C. Fungsi dan Tujuan Angket
1.
Angket
berfungsi untuk :
a. Mengumpulkan informasi sebagai bahan dasar dalam
rangka penyusunan program.
b. Untuk menjamin validitas informasi yang diperoleh
dengan metode lain.
c. Evaluasi program BK.
d. Untuk mengambil sampling sikap atau pendapat dari
responden.
2.
Tujuan
angket adalah :
a. Pada umumnya tujuan penggunaan angket atau kuesioner
dalam proses pembelajaran terutama adalah untuk memperoleh data mengenai latar
belakang peserta didik sebagai salah satu bahan dalam menganalisis tingkah laku
dan proses belajar mereka.
b. Untuk menghimpun sejumlah informasi yang relevan
dengan keperluan bimbingan dan konseling, seperti identitas pribadi peserta
didik, keterangan tentang
keluarga, riwayat kesehatan, riwayat pendidikan, kebiasaan belajar dirumah. Hobi atau informasi lainnya.
c. Jika konselor memilih angket sebagai alat asesmen,
maka penentuan responden perlu mendapat perhatian, sebab bila salah, maka
informasi yang dibutuhkan dapat saja diperoleh secara tidak maksimal.
D.
Petunjuk Penyusunan Pertanyaan dalam Angket
Pembuatan
angket tentunya memerlukan petunjuk dalam menyusun pertanyaan yang akan
diajukan kepada konseli atau klien. Berikut adalah petunjuk penyusunan
pertanyaan dalam angket:
1.
Menggunakan
kata-kata yang tidak mengandung arti rangkap.
2.
Susunan
kalimat hendaknya sederhana tapi jelas.
3.
Menghindari
pemakaian kata yang tidak ada gunanya.
4.
Menghindarkan
pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu.
5.
Mencantumkan
kemungkinan jawaban sebanyak mungkin supaya subyek mempunyai kemungkinan
pilihan yang bebas.
6.
Pertanyaan
hendaknya disesuaikan dengan kemampuan dan responden sehingga dapat dijawab
dengan baik.
7.
Hindarkan
kata-kata yang bersifat sugestif dan juga kata yang bersifat negatif.
8.
Pertanyaan
jangan bersifat memaksa untuk dijawab.
9.
Bentuk
berstruktur lebih baik dari pada bentuk terbuka.
10. Pertanyaan jangan membuat responden berpikir terlalu
berat.
11. Pergunakan kata-kata yang netral, tidak menyinggung
perasaan dan harga diri.
E. Kelebihan dan Kelemahan Angket
Setiap
metode pengumpulan data pastinya memiliki kelebihan dan kelemahannya
masing-masing. Contoh jika menggunakan metode wawancara kelebihannya: metode
yang paling efektif untuk mengungkap kepribadian asli dari konseli karena
dengan metode wawancara dilakukan dengan bertatap wajah secara langsung.
Kekurangan
dari metode wawancara adalah kurang efisien karena tidak hemat waktu dan
dibutuhkan kesediaan dari narasumber yang akan diwawancara. Sekarang mari bahas
kelebihan dan kekurangan angket berikut penjelasannya.
1.
Kelebihan
angket
a. Angket merupakan metode yang praktis karena dapat
dipergunakan untuk mengumpulkan data kepada sejumlah responden dalam jumlah
yang banyak dan waktu yang singkat.
b. Merupakan metode yang ekonomis, dari segi tenaga yang
dibutuhkan, antara lain tidak memerlukan kehadiran konselor.
c. Setiap responden menerima sejumlah pertanyaan yang
sama.
d. Pada angket tertutup, memudahkan tabulasi hasil bagi
konselor.
e. Pada angket terbuka, responden mempunyai kebebasan
untuk memberikan keterangan.
f. Responden mempunyai waktu cukup untuk menjawab
pertanyaan.
g. Pengaruh subjektif dapat dihindarkan.
h. Pengisian angket dapat dibuat anonim, sehingga responden
bebas, jujur, dan tidak malu-malu menjawab.
2.
Kelemahan
penggunaan angket
a.
Responden
sering tidak teliti dalam menjawab sehingga ada pertanyaan yang terlewati tidak
dijawab, padahal sukar diulangi untuk diberikan kembali kepada reponden.
b.
Sulit
untuk mendapat jaminan bahwa responden akan memberikan jawaban yang tepat.
c.
Penggunaannya
terbatas hanya pada responden yang bisa membaca dan menulis.
d.
Pertanyaan
atau pernyataan dalam angket dapat saja ditafsirkan salah oleh responden.
e.
Sulit
mendapatkan jaminan bahawa semua responden akan mengembalikan angket yang
diberikan.
F. Langkah
Pengadministrasian
Pengadministrasian
penggunaan angket dalam bimbingan dan konseling, memiliki beberapa tahapan yang
perlu dilakukan agar hasil asesmen mendapatkan data dengan tingkat akurasi
baik. Tahapan yang harus dilakukan meliputi persiapan, pelaksanaan, dan
pengolahan serta analisis hasil.
1.
Persiapan
a.
Menentukan
kelompok responden yang akan diukur, apakah peserta didik, orang tua, atau
masyarakat umum.
b.
Mempersiapkan
angket sesuai tujuan.
c.
Membuat
satuan layanan asesmen.
2.
Pelaksanaan
a.
Memberikan
verbal setting (menjelaskan tujuan, manfaat, dan kerahasiaan data).
b.
Membagikan
angket.
c.
Menjelaskan
kapan waktu pengisian angket, apakah saat itu juga atau dapat diisi di rumah.
d.
Mengumpulkan
kembali angket setelah selesai diisi.
3.
Pengolahan
dan analisis hasil
a.
Memeriksa
kelengkapan hasil angket.
b.
Membuat
tabulasi hasil dan melakukan analisis.
a.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1.
Angket
merupakan salah satu alat asesmen nontes berupa serangkaian pertanyaan atau
pernyataan yang diajukan kepada responden (peserta didik, orang tua, atau
masyarakat).
2.
Angket
dapat dibedakan berdasarkan tiga jenis, yaitu: berdasarkan bentuk pertanyaan
atau pernyataan, berdasarkan respondennya (sumber data), dan berdasarkan
strukturnya.
3.
Kelebihan-kelebihan
yang dimiliki angket, antara lain praktis, ekonomis, memudahkan tabulasi pada
angket tertutup, dan mendapatkan jawaban yang luas pada angket terbuka.
4.
Kelemahan
angket di antaranya responden sering tidak teliti dalam menjawab sehingga ada
pertanyaan yang terlewati tidak dijawab, sulit untuk mendapat jaminan bahwa
responden akan memberikan jawaban yang tepat.
B. Saran
Sebaiknya
dalam pengunaan angket sang pembuat angket melakukan uji coba terlebih dahulu
agar hasil yang di inginkan dapat maksimal. Terlebih lagi sang pembuat angket
juga harus memperhatikan tempat dimana akan melakukan pengumpulan informasi
dengan menggunakan angket, dan tidak kalah pentingnya, para responden juga
harus diperhatikan, jangan sampai memilih responden yang terlihat main-main
dalam pengisian angket yang telah dibuat.
DAFTAR
PUSTAKA
Komalasari, Gantina, dkk. 2011. Asesmen Teknik Nontes dalam Perspektif BK Komprehensif. Jakarta: PT Indeks.
Surtano, Nono. http://file.upi.edu/ Direktori/FPMIPA /
JUR ._PEND ._ BIOLOGI /194808181974121-NONO_SUTARNO/MODUL_5B.pdf/,
diunduh 12 Maret 2015 pukul
14.20 WIB.
diunduh 12 Maret 2015 pukul 14.30 WIB.
LAMPIRAN
ANGKET
MINAT BELAJAR IPA
Petunjuk :
1.
Perhatikan
dan cermati setiap pernyataan sebelum memilih jawaban.
2.
Gunakan
kejujuranmu dan jangan terpengaruh oleh jawaban teman.
3.
Berilah
tanda centang (Ö) pada salah satu kolom pilihan jawaban yang tersedia:
Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS), Sangat Tidak Setuju (STS).
NO.
|
Pernyataan
|
Pilihan Jawaban
|
|||
SS
|
S
|
TS
|
STS
|
||
1.
|
Saya sudah belajar IPA pada malahari sebelum pelajaran esok hari.
|
|
|
|
|
2.
|
Saya sampai di sekolah sebelum 06.30
|
|
|
|
|
3.
|
Saya sudah mempersiapkan buku pelajaran IPA ketika guru memasuki kelas.
|
|
|
|
|
4.
|
IPA adalah pelajaran yang menarik.
|
|
|
|
|
5.
|
Saya cenderung pasif ketika diskusi kelompok.
|
|
|
|
|
6.
|
Saya suka bercanda ketika jam pelajaran berlangsung.
|
|
|
|
|
7.
|
Saya mengerjakan soal dengan cepat dan sering tidak teliti.
|
|
|
|
|
8.
|
Saya akan meminta guru untuk memperingatkan anak-anak yang membuat
keributan di luar kelas saat pelajaran berlangsung.
|
|
|
|
|
9.
|
Saya tetap memperhatikan penjelasan guru meskipun saya duduk di bangku
paling belakang.
|
|
|
|
|
10.
|
Saya tidak menghiraukan anak-anak yang beralalu-lalang di luar kelas.
|
|
|
|
|
11.
|
Saya belajar IPA ketika akan menghadapi ulangan.
|
|
|
|
|
12.
|
Saya tidak peduli pada kesukaran pelajaran IPA.
|
|
|
|
|
13.
|
Saya belajar IPA jika disuruh orang tua.
|
|
|
|
|
14.
|
Saya menggunakan alat-alat peraga yang bisa membantu saya belajar IPA
dengan mudah.
|
|
|
|
|
15.
|
Saya senang bermain tebak-tebakan sifat cahaya bersama teman.
|
|
|
|
|
16.
|
Saya kebingungan ketika belajar IPA.
|
|
|
|
|
17.
|
Saya masih sibuk mencari buku pelajaran ketika guru mulai menyampaikan
materi.
|
|
|
|
|
18.
|
IPA merupakan pelajaran yang sukar dipahami.
|
|
|
|
|
19.
|
Saya memperhatikan penjelasan guru tentang materi IPA.
|
|
|
|
|
20.
|
Saya suka menyapa anak-anak yang berlalu-lalang di luar kelas.
|
|
|
|
|
21.
|
Saya mengulangi pelajaran IPA setelah pulang dari sekolah.
|
|
|
|
|
22.
|
Saya tidak malu untuk bertanya kepada Guru apabila saya mengalami
kesulitan memahami.
|
|
|
|
|
23.
|
Saya menyisihkan waktu 3 jam untuk mengerjakan latihan soal di rumah.
|
|
|
|
|
24.
|
Saya mengikuti bimbingan/les pelajaran dengan rutin.
|
|
|
|
|
25.
|
Saya senang menggunakan alat-alat peraga untuk bermain bukan untuk
belajar.
|
|
|
|
|
Jumlah
|
|
|
|
|
|
Skor Total
|
|
|
|
|